Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
84


...*****...


" Mai, bangun Mai udah siang !" kata Zahra sambil menepuk pipi Maira pelan


" Mai, bangun ! kamu mimpi nangis " kata Zahra lagi


Maira pun akhirnya terbangun dari tidurnya dengan wajah sembab penuh air mata.


" kamu mimpi Mai ?" tanya Zahra


Maira hanya menganggukkan kepalanya masih terisak


" ya sudah, sekarang kamu mandi dulu ya !" kata Zahra


Maira melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Maira melihat tubuhnya banyak yang memar, pendarahan yang ia alami juga makin sering dan kadang tak dapat ia kendalikan. Ia hanya bisa menangisi nasibnya saat ini, walaupun ia ikhlas dengan apa yang ia jalani sekarang.


" ya Allah, Mai ikhlas jika semua ini Mai alami. Tapi Mai mohon jangan pisahkan Mai dari orang orang yang Mai sayangi. Mai ingin melihat mereka bahagia, Mai mohon ya Allah . Isinkan Mai untuk melihat mereka bahagia sebelum Mai meninggalkan mereka semua ya Allah"


rintih Maira begitu pilu


Setelah selesai dengan membersihkan diri, Mai bergegas keluar dari kamarnya dengan langkah pelan.


" biar aku bantu Mai " kata Zahra membantu memapah Maira


" terima kasih Ra, tapi aku masih bisa kok " kata Maira menepis pelan tangan Zahra


" Ra, temani aku ke rumah sakit ya ! aku mau jenguk mama " kata Maira setelah duduk di meja makan


" iya, nanti aku temani kamu. Kita nanyi berangkat sama Diki ya, soalnya dia punya mobil " kata Zahra


" iya Ra " jawab Maira


Maira memakan sarapannya pagi ini walaupun hanya sedikit, ia langsung meminum obatnya.


" kita berangkat jam berapa ya enaknya ?" tanya Maira


" nanti aja jam sembilan Mai, soalnya kata Diki dia ada perlu dulu sebentar " kata Zahra


" iya, terima kasih ya Ra " kata Maira tulus


" kita sudah lama bersahabat Mai, tak perlu kamu bilang terima kasih segala. Bagiku kamu itu sudah seperti saudaraku sendiri " kata Zahra


" Ra, apa keputusan yang aku ambil sudah benar ?' tanya Maira


" maksudnya ?" tanya Zahra belum mengerti


" tentang kepergianku dari rumah " jawab Maira pelan


" ya, salah gak salah sih ! karena bagaimanapun juga kamu masih seorang istri, seharusnya kamu pergi atas izin dari suamimu. Tapi disisi lain apa yang kamu lakukan juga benar, kamu pergi untuk mencoba melindungi suami dan keluargamu " jawab Zahra


tok tok tok


" assalamualaikum " ucap seseorang diluar sana


" waalaikumsalaam, tunggu sebentar " jawab Zahra


Zahra pun meninggalkan Maira yang masih berada di meja makan.


" Hai Dik ! katanya mau agak siang ? kok jam segini udah datang ?" tanya Zahra


" gak jadi janjiannya, ya udah aku kesini saja " jawab Diki


" oh ya udah, ayo masuk dulu !" ajak Zahra


" Maira nya kemana ? " tanya Diki


" ada, masih sarapan. Bentar ya aku buatkan minum dulu sekalian ngasih tahu Maira " jawab Zahra


" iya " jawab Diki


Diki pun membuka ponselnya, mulai berselancar dengan dunia maya. Sedangkan Zahra sedang di dapur m3mbuatkan minum untuk Diki.


" Mai, Diki udah datang. Kamu siap siap gih, sekalian nanti kita jalan jalan dulu sebentar " kata Zahra


" iya " jawab Maira


Maira bersiap siap untuk pergi. Setelah selesai bersiap, Diki mengajak Maira dan Zahra pergi ke sebuah danau buatan yang indah di pandang mata.


" ini tempat favoritku, kalau aku merasa bosan dan sedih " jawab diki menyunggingkan senyumnya


" emang kamu bisa sedih ? setahu aku kamu itu orangnya happy terus " goda Zahra


" aku juga manusia Ra, yang punya hati dan perasaan " jawab Diki


" Mai, kalau nanti kita ketemu abang kamu dan tanya tanya soal kamu aku harus jawab apa ?" tanya Zahra bimbang


" entahlah, aku tidak bisa seperti ini terus. Tapi aku juga tidak mau membuat mereka dalam keadaan bahaya " jawab Maira


" maaf jika aku mencampuri urusanmu, tapi aku sarankan untuk berterus terang saja. Siapa tahu dengan kamu berterus terang dengan kakakmu, kamu bisa menemukan jalan keluar masalahmu. Sebagai seorang teman aku hanya bisa mengingatkan saja " kata Diki mengeluarkan pendapatnya


" iya, aku rasa juga begitu Mai " timpal Zahra


" ya sudah, kalau begitu aku akan mencobanya nanti " jawab Maira tertunduk lesu


Setelah dari danau, Maira dan Zahra pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Maira kembali bimbang.


" tidak perlu ragu, ada aku dan Diki yang akan menemanimu disini " kata Zahra menguatkan


" bantu aku ya Ra, Dik " kata Maira


" insya Allah " jawab Zahra dan Diki kompak


Maira, Diki dan Zahra pergi menuju ruang yang telah diketahui oleh Maira sebelumnya.


" Mai, aku ke toilet sebentar ya ! kebelet ini " kata Zahra


" iya, jangan lama ya " kata Maira


Maira dan Diki berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu Zahra, biarlah nanti Maira mengirimkan pesan no kamar rawat mamanya. Maira berjalan lebih dulu diikuti oleh Diki di belakangnya, sesekali keduanya mengobrol tentang perkembangan rumah makan yang kini di pegang kendali oleh Zahra.


" oh, jadi ini alasan kamu pergi dari rumah ! Aku gak nyangka ya, ternyata kamu bisa melakukannya dibelakangku " kata Fardhan penuh rasa kecewa


" mas Fardhan " lirih Maira


" iya ini aku ! kenapa ? kaget ya ? gak nyangka aku bisa mergokin kalian disini ? ternyata seorang Maira yang dulu bersikukuh menyangkal perselingkuhan kini ia melakukannya terang terangan, sampai sampai pergi ke rumah sakit berdua " kata Fardhan sungguh menyakiti hati Maira


" ini semua tidak seperti yang kamu lihat mas ! dia hanya temanku saja " bantah Maira


" benar mas, saya hanya teman Maira. Kami tidak ada hubungan apapun " terang Diki


" alaaah, gak usah berkelit ! itu hanya alasan klasik. bisa bisanya kamu berkhianat dengan laki laki lain sedangkan kamu juga tahu sendiri kondisi mama kamu yang entah dimana dan bagaimana keadaannya. Dan sekarang kamu datang kesini untuk apa hah ? " lagi lagi ucapan Fardhan menusuk relung hati Maira


" cukup mas ! anda tidak tahu keadaan yang sebenarnya, jadi jangan anda menyimpulkan semuanya sendiri ! apa yang kita lihat dan kita dengar itu tidak seperti kenyataannya ! Anda tidak tahu apa apa masalah ini jadi harap anda jangan menyimpulkannya sendiri, atau anda akan menyesal atas apa yang anda ucapkan " kata Diki


" menyesal ? apa hatus aku menyesal kalau apa yang aku katakan m3mang kebenarannya ?" tantang Fardhan


" anda tidak tahu apa apa masalah ini. Andai saja anda tahu kalau akar masalah ini adalah... " terpotong


" Mai, kok ditinggalin sih ! maaf ya aku agak lama " kata Zahra merasa tidak enak


" maaf mas saya duluan " kata Maira melanjutkan kembali langkahnya untuk menemui mamanya


Sedangkan Fardhan masih terus ngomel kesana kemari. Ia begitu kesal dengan apa yang ia lihat. Ia sudah bersuaah payah mencarinya kemana mana hingga mengabaikan urusan kantor.


kecewa aku padamu Maira...


aku yang lelah pergi kesana kemari mencarimu, ternyata kamu enak enakan pergi dengan laki laki lain. Sedangkan kamu sendiri tahu kalau mama kamu sendiri tidak diketahui kabar beritanya, tapi dengan manisnya kamu melakukan ini semua. Kamu benar benar tega Maira, aku benar benar kecewa padamu kali ini..


gumam Fardhan


.


.


.


.


.


TBC