
Dalam gelapnya malam, pekat seolah menjadi teman setia yang selalu menywlimuti ketika siang berganti malam. Seberkas cahaya menyilaukan bak menusuk dalam retina mata membuat orang tak sanggup untuk menatap lebih lama. perlahan cahaya itu membesar, menampakkan sosok yang selalu dirindukannya. Sosok itu tersenyum manis dengan wajah yang berseri seri bercahaya, langkahnya mulai mendekat saat menatap wajah ayu penuh kerinduan.
" sayang, mama pamit ya ! maafkan mama yang tidak bisa menemanimu " ucapnya sambil membelai wajah putrinya
" mama mau kemana ? kok pamit ? papa mana ?" tanya Maira
" mama sendiri, papa gak ikut. Mama titip papa, Azka, Nisa dan Silmi ya ! Jaga mereka, sampaikan maaf mama untuk mereka semua " jawab mama memberikan amanat
" kenapa mama bicara seperti itu ? " tanya Maira
" mama harus segera peergi, waktu mama tidak banyak " jawab mama tersenyum sambil perlahan menjauh dari bayangan Maira
" ma, mama " panggil Maira
Tapi sayangnya mama tidak mendengar seruan dari Maira, mama terus berlalu ditelan cahaya putih yang menyilaukan hingga cahaya itu perlahan hilang kembali ditelan kegelapan.
" ma, mama " panggil Maira dalam tidurnya
" Mai bangun mai, kamu kenapa ?" tanya Zahra yang langsung mengguncang lengan Maira
Ya, tadinya Zahra sudah selesai memeriksa laporan keuangan rumah makan yang baru saja dikirim Diki. Saat akan merebahkan diri, ocehan Maira yang terus berlanjut dan terus memanggil mamanya membuat Zahra mengurungkan niat untuk tidur, dan memilih menghampiri Maira.
" kamu kenapa ?" tanya Zahra saat Maira be4hasil ia bangunkan
" mama Ra, aku mimpiin mama ! " jawab Maira masih diliputi rasa cemas
" kamu tenang dulu, semua itukan hanya mimpi. Kita berdoa saja untuk kesembuhan mama " kata zahra
" iya, tqpi aku mau nelfon abang dulu biar tenang " kata Maira dan langsung disetujui oleh Zahra
tuut.. tuut.. tuut..
Dering panggilan pertama belum di angkat, panggilan kedua malah sibuk dan panggilan ketiga pun masih sama.
lagi hubungi siapa malam malam begini ya ? gak biasanya
gumam Maira dalam hati
" lagi sibuk Ra ! tapi kok perasaan aku gak enak gini ya, gak tenang rasanya " keluh Maira
" mungkin itu cuman perasaan aku aja Mai, atau bisa jadi juga efek dari kemo. sekarang tidur aja lagi ya ! nanti pagi kita telfon abang " kata Zahra
" baiklah " jawab Maira
Zahra pun kembali ke kamarnya setelah memastikan Maira benar benar tidur. Zahra tidak tahu apa apa, tapi ia juga bisa merasakan kecemasan hati Maira memang tidak biasa. Akhirnya Zahra berinisiatif untuk menelfon Azka yang setahu dia selalu menemani mama di rumah sakit.
Dering pertama tidak di angkat, dan dering kedua barulah di angkat. Zahra mendengar suara seseorang yang menangis pilu dibelakang sana, membuat rasa penasaran hinggap di benaknya.
π " hallo Ra " kata Azka dengan suara serak
π " loh, suara abang kenapa ? " tanya Zahra
π " mama sudah gak ada Ra, mama udah pe4gi ninggalin kita semua " lirih Azka disertai isakan
deg
Fikiran Zahra serasa melayang, teringat akan firasat Maira yang mengatakan kalau ia merasa cemas dan tidak enak hati. Mungkin ini jawabannya, lalu apa yang tadi Maira impikan tentang mamanya ?
π " bang, abang gak bercanda kan ?" tanya Zahra dengan mata yang mulai mengembun
π " mama udah gak ada Ra, abang bingung bagaimana mengatakannya dengan Maira. Abang takut kondisinya kembali drop " kata azka
π " nanti biar Ara yang bilang sama Mai, sekarang abang sama siapa disana ?" tanya Zahra terisak
π " ada Nisa, papa dan ayah. sekarang abang mau urus dulu administrasi untuk kepulangan jenazah mama. Nanti kamu sama Mai dijemput Ghaisan, nanti kalian langsung ke rumah saja. Abang tutup ya, assalamualaikum" kata Azka
Bukan hanya Azka yang bingung, tapi Zahra juga bingung harus seperti apa mengatakannya pada Maira. Zahra juga takut nanti Maira akan kembali drop setelah mengetahui kalau mamanya telah tiada. Larutnya malam tak membuat matanya lelah untuk terpejam walau sedikit saja, akhirnya ia menelfon Diki yang ia tahu masih belum tidur di saat tengah malam begini.
π " hallo Dik " kata Zahra saat panggilan telfonnya bersambut
π " hallo Ra, tumben jam segini nelfon ! ada apa ?" tanya Diki
π " aku lagi bingung Dik, mamanya Maira meninggal " jawab Zahra pelan
π " innalillahi wa inna ilaihi raaji'un ! terus bagaimana sekarang ?" ucap Diki
π " aku bingung bagaimana cara ngasih tahu Maira, Mai baru membaik dari sakitnya. Aku takut dia akan drop saat tahu kalau mamanya meninggal " kata Zahra mencurahkan keluh kesahnya
π " tapi lebih bagus kalau dia tahu dwngan segera, bagaimanapun juga itu mamanya Maira. Coba kamu bicarakan dengannya pelan pelan, semoga dia mengerti dan tidak tertekan " kata Diki
π " tapi aku takut kondisinya akan kembali menurun Dik, ini saja dia baru kemarin pulang dirawat dari rumah sakit " kata Zahra
π " dicoba dulu aja, beri pengertian. Semoga saja Maira biaa mengerti dan kuat " kata Diki
π " ya, akan aku coba nanti. ya sudah, aku tutup telfonnya ya " kata Zahra
π " iya Ra. Sampaikan pada Maira aku turut berbela sungkawa, dan maaf aku tidak bisa hadir ke pemakaman mamanya " kata Diki
π " iya Dik, nanti aku sampaikan. Assalamualaikum " ucap Zahra
π " waalaikumsalaam " jawab Diki
Selesai ngobrol dengan Diki akhirnya ia hanya diam diatas tempat tidurnya bersandar di headbord. Tak terasa waktu kini telah subuh, Zahra mencoba membangunkan Maira untuk mengajaknya shalat. Setelah shalat nanti rencananya ia akan memberi tahu Maira tentang kabar mamanya.
" Mai, aku mau bicara " kata Zahra
" ada apa Ra ? sepertinya serius " kata Maira
" Ra, maaf ya mengenai abang semalam aku udah menghubunginya. Tapi maaf banget kamu harus sabar ya, semalam abang bilang kalau mama udah gak ada " kata Zahra terdengar pelan diakhir kalimatnya
" maksudnya ? " tanya Maira masih belum mengerti
" mama udah gak ada Mai, mama udah ninggalin kita semua " jawab Zahra lirih
" gak, ini gak bener ! kamu pasti bohongkan Ra !" kata Maira mengelak dengan apa yang diucapkan oleh Zahra barusan
" aku gak bohong Mai ! mungkin itu jawaban dari firasatmu semalam yang memimpikan mama kamu ! ini semua nyata Mai, aku gak berani bohong ! bahkan mungkin sebentar lagi kita akan dijemput oleh kak Ghaisan " kata Zahra menerangkan
Maira tak mendengar lagi apa yang diucapkan oleh Zahra, fokusnya hanya pada satu 'mama'. Bagaimana ini bisa terjadi ? sedangkan kemarin Azka dan Zahra bilang kondisi mama sudah membaik, tapi kenapa sekarang jadi begini.
Zahra juga bingung harus bicara perlahan seperti apa, jadilah ia mengatakan semuanya seperti itu. Sekarang ia berharap Maira akan baik baik saja, bisa menerima kenyataan kalau mamanya telah tiada, dan semoga saja kondisi Maira tidak drop kembali.
.
.
.
.
.
TBC
Happy readingπ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yupzππ»