Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
117


Setelah sampai di rumahnya, Maira dan Fardhan langsung masuk kedalam kamarnya. Ditatapnya semua ruangan, tidak ada yang berubah sedikitpun setelah satu tahun ditinggalkannya. Maira duduk disisi kasur dengan senyum yang mengembang dibibirnya.


" kenapa senyam senyum ?" tanya Fardhan merasa gemas dengan tingkah istrinya


" gak apa apa kok mas, aku hanya senang saja kembali ke rumah ini lagi. Aku kira aku tidak akan pernah bisa menginjakkan kakiku disini lagi " jawab Maira masih tersenyum


" kok gitu ?" tanya Fardhan penuh penasaran


" ya aku kira aku gak akan berumur panjang. Aku kira aku akan masuk kedalam rumah ini tanpa nyawa lagi, hihi " jawab Maira


" hus, kamu itu ya ! gak baik bicara begitu " tegur Fardhan


" emang gitu mas fikiranku dulu. Aku sudah pasrah dengan takdirku jika aku harus meninggal. Tapi rupanya Allah merencanakan sesuatu yang tidak aku duga sebelumnya, hingga kini aku masih menghirup udara yang sama denganmu disini. Aku sangat bersyukur sekali " ucap Maira


" sudahlah, sekarang kamu istirahat ! aku mau periksa beberapa laporan dulu " kata Fardhan sambil mengelus puncak kepala Maira


" iya mas " jawab Maira


Maira membaringkan tubuhnya diatas kasur yang selalu ia rindukan. Selama ia menjalani pengobatan di Jerman, ia tidak bisa merasakan nikmatnya tidur. Ya bagaimana mau nikmat tidur, lah wong tidurnya diatas ranjang pasien terus.


Diruang kerja, Fardhan memeriksa beberapa laporan yang telah dikirimkan oleh Shandy sebelumnya. Dering ponsel mengalihkan perhatian Fardhan dari laptopnya.


Ternyata dari sang mama yang menelfonnya. Entah apa yang akan diucapkan oleh mamanya nanti, yang jelas Fardhan sudah menyiapkan mentalnya. Fardhan merasa sedang diteror jika mamanya yang menelfon, pasalnya hal hal yang tidak ingin Fardhan lakukan malah disarankan oleh mamanya.


Makanya, Fardhan melarang keras mamanya untyk menghubungi Maira. Setelah Farfhan tahu jika mamanya selalu meneror Maira dengan terus menanyakan 'apakah sudah hamil belum?' hal itu membuat Maira tertekan. Untung saja tidak sampai stres juga.


πŸ“ž "hallo Dhan " sapa mamanya


πŸ“ž " ya hallo ma, ada apa ?" tanya Farfhan to the point


πŸ“ž " apa kamu sudah sampai di rumah ?" tanya mama


πŸ“ž " sudah dari tadi. Ada apa ?" tanya Fardhan ketus


πŸ“ž " tidak ada. Mama hanya ingin menanyakan kondisi istrimu sekarang " kata mama terus terang


πŸ“ž " alhamdulillah dia semakin baik setelah kami pulang dari Jerman. Kenapa ?" tanya Fardhan


πŸ“ž " tidak apa apa. mama hanya ingin tahu saja, lagi pula wajar dong seorang ibu menanyakan kabar anaknya " jawab mama


πŸ“ž " aku tahu mama tidak akan menghubungiku tanpa tujuan tertentu. Katakan saja, aku masih banyak pekerjaan " kata Fardhan


πŸ“ž " tidak ada. ya sudah mama tutup telfonnya ya kalau kamu sedang sibuk. Jaga kesehatan kamu nak " kata mama


πŸ“ž " iya " sahut Fardhan lalu sambungan telfon itu ditutup oleh mama


Sebenarnya Fardhan merasa kalau ada sesuatu yang mama sembunyikan darinya. Tapi entah apa itu, untuk sekarang ia tidak bisa memikirkan mamanya. Ia akan fokus pada pekerjaannya yang telah menumpuk, ingin segera menyelesaikannya barulah nanti ia mencari tahu tentang ibunya.


Sekesal apapun Fardhan pada mamanya, tapi ia juga tetap masih memperhatikan mamanya. Walau bagaimanapun juga baik buruknya perangai sang mama, ia tetaplah orang yang telah melahirkannya kedunia ini. Sebenarnya Fardhan menyayangi mamanya, hanya saja melihat sikap mamanya pada Maira membuatnya menjadi tidak terlalu respect padanya.


Bukankah hal itu wajar terjadi pada manusia ? Yang namanya manusia akan merasa kurang respect terhadap orang yang telah melukai hatinya. Hal ini juga yang dirasakan Fardhan saat ini, mama sering melukai perasaan istrinya tanpa mama sadari jika Fardhan tahu semua itu.


Sampai pada akhirnya mama yang memaksa Fardhan untuk menikah dengan Kirana, wanita yang hadir dimasa lalunya. Tapi Fardhan menolak dengan keras permintaan mamanya itu. Merasa sudah lelah, ia pun kembali ke kamar menemui istrinya. Dilihatnya Maira yang sedang duduk bersandar sikasur sambil memainkan ponselnya.


" lagi apa sih kok kamu anteng banget ? " tanya Fardhan


" aku lagi main permainan mas, jenuh juga kalau terus diam seperti ini. oh iya, ada yang mau aku katakan " kata Maira


" apa ? katakanlah " ucap Fardhan


" dimana ?" tanya Fardhan


" ada tempatnya, nanti aku kasih tahu. Yang ajarinnya temen aku juga kok " jawab Maira


" kita belajar sama sama ya, mas juga mau belajar juga " kata Fardhan


" iya mas, nanti aku bilang ke teman aku kalau kita akan belajar disana " kata Maira sumringah


" ya sudah, mas mau mandi dulu ya " kata Fardhan lalu masuk kedalam kamar mandi


Semwntara Maira kini ia kembali membuka aplikasi chatnya untuk menghubungi temannya, karena ia juga akan mendaftarkan Fardhan. Usai mendaftarkan nama Fardhan, Maira menyiapkan baju ganti untuk Fardhan dan menyimpannya diatas kasur.


" mas, tadi aku udah daftarkan mas juga. Nanti untuk latihan pertama kita akan kita mulai hari Sabtu. Untuk latihannya kita bisa mengambil hati sabtu atau minggu, nunggu mas libur ngantor aja " kata maira setelah Fardhan keluar dari kamar mandi


" iya, kamu atur saja sayang nanti mas akan usahakan untuk waktunya " kata Fardhan sambil mengusap rambut Maira


" iya mas. Mai mandi dulu ya " kata Maira berlalu pergi ke kamar mandi


*****


Sedangkan di rumah Azka, ia tengah bermain bersama Silmi ditemani papa. Rasa lelahnya setelah bekerja dikantor hilang seketika saat melihat Silmi menyambut kedatangannya dengan antusias, bahkan ia sampai menunggu di depan pintu.


" Dhan, bagaimana dengan perusahaan ?" tanya papa


" alhamdulillah baik pa, papa tenang saja. Nanti kalau ada hal yang tidak bisa Azka selesaikan baru akan minta bantuan papa. Tqpi sejauh ini semua bisa Azka kendalikan " jawab Azka


" Dhan, apa besok kamu ada waktu luang ?" tanya papa


" ada apa pa ?" tanya Azka balik


" papa hanya mau kemakam mama saja, kalau kamu ada waktu antar papa kesana ya " kata papa


" oh, ke makam. Iya nanti Azka antar papa, lagi pula tidak ada jadwal penting besok. Jadi Azka bisa cuti dulu sehari, biar perusahaan Ghaisan yang handle " kata Azka


" tapi kalau kamu ada pekerjaan tidak apa, kita bisa menundanya lusa. Lagipula lusa itu week end jadi kita bisa kesana bersama tanpa mengganggu pekerjaanmu " kata papa


" tidak apa apa, lagipula Azka mau istirahat pa. Akhir akhir ini kan Azka bolak balik terus keluar kota, jadi tidak apalah kalau cuti sehari saja. Ghaisan juga pasti bisa memaklumi " kata Azka


Semenjak meninggalnya sang istri, papa memang lebih banyak diam. Tapi itu semua tidak terlalu terlihat karena selalu ada si kecil Silmi yang selalu mengajak kakeknya untuk bermain, hingga papa bisa melupakan kesedihannya walau hanya sebentar saja.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊


Terima kasiihπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»