
Hanya dengan saling memeluk saat tidur, hal itu bisa menenangkan hati bagi Fardhan dan juga Maira. Baik Maira ataupun Fardhan akan merasa tenang dan aman jika tidur saling memeluk, hal itulah yang selalu merwka berdua lakukan saat tertidur.
Pagi hari Maira dan Fardhan tengah sarapan di meja makan. Hari ini rencananya Maira akan pergi ke kafe untuk melepas jenuh saja.
" mas, nanti aku mau ke kafe ya " kata Maira
" iya, kapan berangkatnya ?" tanya Fardhan
" mungkin nanti setelah mas berangkat aja " jawab Maira
" bareng aja sama mas, mas anterin kamu dulu habis itu berangkat ke kantor. Nanti pulangnya mas jemput " kata Fardhan
" iya mas. Tapi mas gak apa apa kan kalau aku peegi keluar ?" tanya Maira
" ya enggaklah, mas juga tahu kali kamu mau ke lafe nemuin sahabat kamu itu kan ? Lagian mas juga tahu kalau kamu bosen di rumah terus " jawab Fardhan
" terima kasih ya mas, mas udah ngerti banget " kata Maira
" iya sayang " jawab Fardhan sambil mengusap pucuk kepala Maira yang ditutupi oleh kerudung
Setelah sarapan, Maira dan Fardhan berangkat. Di tengah jalan, ia melihat ada penjual bunga yang sedang menjajakan dagangannya. Maira melihat salah satu bunga yang ia cari ada disana. Ya, bunga sedap malam berwarna merah.
" mas, bisa kita berhenti dulu disini ?" tanya Maira
" ada apa sayang ?" tanya Fardhan
" aku mau beli dulu bibit bunga itu mas, sebentar aja ya tungguin " jawab Maira
" iya, jangan lama ya " kata Fardhan
kemudian Maira turun dan menghampiri penjual bunga tersebut. Maira membeli bunga yang diinginkannya bersama bunga yang lain yang belum ada di taman belakang. Setelah membelu bunga, Maira masuk kembali kedalam mobil dengan membawa empat macam bunga.
" sudah ?" tanya Fardhan
" sudah mas, ayo kita jalan lagi " ajak Maira
Fardhan kembali melajulan mobilnya ke arah tujuan.
" itu bunganya mau di bawa atau mau di anterin ke rumah ?" tanya Fardhan sambil fokus nyetir
" kalau di bawa nanti keburu layu, tapi kalau di anterin gimana dong. Mai udah janjian sama Aisyah " kata Maira
" nanti mas suruh sopir kantor aja yang anterin ke rumah, biar langsung di tanam sama bibi di rumah. Gimana ?" tanya Fardhan
" beleh mas, terima kasih ya mas " kata Maira
Setelah Fardhan mengantarkan Maira, ia langsung menuju ke kantor dan menyuruh salah satu sopir kantor untuk mengantarkan bunga yang tadi dibeli Maira ke rumahnya.
Baik Maira maupun Fardhan keduanya kini larut dalam pekerjaan yang mereka kerjakan. Maira memeriksa laporan keuangan kafe nya masih tetap sama, pendapatannya masih stabil walaupun tidak sebanyak pendapatan kafe yang kedua nya.
Saat makan siang, Fardhan pergi ke kafe dimana tadi ia mengantar istrinya. Fardhan berniat untuk makan siang bersama Maira. Sesampainya disana, ia tidak melihat Maira dan Aisyah. Fardhan sudah mengira kalau Maira ada di ruang kerja Aisyah, kemudian ia menelfon Maira. Maira keluar dari ruangannya untuk menemui Fardhan.
" belum, baru beberapa menit ! oh iya, kita makan siang bareng ya ! jarang jarang juga kita bisa makan siang bareng begini " ajak Fardhan
" iya mas, ayo " sahut Maira semangat
" Aisyah gak di ajak juga sayang ?" tanya Fardhan
" katanya mau makan siang sama Arfan disini mas " jawab Maira
" ya udah, kalau begitu kita juga makan disini saja sekalian sama mereka " kata Fardhan
" ya udah, biar lebih enak makannya di ruangan Aisyah aja ya mas " kata Maira
" iya, baiklah " kata Fardhan
Maira mengajak Fardhan naik ke ruangan kerja Maira dan Aisyah. Untung saja Aisyah bisa mengerti dan pandai membaca keadaan, jadi ia tidak keceplosan.
" kalian mau pesan makan apa ?" tanya Aisyah
" samakan aja pesanannya syah, minumnya air mineral sama jus strawberi aja " kata Maira
" Syah, kenapa Arfan belum datang juga ?" tanya Fardhan
" masih di jalan kak, sebentar lagi juga sampai " jawab Aisyah
Fardhan hanya ber oh ria saja menanggapi ucapan Aisyah. Fardhan melihat ada sebuah pintu di dalam ruangan kerja ini, ia merasa penasaran.
" Syah, aku mau ke toilet ! dimana toiletnya ?" tanya Fardhan
" masuk aja kesana kak, nanti ada pintu di sebelah kanan " jawab Aisyah
Fardhan pun masuk ia melihat ada sebuah tempat tidur berukuran king size dan sebuah lemari pakaian beserta tv, tepatnya seperti kamar di rumah. Fardhan keluar setelah selesai dan langsung bergabung dengan yang lainnya. Ia melihat Arfan juga sudah datang, sepertinya belum lama.
" hei, baru datang ya ?" tanya Fardhan
" iya kak, sudah lama disini kak ?" kata Arfan
" belum terlalu lama sih " kata Fardhan
" eh iya Syah, tadi di dalem itu kamar buat istirahat ya ? enak banget kayak di rumah, ada lemari sama tv segala " kata Fardhan
" iya kak, aku juga kalau lagi mumet sama kerjaan aku tiduran disana " kata Aisyah
" eh, tapi itu kok meja kerja nya ada dua ?" tanya Fardhan kepo
" iya kak, itu meja kerja teman aku. Dia lagi cuti kerja " jawab Aisyah
Obrolan itu terhenti saat pelayan datang membawakan makan siang yang telah di pesankan, kemudian mereka makan tanpa bersuara sedikit pun. Yang tersengar hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Setelah selesai makan siang, keempatnya ngobrol kembali hingga jam istirahat siang habis. Fardhan dan Arfan kembali ke kantor lagi untuk kembali bekerja. Setelah selesai bekerja, Fardhan kembali ke kafe untuk menjemput Maira. Tadinya Maira akan di antarkan oleh Aisyah karena hari ini ia membawa mobil, tapi Maira bilang kalau ia akan di jemput oleh Fardhan.