Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
58


Ayah dan bunda Aisyah pulang terlebih dahulu, sedangkan Aisyah dan Arfan masih menemani Maira di rumah sakit.


" kak, kita mau bicara " kata Aisyah


" bicaralah " kata Fardhan


" kita mau klarifikasi semuanya " kata Aisyah


Untuk yang kedua kalinya Aisyah menjelaskan kesalah fahaman yang terjadi diantara Maira dan Fardhan, tapi kali ini dibantu oleh Arfan. Arfan pun membetulkan kalau orang yang ada didalam fhoto itu memang dirinya, tapi dia tidak sendiri melainkan bersama Aisyah. Arfan juga menunjukkan chat dari Aisyah yang akan datang bersama Maira. Setelah penjelasan itu kini semua semakin jelas bahwa fhoto yang didapatkan oleh Fardhan adalah dari orang yang ingin mrnghancurkan rumah tangganya dengan Maira. Rencananya Fardhan akan meminta Shandy untuk mencari tahu siapa pemilik nomor itu.


Sore hari Arfan dan Aisyah pamit pulang karena Arfan harus mengantar orang tuanya ke bandara untuk pulang kembali ke Kalimantan. Setelah kepulangan Arfan dan Aisyah tinggallah kini Fardhan dan Maira. Fardhan duduk di kursi dwkat ranjang Maira.


" sayang, maafkan mas yang sudah menuduhmu ! Mas sungguh orang yang sangat berdosa telah menuduhmu hanya karena sebuah fhoto, mas minta maaf ya " kata Fardhan sambil mengecupi tangan Maira


" sudahlah mas, jangan dibahas lagi. Mai sudah memaafkan mas kok. Kita lupakan apa yang terjadi, yang lalu biarlah berlalu mas dan sekarang kita jalani saja kedepannya supaya kita bisa lebih baik lagi " kata Maira


" masya Allah, sungguh mulianya hatimu sayang. Mas malu denganmu ! dengan sesuka hati mas menuduhmu bahkan mendiamkanmu berhari hari, tapi kamu dengan mudahnya memaafkan mas " kata Fardhan


" Mai juga manusia biasa mas, Mai hanya berfikir jika Allah saja memaafkan hambanya yang berdosa, lalu kenapa kita sebagai hamba Nya tidak ? " kata Maira


" terima kasih sayang " kata Fardhan sambil mengecup kening Maira


Lima menit kemudian mama dan papa datang bersama bi Titin. Mama dan papa sudah mendengar ceritanya dari Azka. Saat tadi pagi setelah mendengar penjelasan kenapa Maira di rumah sakit dari Fardhan, Azka langsung memberi tahu orang tuanya tentang kondisi Maira. Mama dan papa segera berangkat setelah mendapatkan kabar itu.


" assalamualaikum " ucap mama


" waalaikumsalaam " jawab Maira dan Fardhan


" Kalian tega gak ngasih tahu mama sama papa " tegur mama


" Mai tidak apa apa kok ma, Mai baik baik saja kok " kata Maira


" baik baik saja gimana Mai, kamu lagi sakit gini ! " kata mama


" maaf ma, ini semua juga Mai yang bilang supaya gak ngasih tahu mama sama papa. Mai takut mama sama papa kefikiran gara gara ini " jawab Maira


" maafkan Fardhan ma, pa gak ngasih tahu mama sama papa " kata Fardhan


" tidak apa nak. Papa tahu kenapa Maira gak bolehin ngasih tahu kita " kata papa sambil menepuk punggung Fardhan


" neng, gimana keadaannya sekarang ?" tanya bi Titin


" alhamdulillah bi, sudah mendingan " jawab Maira


" mama sama papa dari Sumedang langsung kesini ?" tanya Fardhan


" enggak kok, tadi sampainya siang. Kita istirahat sebentar di rumah Azka, sambil tengokin Silmi " jawab papa


" alhamdulillah baik. Tadi Nisa titip bubur ini buat kamu, dia tahu rupanya kalau makanan di rumah sakit itu hambar gak ada rasanya " kata mama terkekeh


" wah, kak Nisa tahu aja kalau Mai gak suka makanan disini " kata Maira


" iya, kakakmu itu tahu bagaimana selera kamu " kata papa


" duh jadi gak enak deh sama kak Nisa, Mai jadi ngerepotin semuanya " kata Maira


Semua terlarut dalam obrolan saat itu. Hari mulai malam, Fardhan masih setia menemani Maira di rumah sakit. Mama dan papa pulang ka rumah Maira dan Fardhan setelah Maira membujuk keduanya. Tinggallah Maira berdua kembali bersama Fardhan


" mas, kapan Mai pulang ? Mai gak betah disini " keluh Maira


" sabar ya. nanti kalau dokter bilang boleh, kita langsung pulang ya ! untuk sekarang sabar dulu saja sampai keadaanmu benar benar membaik " kata Fardhan


" gak bisa besok saja ya ?" tanya Maira pelan


" gak bisa sayang. Sekarang tidurlah, sudah malam. Kamu harus banyak istrirahat biar cepat sembuh " kata Fardhan


" iya mas " kata Maira


" mau mas peluk ?" tanya Fardhan


Maira mengangguk saat mendengar tawaran Fardhan, kemudian Fardhan naik keatas ranjang Maira dan berbaring disamping Maira. Fardhan memeluk Maira, karena biasanya Maira akan lebih cepat tidur saat tidur dalam dekapan Fardhan. Tak terasa Fardhan pun ikut terlelap juga, mungkin dia juga lelah walaupun ia tidak mengerjakan pekerjaannya. Keduanya tidur sambil saling memeluk satu sama lain, keduanya memang sudah sangat rindu dengan situasi saat ini setelah beberapa hari renggang.


Waktu terus berjalan hingga tak terasa sudah satu minggu Maira di rawat di rumah sakit dan Fardhan tidak pernah absen untuk menemani Maira. Semua urusan pekerjaan ia serahkan pada Shandy, ia memang benar benar bisa diandalkan. Hari ini Maira sudah di perbolehkan pulang, hanya saja dokter menekankan kalau Maira harus bed rest selama satu bulan kedepan. Memang penyakit typus ini cukup serius, waktu satu bulan adalah waktu yang tepat untuk beristirahat (pengalaman author ya🤭)


Mama dan papa Maira sudah diberi tahu tadi setelah dokter memeriksa kondisi Maira, jadi hari ini mama dan papa menunggu dan akan menyambut Maira dan Fardhan. Fardhan baru saja selesai mengurus administrasi, ia langsung masuk kedalam ruang rawat Maira. Ia melihat istrinya tengah duduk di atas ranjang dengan kedua kaki yang menjuntai kebawah. Seorang suster sedang membuka jarum infus yang masih menancap di punggung tangan Maira.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊


terima kasiih🙏🏻🙏🏻