
ya Allah, aku merindukan suamiku...
aku merindukannya, selalu merindukannya. aku merindukan senyumannya, sapaannya yang manis dan selalu menggodaku hingga membuatku tersipu malu.
Andai kamu tahu mas, semua ini aku lakukan juga untuk kebaikanmu dan keluargaku. Biarlah aku yang menanggungnya, melihat kalian sehat, tentram damai dan bahagia itu sangatlah cukup bagiku. Kalian adalah pusat kebahagiaanku, saat ini.
maafkan aku yang harus tiba tiba meninggalkanmu dan keluargaku, sungguh tak ada niat aku menyakiti kalian. Hanya saja keadaan yang memaksaku untuk melakukannya, dan aku juga tidak punya pilihan.
maafkan aku
rintih batin Maira
" Mai, ruangannya masih jauh gak ?" tanya Zahra
" tidak Ra, ruangan ini " jawab Maira dengan pandangan kosong
Maira berhenti sejenak sambil menghela nafas pelan, ia mencoba meyakinkan hati. Ada terbesit rasa ragu dan takut saat bertemu dengan Azka, tapi ia juga ingin melihat kondisi mamanya yang masih belum ia temui semenjak penculikan itu.
Perlahan tangan Maira terulur memegang handle pintu dan membukanya. Satu objek yang menjadi fokus penglihatan Maira, dan hal itu membuatnya terdiam mematung.
" mama " gumam Maira
Ia tak menyadari Azka yang memandangnya dengan penuh tanya, sejak pintu terbuka Azka melihat Maira yang mematung terdiam m3mandang sendu pada mamanya. Banyak pertanyaan yang bersarang didalam benak Azka.
" biarkan saja dulu bang, nanti aku akan bantu menjelaskannya " kata Zahra yang mengerti arti pandangan Azka
" kamu siapa ?" tanya Azka
" ah iya, abang pasti lupa. Aku Zahra, teman kecil Maira dulu dan ini Diki temanku. Diki yang membantu Maira dan Zahra, sampai dia rela menjaga kami dan mengantar kami kesini " jawab Zahra
" Zahra ? Bukannya Zahra pindah keluar kota bersama orang tuanya ? " tanya Azka kaget sekaligus heran
" iya, ini Rara abang. Rara memang tinggal dikota ini " ja2ab Zahra dengan seulas senyum
" bang, ini Diki ! dia yang bantu kami dan menjaga kami " kata Zahra
" Diki, salam kenal " kata Diki memperkenalkan diri
" oh iya, maaf abang lupa ! silahkan duduk " kata Azka
Zahra dan Diki duduk di sofa yang ada. Sedangkan Maira, ia masih terisak melihat kondisi mamanya yang mengkhawatirkan.
" mama masih helum sadar, sejak ditemukan kondisi mama sudah kritis. Ada benturan keras di kepalanya hingga mengharuskan mama untuk segera di operasi, berdoalah supaya mama cepat sadar dan sehat kembali seperti sedia kala. " kata Azka sambil mengusap bahu Maira yang bergetar karena tangis
" ini semua gara gara aku, aku yang bersalah. Aku yang jadi penyebab mama seperti ini, aku yang salah bang aku yang salah " kata Maira yang terus menyalahkan dirinya sendiri
" ini semua sudah takdirnya mama yang harus seperti ini dek, jangan kamu menyalahkan dirimu sendiri " kata Azka mencoba menenangkan Maira
" sudah Mai, apa yang dikatakan abang itu benar. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri, sekarang kita duduk dulu ya tenangkan dirimu. Yang mama butuhkan sekarang adalah doa darimu juga Mai, jangan begini ! " kata Zahra mencoba memapah Maira menuju sofa
Azka melihat Maira yang terpukul dengan dondisi mamanya pun merasa tak tega. Maira yang selama ini ia kenal adalah sosok yang tegar. Tapi semua itu tak nampak sekarang, dari sorot matanya menyiratkan benan berat yang sedang ia pikul. Sebenarnya Azka penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya hingga Maira ada di kota ini, kondisinya juga seperti itu. Saat Azka mengusap bahu Maira tadi, ia merasakan tubuh Maira yang berubah dan ia meyakini adiknya kini menjadi kurus, terlihat dari pipinya yang tirus.
" Sebenarnya Mai juga tidak mau bang, Mai tidak mau seperti ini. Tapi keadaan yang memaksa Mai harus jauh dari semua, maafkan Mai " jawab Maira yang masih terisak pilu didalam dekapan Zahra
" sudah bang, nanti Zahra yang jelaskan. Kasihan Maira " kata Zahra membuat Azka mengangguk mengiyakan
*****
Fardhan sedang duduk di kursi kebesarannya, ya saat ini ia sudah sampai di kantornya. Setelah pertemuannya tadi dengan Maira di rumah sakit, kini ia enggan untuk bicara. Emosi masih menyelimuti jiwanya, ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Sebenarnya hatinya begitu sakit saat ia mengucapkan kalimat yang begitu tajam menghunus hati Maira. Tapi saat itu memang ia tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri, karena rasa lelah dan banyak beban yang ia fikirkan membuat emosinya meledak ledak.
tok tok tok
" masuk " sahut Fardhan
" maaf tuan, saya mau mengingatkan nanti setelah jam makan siang kita ada pertemuan dengan klien dari kota P untuk membahas kerja sama kita " kata Shandy
" kau saja yang gantikan, jika tidak bisa batalkan semua schedule hari ini, fikiranku sedang kacau. Dan atur ulang schedule hari ini untuk besok " jawab Fardhan
" siap tuan " jawab Shandy
Shandy pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Fardhan. Ia bisa melihat betapa kacaunya Fardhan sekarang. Semenjak Maira pergi dari rumah, Fardhan tidak mengiraukan penampilannya lagi bahkan untuk makan saja ia selalu di ingatkan oleh Shandy.
Tapi semua rasa penasarannya ia anggap sudah terlunaskan dengan melihat Maira di rumah sakit bersama seorang pria. Kini ia jadi tahu alasan Maira pergi meninggalkannya. Fardhan masih berharap ini adalah mimpi baginya, ia harap bisa segera bangun dari mimpi buruknya.
*****
" bang, Rara mau bicara. Bisa kita keluar sebentar ? ada yang harus Zahra katakan " tanya Zahra
" iya " jawab Azka mengikuti langkan Zahra
" katakanlah " kata Azka
" sebenarnya Maira menyuruhku tidak memberi tahu siapapun tentang ini semua. Tapi aku tidak sanggup melihatnya terus seperti itu bang " kata Zahra dengan suara yang mulai bergetar
"memangnya ada apa ? jelaskan semuanya " kata Azka menatap Zahra dengan intens
" tapi abang janji jangan kasih tahu siapapun tentang apa yang aku katakan sekarang, karena ini terlalu berat bagi Maira " kata Zahra
.
.
.
.
.
TBC