
Seperti biasanya, Maira menyiapkan baju untuk Fardhan pakai setelah mandi. Maira meletakkan baju itu diatas kasur dan ia sendiri langsung turun ke bawah berniat membawakan air minum untuk suaminya.
Fardhan keluar dari kamar mandi tersenyum sumringah, rupanya kebiasaan istrinya kini kembali lagi. Tapi Fardhan tidak menemukan istrinya di kamar, ia pun bertanya tanya. Selang beberapa menit kemudian Maira kembali kedalam kamar dengan membawa secangkir teh hangat dan segelas air mineral.
" teh hangatnya mas " kata Maira seraya menyodorkan secangkir teh
" terima kasih " jawab Fardhan
Fardhan mengambil teh yang dibawakan oleh Maira dan langsung meminumnya. Maira duduk di sofa sambil memegang ponselnya, mengecek beberapa laporan yang di kirimkan oleh Aisyah dan Diki.
" lagi apa sih ? kayaknya lagi serius nih " kata Fardhan
" gak apa apa kok, cuman lagi cek sosmed aja. kenapa emang ?" tanya Maira
" mau tanya boleh ? " tanya Fardhan
" boleh, tanya aja. Kalau bisa aku akan jawab " jawab Maira
" hmmmm " Fardhan merasa ragu untuk bertanya
" apa sih mas ? langsung aja tanyain gak usah di pendem kayak gitu " kata Maira
" hmmm, mas mau tanya selama beberapa minggu kemarin kamu dimana yang ?" tanya Fardhan segan
" ada, gak jauh dari sini kok. Ada apa memangnya ?" tanya Maira dengan raut wajah biasa saja
" ya, selama itu aku cari kamu. Eh, tapi kok bisa sih aku gak nemuin kamu kalau deket deket sini ?" tanya Fardhan
" aku gak keluar dari rumah " jawab Maira
" pantes kalau begitu " kata fardhan sambil mengangguk anggukkan kepalanya
Obrolan keduanya terpotong ketika dering ponsel Fardhan berbunyi. Panggilan itu tidak langsung diangkat oleh Fardhan, karena ia merasa panggilan itu dari orang yang tidak penting.
" dari siapa mas ? kok gak diangkat ?" tanya Maira
" dari orang gak penting " jawab Fardhan sekenanya
" belum di angkat kok udah bilang gak penting " kata Maira pelan
" kan dari nomornya aku udah tahu sayang " kata Fardhan meyakinkan
Awalnya panggilan itu tidak di angkat oleh Fardhan, tapi lama kelamaan panggilan itu terus saja mengganggu Fardhan hingga memaksa Fardhan mengangkat panggilan telfonnya.
" aku angkat dulu ya " kata Fardhan sambil keluar menuju balkon kamar
Fardhan pun mengangkat panggilan telfon itu dengan terpaksa.
π " hallo, ada apa ?" tanya Fardhan
π " kok kamu gitu sih Dhan ?" kata si penelfon
π " mau apa kamu menelfonku ?" tanya Fardhan
π " aku mau ngajakin kamu dinner malam ini sama mama kamu juga " ucapnya dengan nada yang dibuat buat
π " aku gak bisa " kata Fardhan
π " sorry ya, mqu kamu ada disini juga aku gak peduli. Dari awal juga aku tidak pe4nah mengharapkan kedatanganmu, lalu untuk apa sekarang aku harus pusing pusing menemanimu ! memangnya siapa kamu ? istri bukan, adik bukan, saudara juga bukan ! ingat, status kamu itu hanya mantan pacarku dulu " kata Fardhan panjang lebar dan menekankan kata mantan pacar
Ya, yang menelfon Fardhan saat ini adalah mantan pacar dari Fardhan yaitu Kirana. Ia terus saja berusaha menggoda Fardhan agar mau kembali dekat dengannya seperti dulu, tapi Fardhan selalu saja menghindari dan menolaknya.
π " kamu jahat Dhan, kamu berubah " kata Kirana
π " dua hal yang harus kamu tahu. Pertama, aku tidak mau bahkan tidak akan pernah mau kembali bersamamu. Yang kedua, sikapku jadi begini juga karena kamu. Jadi jangan pernah menghubungiku lagi dan mengusik kehidupanku, atau kamu akan tahu akibatnya nanti " kata Fardhan dengan nada penuh ancaman
π " tega kamu Dhan ! Apa semua ini karena istrimu yang mandul itu ?" tanya Kirana penuh ejekan
π " ini semua tidak ada hubungannya dengan Maira istriku. Jadi sebaiknya kamu pergi dari rumahku dan kembali pada orang tuamu, sebelum aku habis kesabaran " kata Fardhan lalu memutuskan panggilan telfonnya secara sepihak
Fardhan terdiam setelah ia memutuskan panggilan telfonnya. Ia tidak menyadari sepasang mata yang terus memperhatikannya sedari tadi, ia juga mendengar sendiri percakapan tadi.
" siapa yang telfon mas ?" tanya Maira membuat Fardhan kaget
" bukan siapa siapa. masuk yuk " kata Fardhan tergugup
" aku tahu dia Kirana mantan pacarmu kan ? " kata Maira langsung membuat langkah Fardhan terhenti
" dari mana kamu tahu ?" tanya Fardhan kaget
" aku tahu, dia wanita yang dulu kamu cintai sebelum aku hadir " jawab Maira santai
" yah, memang dia mantanku. Beberapa hari yang lalu dia datang bersama mama kemari, tapi aku tidak suka. Dia selalu saja menggangguku, dia juga selalu mendekatiku " kata Fardhan pelan
" aku juga tahu, toh dia datang dengan mama kamu mas. Mama kamu mau membuat kalian bersatu kembali, harapannya selain dia juga suka sama mantan pacar kamu itu dia juga berpeluang untuk memberikanmu anak " kata Maira
" dari mana kamu tahu itu semua ? " tanya Fardhan penuh selidik
" aku bukan wanita bodoh mas ! aku sarankan sama kamu mas, kalau kamu mau hidupmu tenang jangan pernah layani dia atau kamu akan menyesal setelah kamu tahu semuanya. Dia bukan wanira baik baik mas. Kalaupun mas mau menikah kembali aku siap kok dimadu, tapi asalkan calon wanitanya bukan mantan pacar kamu itu. Dia penuh dengan tipuan, mama kamu saja sampai tidak bisa mengenali siapa dia sebenarnya " kata Maira
" apa sih maksud kamu Mai ? mas gak akan mau nikah lagi, mas mau menikah cuman sekali seumur hidup ! Dan masalah anak, mas gak pernah nuntut buat punya anak walaupun memang mas juga menginginkannya. Kalaupun kita tidak diberikan keturunan, kita bisa mengadopsi anak dari panti. Jadi mas mohon jangan bicarakan lagi soal nikah lagi, jujur mas gak suka " tegas Fardhan
" tapi kamu butuh keturunan mas untuk penerusmu. Disini aku tidak bisa egois, aku cukup sadar diri kok kalau kamu mau nikah lagi. Aku sadar, aku gak bisa kasih kamu keturunan. Bahkan mungkin sampai kapanpun aku tidak akan bisa memberimu anak, makanya aku akan mengizinkanmu untuk menikah lagi " kata Maira dengan nada sendu
" sudahlah, aku paling malas kalau harus berdebat seperti ini terus. Yang ada ujungnya kita tidak menemukan solusi, malah pertengkaran yang sudah pasti terjadi " kata Fardhan
Keduanya duduk bersebelahan dan merenung dalam diam. Ya, memang tidak ada yang bisa Maira harapkan saat ini. Bukan hanya harapan untuk mengandung saja, tapi saat ino harapan hidupnya pun sedang ia pertaruhkan.
.
.
.
.
.
TBC
Happy readingπ