Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
19


Maira pergi berlalu dari kafe FaHiSya miliknya dan Aisyah. setelah hampir satu jam menyusuri jalan di gelapnya malam, akhirnya Maira sampai di rumah.


" assalamualaikum " ucap Mai saat masuk kedalam rumah


" waalaikumsalaam" jawab mama dan papa


" kenapa pulang jam segini Mai ? habis dari mana ?" tanya papa penuh selidik


" dari kafe pa, ketemu Aisyah ! maaf Mai pulangnya telat !" kata Maira sambil menunduk


" sudah makan belum nak ?" tanya mama


" belum ma !" jawab Maira sambil menggelengkan kepalanya


" makanlah dulu, nanti mama mau bicara !" kata mama


" iya ma !" kata Maira lalu pergi untuk makan tanpa menyimpan tasnya


Begitulah Maira, saat ia membuat kesalahan ia tak berani untuk mengangkat kepalanya sedikit pun, apalagi untuk menyela ucapan orang tuanya !


Kini Maira sudah rapi dan bersih, ia duduk di ruang keluarga. Semua sudah berkumpul, dari mulai mama dan papa, begitu juga dengan Azka dan Nisa.


" begini Mai, kamu itu kan sudah mau menikah ! otomatis kamu juga akan ikut suami kamu ke rumahnya. Papa juga sudah menyerahkan perusahaan pada Azka dan kamu untuk mengelola nya, mama dan papa harap kalian berdua bisa mengelola dan menjalankan perysahaan dengan baik. Rencananya setelah kamu menikah nanti, mama dan papa akan pindah kemvali ke Sumedang. Kamu tidak apa apa kan ?" kata mama, sedangkan Maira menatap Azka seolah bertanya 'bagaimana ?'


" abangmu sudah tahu lebih dulu Mai ! sekarang tinggal menunggu jawaban kamu saja !" kata papa seolah tahu arti tatapan Maira pada Azka


" ma, pa, apa tidak bisa kita berkumpul saja disini ?" tanya Maira memelas


" mama dan papa mau menikmati masa tua kami sayang !" jawab mama sambil tersenyum


" tapi Mai beneran gak bisa jauh dari mama dan papa ! Mai mau kita kumpul diaini saja, biar rumah yang di Sumedang di urus mang Amin saja ya !" kata Maira mencoba bernegosiasi


Mama hanya menatap papa, ia sudah tahu kalau akan begini jadinya. Walaupun Azka merasa keberatan awalnya, tapi ia cukup mengerti dengan keinginan kedua orang tuanya. Tapi berbeda dengam Maira, ia memang tidak bisa jauh jauh dari kedua orang tuanya.


" baiklah, nanti papa fikirkan kembali !" kata papa membuat Maira langsung tersenyum senang, berbeda dengan Azka yang sudah tahu alasan dari ucapan papanya


" ya sudah, ini sudah malam kalian segeralah tidur ! papa dan mama juga akan tidur ! selamat malam !" kata papa lalu mengajak mama untuk pergi tidur ke kamarnya


" segeralah tidur Mai, abang dengar semalam kamu tidak tidur !" kata Azka


" iya bang ! selamat malam !" kata Maira lalu pergi ke kamarnya


" selamat malam juga !" kata Nisa


Nisa dan Azka pun turut masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Sejenak Azka memejamkan matanya, mengingat ucapan orang tuanya. Sungguh jika ia di izinkan untuk egois, maka ia tidak akan mengizinkan mama dan papa nya pinsah ke Sumedang. Tapi Azka juga berfikir, toh selama ini mama dan papa sudah berjuang untuk kedua anaknya sedari dulu. Jadi wajar saja jika sekarang mama dan papanya ingin menikmati waktu beristirahat dan menikmati masa tua nya dengan tenang.


" mas hanya masih belum bisa rela rasanya harus jauh dari mama dan papa ! bagaimana disana, siapa yang akan mengurus keduanya jika suatu saat sakit ?" kata Azka bimbang dengan fikirannya


" kenapa begitu mas ? bukankah ada mang Amin dan istrinya yang akan menwmani mama dan papa disana ?" tanya Nisa


" iya sih ! tapi mas tidak bisa membohongi perasaan mas sendiri ! jika boleh jujur dan egois, mas ingin mama dan papa terus ada bersama kita disini, mas tidak ingin jauh ! tapi mau bagaimana lagi, mama dan papa memang sudah merencanakan ini sudah lama, jauh sebelum kita menikah !" jawab Azka lesu


" sudahlah sayang, kita berdoa saja yang terbaik untuk mama dan papa. dimanapun mama dan papa berada mudah mudahan selalu sehat !" kata Nisa mencoba menenangkan


" iya juga sih !" kata Azka


" oh iya sayang, kita tidur yuk ! " ajak Azka sambil menaik turunkan kedua alisnya


" huh, baiklah aku mengerti ! boleh saja, asal jangan lama aku mau tidur !" kata Nisa tahu kemana arah pembicaraan suaminya


" iya, aku janji gak bakalan lama kok !" jawab Azka dengan semangat


Ah, kalian juga pasti tahu lah apa yang akan dilakukan oleh sepasang suami istri ini. kalian jangan kepo ya apalagi ngintip, hahaha...


Dirumah Fardhan kini ia masih duduk di ruang kerjanya, ia masih harus memeriksa dengan teliti beberapa berkas mengenai kerja sama yang akan dijalani perusahaannya dengan perusahaan lain.


tok.. tok.. tokk


" masuk " kata Fardhan


" kakak belum tidur juga ?" tanya Faridah


" belum, kamu tidurlah duluan ! kakak masih harus membereakan dulu beberapa berkas ini !" jawab Fardhan


" kak, aku mau tanya dong !" kata Faridah


" tanya apa ?" tanya Fardhan tanpa menoleh


" kakak itu ketemu sama kak Maira dimana sih ?" tanya Maira


" kakak ketemu dia di kantor, dulu dia itu salah satu karyawan kakak. awalnya sih biasa saja, tapi lama kelamaan lita sering ketemu jadi jatuh cinta deh ! dia itu walaupun orang berada, tapi dia tidak malas seperti yang lain ! dia itu anaknya baik, mandiri, lemah lembut, sopan lagi !" jelas Fardhan


" oh, ketemu di kantor rupanya ! kakak beruntung banget ya bisa dapetin kak Maira, menurut aku tuh ya kak Maira itu wanita yang sempurna deh ! udah cantik, baik,.mandiri, lemah lembut, sopan ah pokoknya paket komplit deh !" kata Faridah


" iya, kakak juga merasa beruntung banget !" timpal Fardhan


Setelah selesai memeriksa berkas berkas tadi, Fardhan beranjak dari tempat duduknya untuk pergi istirahat ke kamarnya. Faridah mengekori Fardhan, ia juga kemudian masuk kedalam kamarnya.