
Maira kini mulai tenang, Fardhan selalu ada disisinya. Ia menenangkan Maira, dan akhirnya Maira bisa tenang. Fardhan pun mengajak Maira untuk melihat kamar utama yang akan ditempati olehnya yang terletak di lantai dua. lalu Fardhan mengajak Maira berkeliling rumah barunya. Ya, rumah baru Fardhan dan Maira ini memiliki tiga lantai.
lantai bawah ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan dua kamar tamu. dilantai dua, ada tiga ruangan yaitu satu kamar utama yang akan ditempati Maira dan Fardhan, kamar kedua rencananya akan menjadi kamar untuk anak pertamanya nanti dan yang satu lagi adalah ruang kerja. Sedangkan di lantai tiga, ada ruang olahraga dan ruang khusus yang di design oleh Fardhan seperti bioskop mini. Dibelakang rumah ada dua buah bangunan, yang satu itu gudang dan yang satu lagi paviliun yang ditempati oleh bi Titin dan mang Jajang.
" mas, apa tidak salah rumah kita terlalu besar mas ! halaman depan dan belakang luas banget !" kata Maira
" mas memang sengaja sayang. nanti kan kita bakalan punya anak, lagian di halaman depan dan belakang bisa kamu gunakan untuk menanam apa saja yang kamu suka, seperti bunga misalnya !" jawab Fardhan
" iya mas, nanti aku beli bibit bunga untuk di tanam di depan dan dibelakang ya ! sekalian aku juga mau tanam pohon mangga, anggur sama ceri ya !" kata Maira meminta persetujuan
" iya, tanamlah apapun yang ingin kamu tanam asalkan bermanfaat mas pasti kasih izin !" jawab Fardhan
" terima kasih ya mas, mas memang baik deh !" kata Maira
" ya sudah sekarang kita bersiap ya, sebentar lagi waktu adzan maghrib, kita shalat berjamaah lalu pergi ke rumah lama ya !" kata Fardhan
" iya mas, ayo !" jawab Maira semangat
Fardhan dan Maira shalat berjamaah di dalam kamarnya. Maira merasa bahagia dan beruntung bisa menikah dengan Fardhan. Baginya Fardhan itu sempurna, sudah baik, pengusaha, berhati lembut, penyayang, sabar ah pokoknya komplit deh. Setelah shalat maghrib berjamaah, Fardhan membawa Maira pergi ke rumah lama Fardhan. Disana mama dan Faridah sedang berkemas untuk kepulangannya besok pagi.
" ma, apa mama tidak bisa tinggal disini bersama kami ?" tanya Maira lembut
" tidak bisa, ada beberapa usaha yang harus mama urus. Lagi pula Faridah akan kembali kuliah. Apalagi neneknya Fardhan yang harus mama urus !" jawab mama Fardhan datar
ya Allah, kenapa cara bicara mama padaku berbeda saat ini ? apa ini hanya perasaanku saja ! ah sudahlah !
batin Maira bertanya tanya
Setelah membantu mama Farfhan berkemas, Maira menemui suaminya yang kini ada di ruang keluarga sedang asik nonton tv.
" apa mama dan Fatidah sudah selesai berkemas ?" tanya Fardhan
" belum mas, tadinya aku mau bantuin Faridah tapi dia nolak. katanya takut aku kecapean. kalau mama katanya gak mau di bantuin !" jawab Maira apa adanya
" ya sudahlah, tidak apa apa !" kata Fardhan sambil membawa Maira kedalam pelukannya
" oh iya sayang, kita tidur yuk ! mas udab mulai ngantuk ini !" ajak Fardhan
" iya mas, ayo !" jawab Maira mengikuti Fardhan
Fardhan berjalan nembuju ke lantai dua dimana kamarnya berada. Maira merasa kagum melihat dekorasi kamar yang terlihat bagus.
" ini kamarku yang dulu sayang, dan sekarang menjadi kamar kita juga !" kata Fardhan
" kamarnya bagus mas, design nya terlihat rapi dan kalem banget ! rasanya aku nyaman disini !" kata Maira menatap penuh kagum
"oh iya, baju untukmu sudah mas siapkan di dalam lemari ganti. kamu ganti dulu bajunya ya !" kata Fardhan dengan lembut
" iya mas !" kata Maira
Maira melangkahkan kakinya menujuke tempat yang di tunjukkan Fardhan tadi. Maira masuk kedalam ruangan yang ada di dekat kamar mandi, ia mengambil baju tidur dan membawanya ke kamar mandi. Sedangkan Fardhan berganti baju di ruangan itu ketika Maira mengganti bajunya di kamar mandi.
Fardhan selesai lebih dulu, ia menunggu Maira sambil duduk berselonjor di atas kasur sambil memangku laptop miliknya untuk memeriksa beberapa laporan yang di kirimkan oleh Shandy. Setelah selesai berganti baju, Maira keluar dari kamar mandi dan duduk di sebelah Fardhan yang sedang fokus dengan laptopnya. Saking fokusnya Fardhan tudak menyadari kalau Maira sudah duduk disampingnya.
" mas " panggil Maira
" ah, iya sayang !" jawab Fardhan merasa kaget
" fokus amat, ada apa sih ?" tanya Maira sambil melihat ke laptop yang di pegang suaminya
" tidak ada apa apa sayang, hanya memeriksa laporan saja !" jawab Fardhan
" kamu tidur saja duluan, mas mau telfon Shandy dulu !" tambah Farfhan sambil mengecup kening Maira
" iya mas, aku duluan ya !" kata Maira
" iya sayang, tidurlah !" kata Fardhan
Maira pun berbaring di samping Fardhan yang masih duduk. Kemudian Fardhan menutup laptop dan meraih ponselnya untuk menghubungi Shandy.
tut.. tut.. tut...
π "hallo assalamualaikum Shan" kata Fardhan
π " waalaikumsalaam, ada apa bos ?" tanya Shandy disebrang sana
π " saya minta kosongkan jadwal saya untuk hari senin sampai hari rabu, karena saya akan pergi ke Sumedang. untuk beberapa meeting yang mendesak kamu handle saja, dan selebihnya kamu atur saja di hari lain setelah saya masuk nanti !" kata Fardhan serius
π " siap, apa ada lagi ?" tanya Shandy
π " waalaikumsalaam" jawab Shandy
Fardhan sudah mengakhiri panggilan telfonnya, ia melihat Maira masih belum tidur juga. Ia melihat istrinya itu sulit untuk tidur, entah apa penyebabnya.
" belum tidur ?" tanya Fardhan
" belum mas, aku gak bisa tidur !" jawab Maira
" kenapa ?" tanya Fardhan sambil mendekat pada Maira
" entahlah, mungkin karena ini tempat baru bagiku mas !" jawab Maira pelan
" tidak apa, aku faham kok ! sini biar mas peluk !" kata Fardhan meminta Maira untuk bergeser mendekat padanya
Maira pun mendekat pada Fardhan dan Fardhan langsung memeluk Maira. Maira merasa nyaman berada dalam dekapan suaminya.
" tidurlah, sudah malam !" kata Fardhan sambil mengusap kepala Maira
Maira tidak menjawab, ia hanya diam dan sesekali bergerak di dalam pelukan Fardhan sambil memeluk Fardhan.
" jangan bergerak begitu sayang ! nanti ada yang bangun !" kata Fardhan menghentikan Maira
" tapi mas meluknya terlalu kencang mas !" rengek Maira sambil berusaha melepaskan tangan Fardhan
" tuh kan bangun ! kamu hatus tanggung jawab !" kata Fardhan
" maksud mas ?" tanya Maira
" secara tidak langsung kamu sudah membangunkannya sayang ! kamu haru bertanggung jawab !" kata Fardhan lagi
Maira berfikir keras apa maksud dari ucapan suaminya itu. Tapi Fardhan sangat pintar sekali memanfaatkan situasi, ia segera mengecup seluruh wajah Maira dan tak ada yang terlewatkan.
" aku mau meminta hakku sebagai suami, apakah kamu mengizinkannya ?" tanya Fardhan
" maksud mas ?" tanya Maira masih belum mengerti
" mas mau melakukannya malam ini sayang, mas tidak bisa lagi menahannya ! apa kamu siap ?" tanya Fardhan
Sejenak Maira berfikir mungkin ini memang sudah waktunya ia memberikan kesuciannya pada suaminya kini. Toh itu sudah menjadi kewajiban seorang istri melayani kebutuhan lahir maupun batin suaminya. Maira pun memantapkan hati walaupun tak bisa dipungkiri, ia merasa takut saat ini tapi siap tidak siap Maira harus menjalankan kewajibannya.
" insya Allah siap mas !" jawab Maira
Fardhan kemudian mengajak Maira shalat dua rakaat dan setelah itu keduanya kembali ke atas kasur dan saling menatap sambil tersenyum.
" kamu siap ?" tanya Fardhan sedangkan Maira hanya mengangguk
" bismillahi allaahumma jannibni syaithaana wa jannibi syaithaani maa razaqtanaa" Fardhan membaca do'a dan meniupkannya pada ubun ubun Maira
Perlahan Fardhan mengecup pipi dan kening Maira dan turun ke bibirnya, setelah itu Fardhan membuka baju milik Maira.
" matikan lampunya mas !" kata Maira saat Farfhan akan membuka baju tidur yang dipakainya
" kenapa ? apa kamu malu hem ?" tanya Fardhan dengan suara berat
" iya mas !" lirih Maira
Kemudian Fardhan beranjak mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur yang temaram. Fardhan melanjutkan aksinya kembali setelah mematikan lampu, dan keduanya terhanyut dalam suasana dan menghabiskan malam indah yang cerah itu dengan saling mencurahkan kasih sayang yang ada diantara keduanya.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading...
jangan lupa tinggalkan jejak..
terima kasihππ»ππ»