
120.
Sekitar pukul lima sore, Fardhan dan Maira tiba di rumah Azka. Begitu sampai ia sudah disambut oleh Zahra dan Silmi didepan pintu.
" assalamualaikum " ucap Maira dan Fardhan kompak
" waalaikumsalaam " jawab Silmi dan Zahra
" bunda bawa apa ?" tanya Silmi dengan suara cemprengnya
" bunda bawa martabak sama roti bakar, Silmi mau ?" tanya Maira
" mau, mau " sambut Silmi begiru antusias
" ya sudah kita masuk dulu ya, kita siapkan dulu. Nanti kita makan bareng bareng oke " kata Maira sambil mengacungkan jempolnya
" ayo masuk Mai, kak " kata Zahra pada Maira juga Fardhan
Sesampainya diruang keluarga, ternyata suasana sepi tidak seperti biasanya. Fardhan pun mengedarkan pandangannya mencari abang dan papa mertuanya.
" Ra, papa sama abang pada kemana ?" tanya Fardhan
" abang sama om lagi di halaman belakang kak. Tadi ngajakin bikin nasi liwet katanya, jadi lagi nyiapin tempat " kata Zahra
" sayang, mas ke belakang ya ! nyusulin abang sama papa " pamit Fardhan
" iya mas, nanti aku nyusul " jawab Maira
Fardhan langsung pergi ke halaman belakang rumah yang tidak terlalu luas, tapi tempatnya nyaman untuk melepas penat. Sedangkan Maira, Zahra dan Nisa mereka sedang menata roti bakar dan martabak yang dibawa Maira tadi dan sekaligus menyiapkan teh panas untuk dibawa ke halaman belakang.
" udah semua, kita ke belakang yuk " ajak Maira
" ayo " sahut Zahra dan Nisa
Zahra dan Nisa saling lirik, jawaban keduanya begitu kompak dan pas.
" cieeeee, kompakan nih yeeeee " ledek Maira
" biarin kan biar seru, ya gak Ra ?" sahut Nisa
" iya dong kak " jawab Zahra sambil bertos ria dengan Nisa
" ayo bantuin bawa kebelakang " kata Maira
Ketiga wanita berhijab itu pun melangkah ke halaman belakang rumah untuk berkumpul bersama menikmati waktu sore.
" makanan dataaaang " kata Maira
" waaaaaah, enak nih kayaknya " kata Azka langsung mengambil martabak
" aku mau bunda " rengek Silmi dengan manjanya
" gak usah manja gitu, ini mama kasih " kata Nisa sambil menyerahkan sepotong martabak dalam piring kecil pada Silmi
" terima kasih ma " kata Silmi
" kamu tahu situasi banget ya Mai, sampai bawa makanan gini. Pas lagi dimakan sore sore ditemani teh tawar kayak gini " kata Azka
" tadi sebelum kita berangkat kesini kita sempet kebayang makan ini sama minum teh tawar sore sore, bayanginnya enak juga kali. Akhirnya kita beli deh waktu kesini. Sekalian kita jadi penglaris buat si abang yang jualan " jawab Maira
" rupanya kuta memang sehati ya " kata Azka
Sore itu semua larut dalam canda tawa ditemani sang surya yang akan berganti dengan rembulan dan gelapnya malam. Setelah puas memakan roti bakar dan martabak, ketiga pria dibelakang berpindah tempat ke ruang keluarga untuk melanjutkan acara ngobrolnya. Sedangkan ketiga wanita berhijab itu kembali ke dapur untuk membuat nasi liwet.
" Mai, ayamnya tinggal dibakar aja sama ikannya juga. Tadi belum kakak pindahkan dari atas kompor " kata Nisa yang sedang sibuk memotong bawang
" kalau ikannya dimana kak ?" tanya Maira
" ikannya masih belum dibumbuin Mai, tolong bumbuin dulu ya. Tadi Zahra lupa kasih bumbunya " kata Nisa
" iya kak " jawab Maira
" sudah selesai kak " kata Maira
" oh iya, kakak lupa. itu lalapannya disiapkan juga ya Mai " kata Nisa
" siapp " kelakar Maira sambil memberi hormat pada Nisa
Satu jam kemudian semua sudah beres dimasak, siap dihidangkan dan siap pula untuk segera disantap. Nasi liwet dengan ikan dan ayam bakar ditambah lalapan dan sambel.
" kita makan dimana ini ? gak mungkin juga kalau di meja makan " kata Zahra
" kita makan disini saja, kita makan lesehan " kata papa
Azka dan Fardhan sibuk bersiap menyiapkan tempat untuk makan bersama walaupun hanya menggelar tikar, tapi serasa ribet saat direcoki oleh Silmi. Setelah selesai Maira, Zahra dan Nisa menata nasi liwet dan lauknya diatas tikar.
" silahkan dinikmati " ucap Maira
" duh, agaknya bakalan nambah nih porsi makan malam ini " kata Azka
" tambang bang, biar montok dikit " seloroh Fardhan
" bukannya montok Dhan, tapi lihat itu perutnya sudah mulai offside itu kebanyakan makan " timpal Nisa membuat semua tertawa
" jangan gitu dong sayang " kata Azka
" sudah sudah, papa sudah lapar ini. Kapan kita makan kalau kalian berbicara terus ?" kata papa
" oh iya Dhan, nanti abang mau bicara sama kamu. Kita bicara di ruang kerjaku saja " kata Azka
Fardhan hanya mengangguk tanda jawaban, dan mengerti kemana arah pembicaraan abangnya kali ini. Setelah selesai makan, Azka mengajak Fardhan ke ruang kerjanya. Sedangkan Maira menemmani papa duduk, karena tidak diizinkan untuk membereskan bekas makan tadi oleh Zahra dan Nisa.
" bagaimana kondisimu sekarang nak ?" tanya papa
" alhamdulillah baik pa " jawab Maira
" syukurlah kalau begitu. Papa takut kamu sakit lagi, apalagi kalau sampai seperti kemarin kemarin. Papa gak sanggup rasanya lihat kamu seperti itu " keluh papa
" ya, maafkan Mai. Itulah sebabnya Mai tidak ingin memberitahukan tentang kondisi Mai, Mai tidak mau menjadi bahan kekhawatiran papa dan abang " jawab Maira
" jangan sembunyikan apapun yang tidak mampu kamu tahan sendiri. berbagilah, siapa tahu dengan begitu kami bisa memberimu solusi untuk memecahkan masalahmu. Jangan pernah dipendam sendiri " kata papa
" iya pa " jawab Maira
Maira masih asik ngobrol dengan papa, dan diruangan kerja Fardhan pun juga ia sedang berbicara mengenai rencana yang akan disusun keduanya.
" bagaimana bang ?" tanya Fardhan
" sejauh ini masih belum bertindak, hanya saja rumah kita masih diawasi. Entah mereka sadar atau tidak jika pemantauan yang mereka lakukan tertangkap CCTV yang kita pasang " jawab Azka
" tahu ataupun tidak tahu kita tetap harus menyusun dua rencana. rencana utama dan rencana cadangan. Kita harus mengantisipasi dan menyiapkannya sedari sekarang dengan matang " tutur Fardhan
" ya, rencananya besok abang akan mengumpulkan Diki dan temannya juga untuk membahas ini. Tapi kita tidak bisa sembarang berkumpul, kita harus mencari waktu dan tempat yang pas untuk berunding " kata Azka
" ya, sebaiknya kita lebih waspada mengingat situasinya pasti sangat berbeda. Nanti kita coba rundingkan dulu dengan Zahra dan Maira juga " tambah Fardhan
obrolan keduanya terhenti saat mendengar suara adzan isya, keduanya langsung meninggalkan ruangan dan masuk kedalam kamar masing masing untuk menunaikan shalat.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading😊