
Fardhan menepuk nepuk pipi Maira berulang kali, tapi masih belum ada respon. Wajahnya terlihat pucat, beberapa bagian bajunya mengeluatkan noda darah. Ditambah lagi dengan bagian telapak kaki yang memang sudah terluka sejak tadi, tubuhnya juga kembali demam.
Fardhan khawatir dengan keadaan Maira, apalagi ia masih trauma melihat istrinya terbaring kritis di rumah sakit bahkan hampir kehilangan nyawanya. Fardhan langsung menggendong Maira kedalam mobil untuk membawanya ke rumah sakit dengan segera.
Sedangkan Shandy dan Azka keduanya masih belum bisa kemana mana, karena ban mobil yang dibawa Shandy tadi bannya kempes. Beruntung saja motor yang tadi dikendarai Fardhan tidak kempes, jadi Azka ikut saja bersama Shandy untuk segera pergi. Sedangkan untuk mobil itu Azka serahkan pada Ghaisan dan orang surihannya yang mengurus.
Shandy mengendarai motor itu dengan kencang, ia tak mau terlalu lama membiarkan sahabat sekaligus bosnya itu terlalu lama pergi sendiri disaat seperti ini. Jalanan yang berbelok tajam dan bertebing jurang itu Shandy lalui dengan mudah, bahkan ia mengendarai motor itu bak di sirkuit arena balap.
Walau Azka merasa ketakutan dengan aksi yang dilakukan oleh Shandy, tapi ia juga tahu jika Shandy tidak tenang jika membiarkan Fardhan dan Maira pergi sendiri tanpa pengawalan. Akhirnya Shandy bisa melihat mobil yang dikendarai oleh Fardhan berada tak jauh darinya. Shandy melajukan motornya mengikuti mobil yang dibawa Fardhan dari belakang setelah mengurangi kecepatannya.
" ini kita ke arah mana pak ?" tanya Shandy
" sepertinya rumah sakit, kita ikuti saja dari belakang " jawab Azka
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Fardhan sampailah di rumah sakit yang tidak terlalu besar, tapi untuk sementara Fardhan membawa Maira kesana dulu untuk mendapatkan pertolongan pertama. Fardhan langsung menggendong Maira masuk kedalam rumah sakit, diikuti oleh Azka dan Shandy dibelakang.
Setelah membiarkan Maira ditangani, kini tinggal Fardhan, Shandy dan Azka yang mendapatkan perawatan. Walaupun lukanya tidak terlalu berat tapi jika tidak segera diobati akan menjadi infeksi.
Akhirnya ketiganya juga mendapatkan perawatan untuk beberapa lukanya, diantara mereka bertiga luka Fardhanlah yang sedikit lebih parah dan serius. Bahkan ia harus mendapatkan empat jahitan dikening sebelah kirinya akibat luka robek yang dialaminya.
Saking khawatirnya dengan sang istri hingga Fardhan tidak memperdulikan lukanya sendiri, hal itu membuat Azka dan Shandy geleng geleng kepala.
" Selesai Dhan " kata Azka
" iya bang, oh iya bagaimana dengan maira ?" tanya Fardhan
" dokter masih menanganinya didalam, kita duduk dulu disana. Shandy baru saja membelikan makanan dan minum untuk kita " kata Azka
Azka dan Fardhan menunggu didepan ruangan UGD, tak lama kemudian pintu ruangan terbuka menampakkan seorang dokter perempuan yang tadi turut membawa Maira masuk kedalam.
" bagaimana keadaan istri saya dok ?" tanya Fardhan
" iya dok, bagaimana adik saya ?" tanya Azka menyambung
" sejauh ini baik baik saja, untuk saat ini kondisinya memang sedang drop. Untuk luka di punggung dan kakinya sudah kami bersihkan dan untuk sementara tidak boleh terkena air dulu supaya lukanya cepat mengering " jelas dokter
" sukurlah " ucap Azka dan Fardhan berbarengan
" oh iya dok, kami ingin memindahkan Maira ke rumah sakit xxxx agar kami tidak terlalu jauh untuk merawatnya " kata Fardhan
" oh, silahkan saja pak. Silahkan diurus saja prosedur pemindahannya " ucap dokter dengan ramah
" Fardhan kemana pak ?" tanya Shandy
" dia lagi ngurus kepindahan Maira ke rumah sakit yang biasa, jadi aku yang menunggu Maira disini sendiri " jawab Azka
Setelah selesia mengurus surat untuk kepindahan Maira, Fardhan kembali lagi menemui Azka. Dilihatnya juga Shandy sudah kembali dengan membawa beberapa makanan dan air mineral.
Karena merasa lapar, Fardhan juga ikut melahap makanan yang dibawakan oleh Shandy. Setelah selesai, ketiganya kini masuk kedalam ruangan dimana Maira masih terbaring lemah.
Beberapa saat kemudian, Maira telah siap untuk dipindahkan ke rumah sakit yang Fardhan tunjuk. Fardhan naik mobil Ambulance menemani Maira, sedangkan Azka membawa kembali mobilnya dan Shandy membawa motor.
Setelah perjalanan yang cukup jauh pun akhirnya mereka sampai juga dirumah sakit yang dituju. Maira langsung disambut oleh beberapa suster dan dua orang dokter. Maira kembali diperiksa, dan setelah dinyatakan baik baik saja oleh dokter membuat Fardhan, Azka dan Shandy merasa lega.
" abang sama kamu Shan pulanglah, aku akan menemani Maira disini " kata Fardhan
" nanti aku kembali lagi kemari membawa baju ganti untukmu " kata Shandy
" iya, terima kasih ya. Jangan dulu pulang ke tempatmu, tinggallah dulu dirumahku sementara aku dan Maira masih belum pulang " kata Fardhan
" apa yang dikatakan Fardhan benar Shan, tinggallah dulu disana sementara " kata Azka
" oke, aku tidak bisa menolak " kata Shandy sambil mengangkat kedua tangannya
Shandi berfikir jika ia akan meneruskan pencarian terhadap Kirana sebagai dalang penculikan Maira dan penyiksaan. Jika sudah ia tahu tempat persembunyiannya, Shandy akan segera menjeblosaknnya ke balik jeruji besi.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading😊
Maaf ya, kemarin kemarin Rose banyak urusan diluar jadi gak sempet ngetik sampai sampai Rose sendiri kelelahan dan harus istirahat. Tapi Insya Allah Rose akan usahakan untuk up dua hari sekali, atau kalau sempwt rose up yiap hari tapi waktunya gak tentu. maaf ya readersku🙏🏻🙏🏻🙏🏻