
Sedangkan di tempat lain, Fardhan baru saja berangkat ke kantor. Maira kini hanya berdua saja dengan mama mertuanya karena bi Titin sedang belanja kebutuhan dapur yang telah habis.
" Maira " panghil mertuanya
" iya ma, ada apa ?" tanya Maira keluar dari kamarnya
" cuciin baju mama, udah itu nanti bersihkan juga kamar mama. Mama gak mau ya, kamar mama dibersihkan pembantu " kata mama mertuanya dengan angkuh sambil memberikan satu keranjang cucian penuh
" iya ma " jawab Maira lalu mengambil keranjang cucian yang diberikan mertuanya
Jika sebelumnya pekerjaan rumah selalu beres dikerjakan oleh bi Titin, tapi mulai hari ini mama menyuruh bi Titin untuk tidak membersihkan kamarnya, mencuci bajunya juga.
Dengan langkan tenang, Maira mulai membersihkan kamar yang ditempati mertuanya. Dimulai dari membersihkan tempat tidur yang berantakan, menyapu dan mengepel lantai hingga kamar tidur itu terlihat bersih dan rapi walaupun ia harus merasa lelah.
Setelah membersihkan kamar mertuanya, Maira juga mencuci baju ibu mertuanya. Walaupun Maira tahu kalau mertuanya itu sengaja menyurubnya mengerjakan pekerjaan yang harusnya dilakukan oleh bi Titin. Tapi Maira tidak mau membuat masalah, biarlah ini semua ia kerjakan asal tidak membuat mertuanya itu mengeluarkan taringnya.
Setelah selesai mencuci pakaian dan menjemurnya barulah Maira bisa beristirahat, tapi terdengar kembali lengkingan suara mertuanya yang kini memanggil dirinya.
" mama tidak mau makan nasi goreng, mama mau makan masakan kamu sekarang juga " kata mama mertua
" huh, tapi bahan bahannya kan udah pada habis ma. Bi Titin juga belum pualang belanjanya " kata Maira lemah lembut
" masak saja apa yang ada di kulkas, masa tidak ada bahan masakan sama sekali sih. Lagian kamu itu ya, biasakan kalau urusan makanan itu harus kamu yang urus jangan cuma mengandalkan pembantu terus. Kalau semua harus dikerjakan pembantu, lalu manfaatnya kamu jadi seorang istri itu apa ? jangan cuman jadi benalu dirumah " kata mama mertua berhasil membuat Maira memejamkan matanya
" iya ma, Mai minta maaf " kata Maira pelan
" jangan cuman minta maaf saja, tapi kerjakan segera. Udah gak bisa kasih keturunan, jadi benalu pula dirumah. Gak aberguna kamu jadi istri " kata mertuanya dengan emosi
Mendengar semua ucapan mertuanya Maira hanya bisa mengusap dadanya dan menyeka air mata yang mengalir. Mama mertuanya memang tidak menyukainya karena sampai sekarang Maira masih belum bisa memberikan keturunan untuk Fardhan.
Hal itu bukan membuat Fardhan dan Maira senang, justru membuat keduanya tertekan terutama Maira yang selalu jadi sasaran emosi mertuanya jika menyinggung masalah anak. Makanya hingga saat ini peekara anak itu sangatlah sensitif bagi Maira.
Tak ingin terkena amarah mertuanya lagi, Maira melakukan apa yang diperintahkan oleh mertuanya untuk memasak. Memang tadi saat waktu sarapan, mertuanya itu tidak ikut sarapan, entah apa yang dilakukannya. Tapi sekarang Maira tahu alasan mertuanya tidak ikut sarapan bersama tadi. Usai memasak Maira pergi membersihkan dirinya yang kini sudah merasa lengket dengan keringat.
Perlahan ia memijat keningnya yang terasa pusing, tapi ia juga harus kuat agar tidak terlihat lemah apalagi dimata mertuanya. Setelah selesai Maira membersihkan diri, barulah ia bisa beristirahat dengan tenang didalam kamarnya.
Tak terasa waktu terus berjalan hingga kini Fardhan sudah kembali ke rumah. Fardhan merasa ada yang berbeda saat pulang ke rumah karena tidak ada yang menyambutnya didepan pintu. Fardhan langsung pergi ke kamarnya dan melihat Maira sedang duduk bersandar di atas kasur sambil memejamkan matanya.
" sayang " panggil Fardhan
" mas sudah pulang " kata Maira lalu menyalami Fardhan
" biar aku siapkan air untuk mandi dulu mas " kata Maira beranjak dari tempatnya
" tidak perlu, mas bisa sendiri " kata Fardhan mencegah Maira
" mas lihat lihat tubuhmu sangat kurus, dan terlihat pucat. Kenapa ?" tanya Fardhan pelan
" tidak apa apa mas, mungkin karena banyak fikiran saja aku jadi begini. Lagipula setelah aku pergi dari rumah waktu itu aku juga sakit, jadi aku kurus begini " kilah Maira
" Mas harap kamu bisa terbuka pada mas tentang apapun, mas mau kita bisa saling memahami " kata Fardhan sambil mengusap kepala Maira yang tertutupi kerudung
" mas mandi dulu, Mai siapkan baju untuk mas " kata Maira beringsut turun dari kasur perlahan
Pergerakannya menjadi perlahan, ia merasakan sakit yang hebat dan pusing yang tidak bisa tertahankan bersamaan dengan keluarnya darah yang keluar dari hidungnya. Sedangkan Fardhan tidak memperhatikan Maira karena ia sibuk membuka baju dan aksesoris yang menunjang pekerjaannya.
tiba tiba saja Maira terjatuh tak jauh dari ranjangnya dengan posisi membelakangi Fardhan. Hal itu sontak saja membuat Fardhan menoleh dan kaget karena melihat istrinya tergeletak begitu saja.
" sayang, bangun sayang " kata Fardhan sambil menepuk pipi Maira berkali kali
" sayang, Mai bangun Mai " kata Fardhan lagi
Fardhan kaget saat melihat darah yang keluar dari hidung Maira, dengan perasaan cemas yang bercampur panik Fardhan kembali memakai bajunya yang telah ia lepas dan mengenakannya dengan asal. Fardhan membawa Maira ke rumah sakit segera tanpa menghiraukan teriakan mamanya.
" kamu kenapa sayang " gumam Fardhan sambil memegang kemudi dan sesekali melihat Maira yang ada disampingnya
Setelah sampai di rumah sakit, Fardhan langsung berteriak memanggil perawat yang sedang berjaga untuk membantu membawa Maira. Maira langsung dibawa ke ruangan UGD untuk mendapatkan pemeriksaan, Fardhan hanya bisa menunggu diluar dengan perasaan yang tak menentu. Rasa lelahnya hilang seketika menguap entah kemana saat melihat kondisi istrinya yang lemah tak berdaya.
Saat sedang menunggu di depan ruangan, dokter Evan pun lewat dan mengenal wajah yang kini terlihat gusar itu.
" Fardhan " panggil Evan
" Van, kamu disini " kata Fardhan memaksakan senyumnya
" sedang apa kamu disini ? siapa yang sakit ?" tanya Evan
" Maira sakit Van, tiba tiba saja ia terjatuh dihadapanku saat aku pulang dari kantor. Sekarang sedang diperiksa oleh dokter didalam " kata Fardhan tak dapat menyembunyikan rasa cemasnya
" Maira " kata Evan
" ya " sahut Fardhan
" akan aku coba lihat dulu kedalam, kamu jangan cemas ya " kata Evan sambil menepuk pundak Fardhan lalu masuk kedalam ruang UGD
Fardhan akhirnya baru ingat kalau ia belum mengabari Azka, buru buru ia merogoh ponselnya untuk menghubungi Azka dengan tangan yang bergetar. Tak lama kemudian Azka datang bersama Nisa dengan wajah yang sama cemasnya. Evan keluar dari ruang UGD bersama dokter umum.
" bagaimana kondisinya Van ?" tanya Fardhan
" iya, bagaimana kondisinya ?" tanya Azka
" bisa kita bicarakan di ruanganku saja ?" kata Evan dan dianghuki oleh Azka dan Fardhan
" anda bisa kembali dok, biar saya yang jelaskan " kata Evan pada dokter yang bername tag Radit itu
" silahkan dok, saya permisi " kata dokter Rendi pergi meninggalkan Azka dan yang lainnya.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading😊