
... #####...
62.
Maira masih berdiri di balkon kamarnya, ia terus melihat ke arah pintu gerbang. Biasanya Fardhan tidak akan pulang selarut ini, kalaupun harus pulang larut pasti ia akan memberi tahukan pada Maira.
Azka dan Nisa sudah makan terlebih dahulu, sedangkan Maira masih menunggu Fardhan pulang. Walaupun Azka dan Nisa sudah memaksanya untuk makan, tapi Maira tetap tidak mau kalau tidak bersama Fardhan.
Merasa lelah sendiri akhirnya Maira menunggu Fardhan di dalam kamar saja. Maira duduk diatas sofa sambil menonton tv, walaupun tidak ada tontonan yang menarik baginya.
...***...
Sedangka Fardhan masih ada di kantor bersama Shandy. Tadinya Fardhan akan segera pulang ke rumah, tapi mama menghubunginya kali ini.
π " hallo assalamualaikum ma " ucap Fardhan
π " waalaikumsalaam, bagaimana keadaanmu Dhan ?" tanya mama
π " alhamdulillah sehat ma, mama sendiri bagaimana ? tumben mama nelfon duluan jam segini " kata Fardhan
π " mama baik nak ! mama hanya merindukanmu saja, sudah lama kamu tidak main kesini " kata mama
π " maafkan Fardhan ya ma, akhir akhir ini Fardhan sibuk banget ! ditambah lagi seminggu kemarin kan Maira dirawat di rumah sakit ma ! jadi Fardhan masih belum bisa kesana, maaf ya " kata Fardhan
π " mainlah kesini Dhan, mama rindu ! oh iya maaf mama tidak bisa jenguk istri kamu, semoga kondisinya cepat membaik ya ! eh iya, kemarin mama ketemu sama Kirana. Dia nanyain kamu " kata mama
π "aamiin, kirana ma ?" tanya Fardhan merasa tidak asing dengan nama itu
π " iya, mantan kamu dulu !" jawab mama
π " buat apa dia tanyain aku ? udahlah ma, jangan di tanggepin. Fardhan tidak mau nanti dia berbuat ulah yang bisa merugikan kita " kata Fardhan
π " tapi dia bilang dia mau kembali sama kamu Dhan ! mama juga udah bilang ke dia kalau kamu udah nikah dan udah bahagia, yapi dia tetap aja gak percaya sama mama ! " kata mama
π " biarin aja ma, gak usah ditanggepin ! kalau dia tanya tanya soal aku jangan di jawab ma, aku takut nanti dia malah datang kesini dan rusak rumah tanggaku " kata Fardhan
π " iya, nanti mama hindarin dia aja ! mama juga masih kesel sama dia, dulu aja waktu kamu sesukses ini dia ninggalin kamu. Tapi sekarang dia malah datang dan ingin bersatu sama kamu disaat kamu udah sukses gini, matre banget tuh orang " kata mama kesal
π " ya mangkanya jangan diladeni ma, lain kali kalau dia nanya jawab seperlunya aja. Kalau bisa hindarin, mama tahu sendiri kan gimana mulutnya tuh !" kata Fardhan
π " iya, eh udah dulu ya ! mama mau istirahat dulu, kamu cepatlah istirahat ya " kata mama
π " iya ma, ini baru mau pulang ! titip salam buat Faridah ya ma, maaf Fardhan belum bisa pulang waktu dekat ini " kata Fardhan
π " iya tidak apa nak, mama tutup ya ! assalamualaikum " ucap mama
Shandy yang sedari tadi duduk di hadapan Fardhan pun tidak sengaja mendengar percakapan antara ibu dan anak tersebut, Shandy jadi penasaran.
" mama, katanya mantan pacarku yang dulu datang nemuin mama. Dia nanya nanya soal aku !" jawab Fardhan
" lah, mau ngapain dia balik lagi ? bukanya dia udah punya suami ya ?" tanya Shandy
" iya, tapi gak tahu tuh mau ngapain dia ! aku hanya takut dia masuk kedalam kehidupanku bersama Maira, aku punya firasat buruk dengannya " kata Fardhan
" kalau begitu harus hati hati bos, jangan sampai kita lengah " kata Shandy
" iya, benar ! ayo pulang ah, dah larut nih ! kamu bawa mobil gak ?" tanya Fardhan
" bawa bos ! ada apa ?" tanya Shandy
" gak ada ! ayo pulang " jawab Fardhan
Shandy dan Fardhanberjalan beriringan hingga sampai di persimpangan jalan Shandy belok ke arah kiri dan Fardhan tetap lurus. Fardhan sampai di rumah pukul sepuluh lebih yiga puluh delapan menit. Semua orang sudah tertidur, lampu di ruang yamu dan ruang keluarga juga sudah di matikan. Hanya lampu kamarnya saja yang masih menyala di lantai atas.
Fardhan membuka pintu kamarnya, ia melihat tempat tidur yang masih rapi belum tersentuh. Sepi terasa, Fardhan mencari keberadaan Maira dan ia menemukannya tengah tertidur sambil duduk di sofa. Fardhan tahu pasti Maira menunggunya pulang, Fardhan memindahkan Maira ke tempat tidurnya. Setelah itu dia peegi membersihkan diri di kamar mandi dan langsung mengenakan baju tidurnya saat telah selesai mandi.
Fardhan membaringkan diri disamping Maira, ia merasa suhu di ruangan ini terlalu dingin. Fardhan beranjak untuk mengambil remot ac dan mengatur suhunya kembali, padahal suhunya masih normal seperti biasa tapi kenapa jadi terlalu dingin fikir Fardhan.
Saat ia berbaring dan menghadap istrinya, ia melihat ternyata pintu balkon terbuka lebar. Fardhan kembali turun dan menutup pintu dan menguncinya, lalu ia kembali merebahkan diri disamping Maira. Fardhan tidur sambil memeluk erat Maira, karena ia melihat Maira begitu kedinginan karena pintu yang terbuka tadi.
Malam berganti pagi, Azka dan Nisa sudah bersiap akan pulang ke rumahnya pagi ini. Usai sarapan Azka dan Nisa pamit pulang ke rumahnya, dan Fardhan pamit pergi ke kantor. Suasana rumah kembali sepi, tidak seperti kemarin saat masih ada Nisa dan Silmi. Akhirnya Maira duduk melamun sendiri di taman belakang rumahnya.
Karena merasa bosan, Maira meminta izin pada Fardhan untuk pergi ke kafe tempat Aisyah bekerja. Setelah mengizinkannya, Maira langsung bersiap dan pergi sendiri. Sesampainya di kafe pertamanya, Maira langsung naik ke lantai dua dimana ruangannya dan Aisyah digabungkan menjadi satu.
" tumben kesini Mai " kata Aisyah setelah saling sapa
" lagi suntuk aja di rumah sendirian, gak ada kerjaan juga. Mending kesini sambil mantau sesekali lah, jenuh di rumah terus " kata Maira
" harusnya kamu masih istirahat Mai !" kata Aisyah
" bosen Syah, isyirahat terus gak nhapa ngapain badan serasa sakit semua ! eh iya, gimana persiapan pernikahanmu ?" tanya Maira
" alhamdulillah lancar, baru 40% ! sisanya masih nyusul " jawab Aisyah
" waah, cepet banget Syah !" kata Maira
" iya Mai, dua minggu lagi aku akad. Tapi buat resepsinya balik lagi ke rencana awal Mai, soalnya bulan depan mas Arfan pindah kerjanya ke Tangerang Mai. Makanya setelah nikah aku juga gak bisa kontrol kafe seperti sekarang, paling nanti aku serahin ke Ghina aja. Jadi kita bersua bakalan kontrol dari jauh aja Mai ! gak apa kan ?" kata Aisyah
" gak apa dong, Ghina juga bisa di andelin kok !" kata Maira
Keduanya larut dalam obrolan sambil sesekali mengecek laporan.