Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
132


" Mai, Maira " teriak Fardhan


Kemudian ia pun terbangun dari tidurnya, mimpi itu sangat mengerikan baginya. Bagaimana tidak ? Ia mencari sang istri setiap hati dan masih belum membuahkan hasil, tapi sekarang ia bermimpi seperti itu. Membuat ketakutan Fardhan semakin menjadi saja.


Fardhan bertekad harus bisa segera menemukan Maira supaya bisa membawanya kembali pulang, ia takut apa yang ia mimpikan menjadi kenyataan. Tapi Fardhan berharap kondisi sang istri baik baik saja, walaupun ia juga tahu kata baik baik saja seperti apa saat ini. Tapi setidaknya istrinya tidak seperti gambaran dalam mimpinya, ia berharap semua menjadi membaik seperti semula.


Fardhan langsung bergegas mandi dan berganti pakaian, hari ini ia akan membereskan jadwal untuk beberapa hati kedepan supaya bisa fokus mencari Maira.


Setelah selesai berpakaian, Fardhan turun untuk sarapan yang dimana di meja makan sudah ditunggu oleh Shandy yang sedang mengotak ngatik ipad miliknya.


" Shan, hari ini kita lembur. Aku mau membereskan pekerjaan untuk beberapa hati kedepan supaya bisa fokus mencari Maira. Dan untuk sementara aku cuti, kamu yang handle semua seperti biasa " kata Fardhan sambil mengambil selembar roti


" siap, tenang saja " jawab Shandy


Setelah menghabiskan sarapannya, Fardhan dan juga Shandy langsung pergi ke kantor.


*****


Sedangkan kondisi Maira saat ini tidak baik bail saja, ia merasa tubuhnya sedikit demam. Mungkin karena suhu yang dingin dan terlalu banyak fikiran jadi membuat kondisinya drop. Ditambah lagi kemarin ia disiksa oleh Kirana, hingga menyebabkan punggungnya terasa perih dan sakit.


Wanita itu benar benar telah dibutakan oleh dendam dan cinta. Ia berambisiuntuk mendapatkan Fardhan, dan nanti setelah Fardhan ia dapatkan ia akan menghancurkan Fardhan.


Entahlah usahanya akan berhasil atau tidak, tapi ia terus saja berusaha melakukan segala cara agar keinginan dan ambisinya tercapai. Karena gelap mata, Kirana mecambuk Maira menghunakan ikat pinggang milik salah satu orang suruhannya yang diperintahkan untuk menjaga Maira.


Hati ini sudah hampir dua minggu Maira Dikurung ditempat yang entah dimana rimbanya ini. Tapi yang jelas sepertinya tempat ia dikurung kini berada di pinggir rel kereta, pasalnya hampir setiap waktu ia mendengar suara dari mesin kereta api.


Maira bertekad akan mencoba melarikan diri dari tempat ini, ia akan pergi dan segera kembali pada keluarga dan suami. Salah satu pesuruh Kirana datang membawakan makanan untuk Maira. Disebut sarapan tapi sudah siang, disebut makan siang juga belum waktunya.


Setelah selesai makan, Maira meminta untuk diantarkan ke toilet pada penjaga yang selalu siap didepan pintu. Sekembalinya dari toilet, Maira mendengar obrolan Kirana dengan seorang laki laki yang suaranya tidak terlalu asing baginya.


Maira bergegas masuk kedalam kembali dan dikunci lagi dati luar. Terdengar seorang laki laki meminta dibukakan pintu, dan penjaga itu menurutinya.


ceklek


tap tap tap


Suara sepatu terdengar. Tapi Maira masih membaringkan tubuhnya membelakangi pintu dan orang yang kini tengah menemuinya.


" Maira " panggil laki laki itu


Maira terdiam mendengar suara itu, Ia mengenali suara laki laki itu. Tapi siapa orangnya ?


Tunggu, sepertinya suara itu tidak terlalu asing bagiku. Tapi suara siapa itu ?


Batin Maira bertanya tanya.


***bukankah suara itu mirip dengan suara Rizal ? mau apa dia disini dan tahu dari mana aku disini ? apa jangan jangan dia juga terlibat ?


Fikir Maira***


Perlahan Maira bangkit dari posisinya dengan perlahan walau dia harus selalu meringis menahan sakit.


" Mau apa kau kemari ?" tanya Maira datar


" Mai, aku merindukanmu " jawabnya


" hm rindu ? Tahu dari mana kau kalau aku ada disini ? apa kau juga ada hubungannya dengan disekapnya aku disni ? " tanya Maira


" maafkan aku. Tapi kalau tidak begini mana bisa aku memilikimu ?" kata Rizal menyeringai tipis


" cih, memiliki. Aku lebih memilih mati daripada harus bersama denganmu. Asal kamu tahu, mencintai itu tidak harus selalu memiliki. Mencintai itu merasa bahagia saat orang yang kita cintai bahagia. Jika berambisi sepertimu dan Kirana itu bukan cinta lagi namanya, tapi obsesi. Aku harap kau mengerti dan memikirkan hal itu. Dan juga ingatlah, segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah baik hasilnya " kata Maira dengan nada yang datar dan sedikit ketus


" Tapi aku akan bahagia jika bisa mendapatkanmu " kekeh Rizal


" walau kau mendapatkan ragaku sekalipun, tapi hati dan fikiranku tentunya bukan untukmu. Aku hanya menganggapmu seorang teman dari dulu sampai sekarang pun masih sama " timpal Maira


" tapi aku sangat mencintaimu Maira, sebentar lagi aku akan mendapatkanmu. Dan kamu harus bersiap untuk hidup denganku selamanya " kata Rizal


" hm, obsesimu sama dengan Kirana juga ya ! kalian berdua tidak ada bedanya, kenapa kalian tidak bersama saja ?" tanya Maira dwngan nada meledek


" what ? Kirana ? aku tidak mencintainya, lagi pula aku tidak mau hidup dengannya. Dia juga bukanlah type ku. Aku hanya mencintaimu Maira dari dulu " kata Rizal


" kalian benar benar manusia yang keterlaluan ! hanya demi ambisi dan dendam kalian memisahkan seorang istri dari suaminya ? menjauhkannya dan menyiksanya ? itu yang kau katakan mencintai ?" tanya Maira dengan nada tinggi


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading๐Ÿ˜Š


maaf ya buat yang kena prank di part ke 131๐Ÿ˜ maaf, maaf๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป