Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
54


Maira menemui orang tuanya untuk memberi tahukan kalau ia akan pulang siang ini juga.


" ma, pa " panggil Maira


" iya sayang, ada apa ?" tanya mama


" sepertinya Mai harus pulang siang ini juga, besok Aisyah akan di khitbah. Jadi Mai di minta untuk nemenin dia, malu juga kalau gak datang sama ayah dan bundanya. " jawab Maira


" acaranya kok dadakan Mai ?" tanya papa


" entahlah pa, mungkin mumpung calon suaminya lagi luang aja " jawab Maira


" iya juga sih. ya sudah kamu istirahat saja dulu, nanti setelah shalat dzuhur kamu berangkatnya ya " kata mama


" iyaa ma " kata Maira


Maira kembali ke kamarnya, saat ini ia benar benar akan istirahat di kamar. Maira kembali berbaring di tempat tidur setelah meminum obat demam, karena suhu tubuhnya sudah mulai naik. Sebelumnya Maira juga sudah memasang alarm di ponselnya pulul 11.30.


Maira tidur dengan nyenyak, mungkin efek dari obat juga. Sedangkan du lain tempat Fardhan masih saja merasa gelisah, fikirannya tidak tenang. Entah apa yang membuatnya seperti itu ia juga tidak tahu, untuk sementara ia akan tidur saja untuk menghilangkan ketidak tenangannya itu walau hanya sekejap.


Suara dering alarm membangunkan Maira dari tidurnya, ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan kemudian ia bersiap unruk pulang kembali. Setelah selesai shalat, Maira menemui mama dan papa nya yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton tv.


" ma  pa, Mai pamit ya ! Takut kena macet dijalan " kata Maira


" loh, gak makan siang disini saja Mai ?" tanya papa


" enggak pa, biar nanti makan di jalan saja " jawab Maira


" ya sudah, sebentar ya mama mau ambil dulu sesuatu di belakang " kata mama


Mama pergi ke dapur untuk mengambil dus yang sudah diisi oleh mama dan bi Siti.


" ini Mai, buat kamu satu dan buat abangmu satu ya !" kata mama


" apa ini ma ?" tanya Maira


" isinya ada bakar ubi Cilembu, ada Tahu Sumedang sama tape singkong. Semuanya sudah tersusun rapi kok !" kata mama


" aih mama, terima kasiih ya ! maafin Mai datang kesini malah bikin repot mama sama papa " kata Maira merasa tidak enak


" tidak apa sayang, gak ngerepotin kok !" kata mama sambil membantu bi Siti memasukkan kardus kedalam bagasi mobil Maira


" ya sudah, Mai terima ya ma, pa ! Mai pamit, Assalamualaikum " ucap Maira sambil mencium tangan mama dan papanya


" waalaikumsalaam, hati hati di jalan sayang " kata mama dan papa


Maira pergi meninggalkan kota Sumedang, untuk kembali ke ru.ahnya di Jakarta. Di perjalanan Maira kembali merasakan suhu badannya meningkat, ia berhenti sejenak untuk sekedar minum obat. Setelah itu kembali membelah jalanan menyusuri setiap jengkal jalan supaya ia bisa segera sampai di rumahnya. Hampir enam jam ia mengemudi, akhirnya Maira sampai juga di rumahnya. Kepalanya sudah terasa makin berat, tubuhnya juga kian melemah tapi Maira berusaha menahannya. Setelah mengeluarkan kardus kardus, Maira memanggil mang Jajang untuk membantunya.


" mang, tolong bantuin bawa kedalam ya. Kalau bisa mamang anterin karusnya satu ke rumah bang Azka ya !" kata Maira dengan nada melemah


" iya neng, nanti mamang antarkan. Rumahnya masih yang waktu itu kan ?" tanya mang Jajang


" iya mang " jawab Maira


" tidak mang, saya baik baik saja cuman capek ! mamang duluan saja kedalamnya, saya juga mau langsung istirahat " kata Maira


" iya neng, mamang permisi duluan " kata mang Jajang


Mang Jajang berjalan lebih dulu sambil membawa dua kardus, mungkin berjarak lima langkah dari Maira. Begitu masuk kedalam rumah, Maira langsung duduk di kursi ruang tamu. Ia merasa kepalanya tambah pusing, sedangkan mang Jajang langsung pergi membawa satu kardus untuk di antarkan ke rumah Azka.


Perlahan Maira mencoba berdiri dan berjalan menuju kamarnya, di pertengahan tangga ia merasa semua gelap dan tangannya pun tidak bisa bertumpu kembali hingga ia jatuh berguling hinggga ke lantai dasar.


Brrruukkk....


Suara terjatuh begitu keras terdengar, terlebih ruangan yang sedang sepi. Bi Titin langsung berlari dari dapur mencari asal suara. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Maira sudah berbaring tak berdaya di lantai dasar tapi masih sadar.


" neng, ya Allah neng. neng kenapa begini ?" kata bi Titin sambil menangis


" bibi jangan kasih tahu abang " kata Maira terbata bata


" neng sabar ya " kata bibi sambil terisak


" sakit bi " kata Maira melemah kemudian matanya tertutup


" adeeeen, tolong !" teriak bi Titin


Fardhan mendengar suara bi Titin saat ia akan keluar dari ruang kerjanya. Ia mendengar suara bi Titin berteriak meminta tolong sambil menangis, Fardhan kemudian langsung berlari mencari bi Titin.


" bi, ada ap... " belum menyelesaikan pertanyaannya Fardhan di kagetkan dengan kondisi Maira yang sedang terbaring di lantai dengan darah yang emgucur di pelipis kanannya


" kenapa bisa begini bi ?" tanya Fardhan


" gak tahu den ! kita bawa ke rumah sakit den " kata bi Titin


Fardhan dan bi Titin membawa Maira ke rumah sakit terdekat. Fardhan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia takut terjadi hal buruk pada Maira. Sedangkan di belakang bi Titin masih memangku kepala Maira sambil mengoleskan minyak kayu putih di hidungnya supaya Maira sadar, tapi hal itu tidak membuahkan hasil.


Hanya lima belas menit Fardhan sudah sampai di rumah sakit dan langsung meminta suster untuk membantu memeriksa Maira. Maira langsung dibawa ke ruang IGD untuk langsung ditangani.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading...


Jangan lupa tinggalkan jejak yups...


Terima kasiih😁🙏🏻