Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
72.


Fardhan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, tergambar jelas dari raut wajahnya yang sedang di kuasai emosi. Hanya lima belas menit, Fardhan sudah memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Ia berjalan dengan cepat menuju ke kamarnya, disusul oleh Maira yang berlari kecil dibelakangnya sambil memanggil manggil namanya.


" mas, jangan marah dulu ! aku bisa jelaskan semuanya " kata Maira memelas


" jelaskan apalagi ? menjelaskan kalau kamu punya hubungan dengan laki laki tadi !" sinis Fardhan


" itu tudak benar mas, dia berbohong ! dia yang selama ini mengejar ngejarku, karena aku tidak pernah menganggapnya. Aku mohon mas percaya sama aku " tangis Maira sambil memegang tangan Fardhan


" sudahlah Mai, bukti sudah menunjukan kebenarannya. Apalagi yang mau kamu sangkal ? aku lelah dengan semua ini Mai, aku lelah. Sekarang terserah padamu saja Mai, pilihan ada ditangan kamu. kamu fikirkan sendiri bagaimana baiknya nasib rumah tangga kita sekarang, kalau kamu mau berpisah dariku silahkan saja, aku tidak akan menghalangimu " kata Fardhan


" tidak mas, aku tidak mau berpisah darimu dan tidak akan pernah terjadi. ini semua hanya salah faham mas ! " kata Maira menangis


" sudahlah Mai, aku lelah !" kata Fardhan


" kenapa kamu bilang kalau aku mau berpisah mas ? atau itu keinginanmu untuk berpisah denganku mas ?" tanya Maira berurai air mata


" bukan inginku untuk berpisah Mai, hanya saja jika kamu menginginkannya aku tidak akan mencegahnya. Dengan begitu kamu akan lebih leluasa menjalin hubungan dengan siapapun tanpa halangan dan ikatan denganku " jawab Fardhan


" tidak mas, kamu bilang begitu karena kamu ingin pisah dari aku kan mas ? karena sampai saat ini aku tidak bisa memberikanmu anak, iyakan ? dan kamu ingin menikah dengan wanita itu iya kan mas ?" desak Maira


plakk...


Satu tamparan mendarat mulus dipipi Maira hingga membuatnya memerah seketika. Maira masih memegangi pipi bekas tamparan suaminya, baru pertama kali ia mendapatkan perlakuan seperti ini.


" jaga ucapan kamu Mai !" bentak Fardhan sambil menunjuk Maira


" tapi alasan itu benarkan mas ?" emosi Maira


" alasan mana yang harus aku benarkan Mai ? kurang apa aku selama ini sama kamu Mai ? aku sudah sabar saat kamu tiba tiba emosi tapa alasan yang jelas, aku sudah sabar saat kamu pergi keluar tanpa meminta izin padaku !" jawab Fardhan tak kalah emosi


" kamu kembali menuduhku selingkuh sampai sampai kamu berani menamparku, pedahal kamu sendiri yang diam diam menjalin kasih dibelakangku dengan dalih permintaan mama dan nenek " jawab Maira


" itu memang benar permintaan mama dan nenek, Mai ! aku tidak pernah menginginkannya !" kilah Fardhan


" tapi kamu menikmatinya mas ! kenapa kamu melakukan semua ini padaku mas ? kamu tega mas, kamu kejam ! " kata Maira


" diamlah Mai !" bentak Fardhan


Kerudung yang dipakai Maira kini sudah tak rapi lagi sepeti tadi, baju yang ia pakai juga sudah penuh dengan keringat dan air mata. Maira membuka kerudung dan menyimpannya.


Maira memegangi dadanya yang terasa sakit tembus hingga ke punggung, ia mencoba mengatur nafas tapi masih sakit juga. Akhirnya Maira pergi ke kamar mandi dan bersandar di pintu sambil memegangi dadanya.


" ya Allah sakit sekali rasanya " rintih Maira dengan suara tertahan menahan sakit


Maira terduduk dilantai tanpa alas apapun. Keringat masih terus mengucur dan sekarang dada dan tulang punggungnya juga terasa sakit. Tadinya ia akan mengganti bajunya yang penuh dengan keringat dan mandi, tapi rasa sakit yang datang menyerang membuat Maira mengurungkan niatnya.


Maira keluar dari kamar mandi, niatnya untuk meminta Fardhan untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Tapi didalam kamar sudah kosong, tidak ada siapapun disana. Rupanya Fardhan pergi kektika Maira masuk ke kamar mandi. Maira memakai kerudung yang baru saja di ambilnya dari lemari dan mengambil tasnya.


Maira keluar dari rumah menenteng tas kecilnya, dia bersandar di tembok pagar sambil memegangi dadanya. Tak lama kemudian Maira menyetop taxi yang lewat.


" pak, ke rumah sakit Permata Medica " ucap Maira menahan sakit


rintih Maira dalam hatinya


" neng kenapa ?" tanya pak sopir


" sakit pak " jawab Maira dengan suara berat


" sakit kenapa neng ? bisa bapak bantu ?" tanya pak sopir terlihat cemas


"lebih cepat pak " pinta Maira


Pak sopir itupun menambah kecepatan mobilnya supaya bisa cepat sampai di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Maira dipapah untuk masuk oleh pak sopir. Sopir itu nampak cemas sekali dengan kondisi Maira saat ini, ia khawatir terjadi hal serius dengan Maira. kejadian saat ini membuatnya teringat kembali dengan anaknya.


Sopir itu berinisiatif untuk mengurus administrasi dengan berbekal KTP yang ada didalam tas Maira. Awalnya ia takut dibilang pencuri karena membuka tas orang sembarangan, tapi keadaan ini sangat mendesak melihat kondisi Maira.


Maira langsung ditangani oleh dokter, karena melihat kondisi Maira yang sudah lemah. Sopir itu bingung harus menghubungi siapa untuk memberi tahukan keadaan Maira saat ini. Ponsel Maira yang sedang ia genggam ternyata sudah kehabisan daya, didalam dompetnya hanya ditemukan KTP dan beberapa kartu ATM dan Credit card. Ia lupa kalau di KTP tercantum alamat lengkap, ia pun pergi ke alamat yang tertera di KTP untuk memberi tahukan kondisi Maira saat ini.


Setelah memencet bel berkali kali, tapi masih belum ada jawaban juga. Akhirnya security yang sedang berjaga keluar menanyakan maksud kedatangannya.


" maaf pak ada perlu sama siapa ?' tanya security


" apa benar ini rumahnya ibu Fairuz Humaira al Farizi ? " tanya sopir taxi


" benar pak, ada apa ? " tanya security


" bisa saya bertemu keluarganya ? ada hal yang ingin saya sampaikan " kata sopir taxi


" wah gak ada pak, ibu tadi pergi. Bapak juga sudah pergi, katanya harus ke Bandung. Baru saja bapak berangkat, emangnya ada apa pak ?" kata security


" tolong bilangin sama majikan kamu kalau ibu Fairuz masuk rumah sakit " kata pak sopir


" iya nanti saya sampaikan. eh tapi tunggu dulu, emangnya neng Maira kenapa ?" tanya security


" gak tahu, tadi ngeluhnya sakit sampai hampir aja gak sadar. Sekarang di rumah sakit Permata Medica " jawab sopir taxi


" terima kasih informasinya, nanti saya hubungi majikan saya " kata security


" iya, kalau begitu saya permisi " pamit pak sopir


.


.


.


.


.


TBC