
" bagaimana kondisinya ?" tanya Azka
" maaf, dengan berat hati saya harus menyampaikannya. Kondisi Maira makin menurun, sebelumnya sudah saya sarankan supaya melakukan kemo tapi Maira tetap menolak " jawab Evan lalu menghela nafas berat
" lalu bagaimana untuk kedepannya ?" tanya Azka
" untuk sementara ini sebaiknya kita lakukan kemo, agar bisa menekan pe4kembangan sel sel kankernya. Dan untuk rencana kedepannya, saya sarankan untuk melakukan operasi sumsum tulang belakang. Tapi untuk mencari pendonor tidak mudah, dan membutuhkan waktu yang cukup lama " jawab Evan
" lakukan semua yang terbaik ! jangan permasalahkan soal biayanya, dan untuk pendonor kita akan usahakan " tegas Azka
" tidak usah melakukan operasi, aku tidak mau. lebih baik kemo saja !" jawab Maira
" tapi ini semua demi kesehatanmu juga Mai !" kata Azka
" tapi aku tidak mau menyakiti orang lain hanya demi kesehatanku dan keberlangsungan hidupku !" tegas Maira
" menurutlah Mai, ini demi kebaikanmu juga " kata Azka yang mulai emosi
" ya atau tidak sama sekali !" tegas Maira lalu pergi keluar dari ruangan
" begitulah, selama ini aku juga sudah membujuknya tapi tidak pernah berhasil ! Dia bahkan melarangku untuk memberi tahu keluarga dan suaminya, selama ini ia menutupi penyakitnya dengan rapat dari orang orang di sekitarnya ! Kadang dia mengeluh lelah dan tidak mau melanjutkan pengobatannya, tapi selalu di bujuk oleh istriku " kata Evan.
" lalu bagaimana ? apa sekarang Fardhan masih belum tahu juga ?" tanya Azka
" belum ada yang tahu dengan kondisinya saat ini. Selama ini ia selalu check up sendiri, entah apa alasan yang membuatnya begitu tertutup seperti itu. Tapi saat ditanya dia selalu mengatakan 'aku tidak ingin mereka mengasihaniku hanya karena penyakit ini' " jelas Evan
" sepertinya kita butuh waktu lebih untuk ngobrol, bagaimana kalau nanti malam kita bertemu kembali ?" tanya Azka
" boleh, tapi sift saya selesai nanti jam 20.00 " jawab Evan
" tidak apa, kebetulan saya juga harus menunggu mama disini " kata Azka
" baiklah, nanti jam 20.00 kita bertemu disini atau di mana ? " tanya Evan
" disini saja lebih baik " jawab Azka
Azka pun berpamitan pada evan karena ia harus menemani mamanya yang baru saja masuk kedalam ruang rawatnya.
" kemana Maira dan Zahra ?" tanya Azka pada Shandy
" sudah pulang ke apartemen " jawab Shandy
Shandy kemudian berjalan mengekor dibelakang Azka dan mengikutinya masuk kedalam ruang rawat.
" apa kata dokter tadi ? " tanya Azka
" keadaannya sedikit menurun, tapi dokter juga mengatakan tidak apa apa " ja2ab Shandy
" terima kasih Shan. Sekarang kamu boleh pulang, dan maaf aku selalu merepotkanmu " kata Azka sambil menepuk bahu Shandy
" tidak perlu sungkan, kita sudah berteman lama. Lagi pula menolong sesama itu juga sebuah kewajiban kan ! jadi tidak perlu merasa tidak enak seperti itu " jawab Shandy
Akhirnya Shandy pamit undur diri. Tinggallah sekarang Azka yang kembali sendiri untuk menemani mamanya.
...*****...
Sedangkan di lain tempat, Fardhan masih berada di kantor. Hari ini ia tidak ingin pulang ke rumahnya walaupun ia sudah sangat lelah karena pekerjaannya begitu banyak hari ini.
" Ghais, kenapa kau tidak pulang ?" tanya Fardhan
" saya akan tetap disini selama anda belum pulang tuan " jawab Ghaisan
" pulanglah, aku tidak apa apa ! Lagipula aku akan menginap disini saja " kata Fardhan
" baiklah kalau begitu, saya permisi dulu tuan " pamit Ghaisan
Fardhan pun beralih ke kamar pribadinya, ia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Begitu banyak masalah yang di fikirkannya, mulai dari pekerjaan, hingga rumah tangganya yang tak baik saat ini. Fikirannya melayang jauh hingga ia tertidur dalam lelahnya.
" mas, bagaimana keadaanmu ?" tanya Maira menghampiri Fardhan
" apa pedulimu padaku setelah yang kau lakukan padaku, lalu kini kau menanyakan keadaanku ? kau lucu sekali " jawab Fardhan tertawa sinis
" terpaksa ? demi kalian ? apa maksudnya ?" tanya Fardhan lagi
" nanti juga mas akan tahu sendiri jawabannya. Aku benar benar minta maaf mas, aku takut tidak sempat mengatakannya " kata Maira
Setelah berbicara, Maira bangkit dan melanhkah peegi m3njauh dati pandangan Fardhan.
" Mai, kamu mau kemana lagi Mai ? " teriak Fardhan
" kamu mau kemana ? maira " teriak Fardhan lagi
" Mairaaaaaa " teriak Fardhan terbangun dati tidurnya
kenapa aku bermimpi seperti itu ya ? mimpi itu seakan nyata aku alami, ada apa ini sebenarnya ya Allah....
fikir Fardhan
hari pun berganti pagi kembali, pagi kali ini tidak secerah hari kemarin. Pagi ini nampak awan hitam bergulung menyelimuti langit kota Jakarta.
Pagi ini Zahra mencoba mengetuk pintu kamar Maira, tapi setelah beberapa kali mengetuk pintu masih tetap juga tidak ada jawaban dati dalam kamar.
Zahra mencoba menempelkan telinganya pada pintu kamar, siapa tahu ia bisa mendengar suara dari dalam. Tapi hal itu pun masih tetap sama, tidak ada suara sedikitpun dari dalam kamar.
Zahra merasa cemas, karena sedari tadi Maira tidak menjawab apa apa dari dalam kamarnya. dengan perlahan Zahra mencoba membuka pintu kamar Maira, tapi sayangnya pintu kamar itu terkunci dari dalam. Dengan panik, Zahra mengambil kunci cadangan untuk membuka pintu kamar Maira.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Maira yang sedang duduk di lantai menyandarkan kepalanya pada tempat tidur masih mengenakan mukena di tubuhnya. Tapi satu yang menjadi pusat perhatian Zahra saat ini yaitu hidungnya, ya hidung Maira yang mengeluarkan darah.
" astaghfirullah Mai, bangun Mai " kata Zahra seraya menepuk nepuk pipi Maira
" Mai bangun Mai ! jangan buat aku tambah cemas Mai " kata Zahra lagi membuatnya panik saat memperhatikan wajah Maira yang semakin ha5i semakin pucat saja
Zahra pun meraih ponsel Maira yang ada diatas nakas lalu menghubungi Azka.
π " hallo bang, abang bantuin Ara bang " kata Zahra panik
π " kenapa Ra ? kenapa kamu panik begitu " tanya Azka
π " Maira bang, Maira gak sadar sadar bang ! tolong, kita harus segera bawa Maira ke rumah sakit bang !" kata Zahra
π " iya, abang akan suruh Shandy langsung ke unit kalian ya !" kata azka
Azka pun memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak. Ia pun merasa khawatir dengan kondisi Maira, terlebih setelah melndengar penjelasan dari dokter Evan
tuut tuut tuut
π " hallo Shan, cepat kamu ke unitnya. Barusan Zahra bilang kalau Maira tidak sadarkan diri " kata Azka langsung nyerocos to the point
π " iya, kebetulan saya juga sudah selesai bersiap " jawab Shandy
π " cepatlah Shan " kata Azka
π " iya, ini berangkat " kata Shandy
Azka pun memutuskan sambungan telfonnya dengan Shandy. Kemudian ia menelfon dokter Evan untuk memberi tahukan kondisi Maira saat ini, karena memang dokter Evanlah yang memegang tanggung jawab pengobatan yang dilakukan oleh Maira.
.
.
.
.
.
TBC
Happy readingπ