Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
78


Maira berdiri mematung menatap bagian belakang rumahnya, rumah yang penuh dengan kenangan bersama Fardhan. Maira kemudian masuk kedalam taxi yang telah ia berhentikan sebelumnya.


" pak, ke Farisa kafe terlebih dulu ya " kata Maira


" iya mbak " jawab sopir


Tak lama kemudian Maira telah sampai di kafe dan langsung membuka bagasi mobilnya. Maira meminta sopir taxi untuk memindahkan kope4nya kedalam taxi yang ia tumpangi.


" sebentar ya pak, saya kedalam dulu mau titip kunci " kata Maira


" iya mbak, silahkan " jawab sopir


Maira masuk kedalam kafe dengan memasang wajah ramah dengan penuh senyuman seperti biasa. Maira menghampiri Syifa di meja bagian kasir.


" assalamualaikum Syifa " sapa Maira


" eh, waalaikumsalaam kak Mai. Mau ketemu sama kak Ghina ya ?" tanya Syifa


" iya, boleh panggilkan sebentar ?" kata Maira


" sebentar kak " kata Syifa sambil berlalu pergi


setelah beberapa menit, Ghina dan Syifa menghampiri Maira yang tengah duduk di kursi salah satu meja didekat meja kasir.


" assalamualaikum kak Maira " sapa Ghina


" waalaikumsalaam, Ghin " jawab Maira sambil tersenyum


" ada apa kak ?" tanya Ghina to the point


" kakak mau titip kunci mobil sama kamu, kalau nanti sore masih belum di ambil sama mas Fardhan tolong anter ke rumah ya ! soalnya kakak ada urusan mendesak keluar dan gak boleh bawa mobil, tolong ya ! " kata Maira sambil menyerahkan kunci


" iya kak, kakak tenang aja " kara Ghina


" terima kasih ya. Maaf kakak gak bisa lama, udah ditunggu soalnya. kakak pamit, assalamualaikum " kata Maira


" waalaikumsalaam, hati hati kak " kata Ghina


Maira meneteskan air matanya setelah ia masuk kedalam mobil. Ia sangat merasa bersalah pada semua orang, ia berbohong dan pergi menjauh untuk mengasingkan diri. Belum lagi ia merasa sangat bersalah dan berdosa pada mama nya, karena dirinyalah wanita paling berharga di hidupnya itu menjadi tersiksa dan dalam keadaan bahaya.


Maira meminta sopir mengantarkannya ke terminal saja. Rencananya Maira akan pergi ke Banten, disana ia akan memulai hidup barunya sendiri. Kebetulan sekali Maira juga sudah membuka usaha rumah makan khas sunda, yang baru beberapa minggu ia rintis dan tentunya masih belum ada yang tahu akan hal ini.


Setelah sampai di terminal, Maira langsung memberikan ongkos pada sopir taxi tadi. Maira memakai masker untuk menutupi wajahnya, agar jika ada yang bertanya dan mencarinya maka orang itu tidak bisa mengenali nya.


Maira menaiki bus dan duduk di kursi tengah, fikiran nya berkecamuk. Sakit rasanya jika harus pergi menjauh dari keluarga dan suami, tapi ia tidak bisa egois. Bagaimanapun juga ia harus bisa membuat orang yang disayanginya itu bahagia, dan selamat. Biarlah ia yang berkorban, asalkan semua baik baik saja.


Sesampainya di Banten, Maira di jemput oleh Zahra. Zahra adalah seorang karyawan kepercayaan Maira disini, ia adalah teman masa kecil Maira yang pergi merantau ikut bersama keluarganya.


" assalamualaikum Maira, selamat datang " sapa Zahra


" waalaikumsalam Zahra, terima kasih " jawab Maira


" ayo kita harus segera pergi, sebentar lagi mau maghrib " kata Zahra


" terima kasih Zahra " ucap Maira tulus


Zahra gadis yang selalu mengenakan hijab syari itu membawa Maira ke sebuah tempat yang ada di belakang rumah makan milik Maira. Maira sangat beruntung sekali membeli bangunan dan lahan ini, karena tepat di belakang rumah makan itu terdapat sebuah rumah minimalis dengan ukuran sangat sedang. Rumah itu hanya memiliki dua kamar, satu ruang tamu, ruang tv yang bersatu dengan dapur dan meja makan, dan untuk kamar mandi sudah ada didalam kamar meskipun ukurannya kecil.


Zahra membantu membawa koper Maira masuk kedalam rumah yang akan di tempati itu.


" semua sudah aku siapkan, termasuk bahan makanan sudah aku siapkan full didalam kulkas. Kalau ada yang kurang beritahu aku saja " kata Zahra


" terima kasih ya Ra, maaf udah mengepotin kamu " kata Maira merasa tidak enak


" gak usah gitu Mai, aku senang kok menyiapkannya untukmu. oh iya, kamu boleh cek dulu deh semuanya. Kalau untuk peralatan di kamar mandi belum aku siapkan, karena aku tidak tahu kamu sukanya seperti apa " kata Zahra


" terima kasih banget ya Ra, ini aja udah lebih dari cukup kok. Biar itu jadi tugas aku aja. Oh iya, kamu mau kan malam ini temani aku tidur disini ?" tanya Maira


" iya, aku temani disini. Lagian mama sama adek aku udah kasih izin kok, tenang aja karena aku udah perkirakan hal ini sebelumnya " jawab Zahra


" terima kasih ya Ra, kamu emang the best deh " kata Maira senang


Malam ini Maira dan Zahra tidur di kamar yang berbeda, Maira hanya ingin ada teman dan tidak ingin sendiri. Apalagi ini adalah lingkungan baru, tentunya ia juga harus beradaptasi dengan baik dengan lingkungan baru ini.