Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
7


Sesampainya di rumah Maira, Aisyah memarkirkan mobil Maira di garasi. Aisyah pamit pulang ke rumahnya di antar oleh pak Joko sopir papa.


" terima kasih Syah, maaf juga udah ngerepotin kamu !" kata Maira merasa tidak enak


" tidak apa Mai, tenang saja !" jawab Aisyah


Aisyah pun pulang di antar pak Joko, sedangkan Maira masuk kedalam rumah. Dilihatnya papa, mama, bang Azka, dan kak Nisa sedang duduk di ruang keluarga sambil berbincang dan nonton tv.


" kamu dari mana Mai ?" tanya mama


" tadi ada perlu dulu ma ! maaf lupa ngabarin !" jawab Maira berbohonng


" eh tunggu dulu, kok wajah kamu pucat sih Mai ?" tanya bang Azka


" tidak apa apa bang ! hanya lelah saja, lagian semalam aku kurang tidur !" jawab Maira


" kalau punggung tangan kamu itu kenapa ?" selidik Azka


" tidak apa apa bang, cuman lecet sedikit !"jawab Maira


" ph iya, Mai ke kamar dulu ya mau istirahat, capek banget soalnya !" pamit Maira


Maira pun berlalu pergi ke kamarnya untuk merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemas. Maira merebahkan tubuhnya di kasur hingga tidak terasa ia tertidur tanpa membersihkan tubuh lebih dulu.


Saat pagi, semua orang sudah berada di meja makan kecuali Maira. Yah, Maira masih berbaring di kamarnya. Setelah Maira shalat shubuh, ia kembali tidur.


" Maira kemana ma ?" tanya papa


" gak tahu pa, dari tadi belum keluar kamar !" jawab Mama


" biar Nisa lihat dulu ma, pa !" kata kak Nisa sambil berlalu pergi menuju kamar Maira


tok tok tok


" Mai, ini kakak ! bpleh kakak masuk ?" tanya Nisa


" iya kak !" jawab Maira agak keras tapi masih bisa di dengar oleh Nisa


" sarapan yuk, yang lain sudah nunggu di meja makan !" ajak Nisa saat masuk kedalam kamar Maira


" kalian makan saja duluan kak ! biar nanti Mai nyusul !" jawab Maira


" kamu kenapa Mai ?" tanya Nisa merasa heran saat Maira masih terus berbaring


" tidak apa apa kak, hanya kurang enak badan saja !" jawab Maira


" kita ke dokter ya !" ajak kak Nisa


" tidak kak ! nanti juga sembuh sendiri kok, cuman butuh istirahat saja !" jawab Maira


" ya sudah, nanti kakak bawakan sarapanmu kesini ya !" kata kak Nisa


Nisa pun kembali ke meja makan untuk sarapan bersama yang lainnya.


" loh, kok kamu sendiri sayang ? kemana Maira ?" tanya bang Azka sambil melihat ke belakang Nisa dan ke arah tangga mencari Maira


" lagi gak enak badan katanya, biar nanti aku yang bawa sarapannya ke atas !" jawab Nisa


" ya sudah, kita sarapan duluan saja !" kata papa


Hening, tak ada yang bersuara saat berada di meja makan hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Setelah selesai sarapan, mama, papa bang Azka dan kak Nisa pergi ke kamar Maira untuk melihat kondisi Maira.


" Mai, kamu kenapa ?" tanya Mama mengkhawatirkan anaknya pasalnya Maira itu anak yang sangat jarang sekali sakit


" Mai gak apa apa ma, cuman gak enak badan saja !" jawab Maira


" kita ke dokter ya, atau mama panggilkan dokter Ferdi saja ?" tanya Mama


" tidak perlu ma ! Mai juga udah ngerasa baikan kok !" jawab Maira berusaha membuat keluarganya tidak khawatir


" papa sama bang Azka gak ke kantor ?" tanya Maira mencpba mengalihkan pembicaraan


" ini mau berangkat kok ! papa sama abangmu berangkat dulu ya !" kata papa


" iya pa !" jawab Maira


Papa dan Azka pergi ke kanyor setelah bersalaman dengan mama, Maira dan Nisa.


***


di kantor


" Aisyah tunggu !" kata Fardhan menghentikan langkah kaki Aisyah


" kemana sahabat kamu ?" tanya Fardhan


" Maira maksud bapak ?" tanya Aisyah


" Maira sakit bos, kemarin pas pulang dia pingsan dan dirawat di klinik !" jawab Sandy


" sakit ? kok kamu tahu San ?" tanya Fardhan penuh selidik


" woles bos, woles ! kemarin itu pas aku mau pulang kebetulan Maira pingsan di lobi, jadi aku dan Aisyah antar saja ke klinik !" jawab Sandy


Aisyah hanya bisa menepuk keningnya, sebelum berangkat ke kantor tadi Maira menelfon Aisyah mewanti wanti agar ia tidak memberi tahukan kondisinya saat ini pada siapapun. Tapi saat ini Sandy telah mengatakannya pada si bos, Aisyah pun tidak bisa berbuat apa apa.


" kenapa kamu tepuk jidat kayak gitu ?" tanya Sandy


" tidak apa apa !" jawab Aisyah merasa kesal


" oh " kata Sandy


Sandy dan Fardhan berpisah dengan Aisyah saat di depan pintu lift, dan memulai mengerjakan tugasnya masing masing saat setelah sampai di ruangan.


" San, apa Maira masih di rawat di klinik atau sudah pulang ?" tanya Fardhan


" entahlah bos, tapi nanti aku tanya ke Aisyah !" jawab Sandy


" ya sudah !" kata Fardhan


Sandy tidak langsung pergi ke ruangannya setelah keluar dari ruangan Fardhan, tapi ia langsung bergegas ke ruang kerja Aisyah.


" Aisyah, boleh saya bicara ?" tanya Sandy saat telah sampai di depan pintu masuk divisi keuangan


" boleh pak, ada yang bisa saya bantu pak ?" tanya Aisyah


" kita bicara di luar saja !" ajak Sandy dan Aisyah hanya mengekor di belakang Sandy dan Sandy berhenti tepat di depan lorong di samping ruangan divisi keuangan


" bagaimana kondisi Maira ?" tanya Sandy tak ingin basa basi


" sudah lumayan baik pak !" jawab Aisyah


" apa dia masih di rawat di klinik itu ?" tanya Sandy lagi


" tidak pak ! kemarin dia maksa buat pulang, pedahal dokter sudah menyarankan untuk di rawat dulu untuk malam itu mengingat kondisinya belum terlalu baik ! tapi Maira bersikeras ingin pulang !" jawab Aisyah menjelaskan


" oh, begitu rupanya ! terima kasih info nya. kamu boleh kembali ke ruanganmu !" kata Sandy


" iya pak !" jawab Aisyah


Aisyah pergi ke ruangannya dan Sandy pergi kembali ke ruangan Fardhan untuk memberi tahukan kabar Maira yang ia dapat dari Aosyah barusan


tok tok tok


" masuk " kata Fardhan dari dalam ruangannya


" bos, Maira sudah pulang ke rumahnya !" kata Sandy


" bagaimana kondisinya ?" tanya Fardhan khawatir


" kata Aisyah harusnya Maira dirawat, tapi Maira menolak dan memaksa pulang ke rumahnya bos !" jawab Sandy


" kalau begitu, nanti jam istirahat kita jenguk ke rumahnya !" kata Fardhan


" siap bos !" jawab Sandy


Sandy dan Fardhan kembali melanjutkan tugasnya masing masing, hingga jam istirahat tiba Fardhan dan Sandy pergi ke rumah Maira. Jika ditanya dimana alamatnya ? apakah Sandy tahu ? jawabannya ya jelas tahu, orang Sandy mencatat dan mengingatnya di kepala alamat Maira saat ia di perintahkan untuk mencari dokumen terkait dengan Maira saat Fardhan memerintahnya beberapa minggu kebelakang.


Kini mobil yang di kendarai oleh Sandy telah sampai di depan gerbang rumah Maira.


" maaf pak, mau tanya apa benar ini rumah dari Fairuz Humaira ?" tanya Sandy


" iya betul pak, maaf kalau boleh saya tahu bapak ini siapa ya ?" tanya pak Joni, satpam yang sedang berjaga


" saya Sandy, rekan kerja Fairuz Humaira. Saya ada perlu dengannya ! bisa saya masuk ?" tanya Sandy


" oh, boleh pak silahkan !" kata pak Joni


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading