Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
113


Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Maira pulang ke rumah. Azka dan Nisa juga papa termasuk Silmi turut serta mengantar Maira pulang ke rumah. Ya, papa sudah tahu mengenai kondisi Maira, walaupun awalnya sempat membuat keaehatan papa menurun.


Setibanya di rumah, Maira sudah disambut oleh Zahra dan Aisyah. Sedangkan mama Fardhan sudah pulang ke Palembang sesaat setelah Maira dilarikan ke rumah sakit karena ada urusan penting dan mendadak. Fardhan hanya bisa mengembangkan senyumnya saat melihat orang orang terdekat Maira berkumpul, dan hal itu membuat Maira merasa bahagia.


Sebagai perayaan Maira yang pulang dari rumah sakit, Fardhan mengadakan makan bersama. Walaupun acara yang sangat sederhana, tapi tidak mengurangi kebahagiaannya dan sang istri. Melihat Maira yang tersenyum membuatnya merasa optimis jika Maira bisa sembuh dari penyakitnya. Usai makan bersama, Maira mengajak Zahra dan Aisyah ke kamarnya. Sdangkan yang lainnya duduk di ruang keluarga untuk ngobrol.


" Oh iya, bagaimana rencana keberangkatan kalian ke Jerman ?" tanya papa


" insya Allah secepatnya pa. Fardhan nunggu Maira bener bener sehat dulu " jawab Fardhan


" nanti kabari papa kalau sudah akan berangkat " kata papa


" papa tenang saja, nanti kalau Maira akan berangkat kita juga akan mengantarnya ke bandara. Atau kalau perlu papa bisa berangkat juga kesana menemani Maira dan Fardhan " kata Azka


" tidak, tidak seperti itu. Hanya saja papa ingin menghabiskan waktu bersama Maira sebelum Maira pergi ke Jerman. Pasalnya tidak mungkin sebentarkan disana, pasti lebih dari dua atau tiga bulan " kata papa


" gini aja, mending papa disini dulu menemani kami. Nanti kalau kami berangkat, papa bisa kembali ke rumah papa. Kalau papa hatus bolak balikkan capek, yang ada papa juga malah sakit nantinya " kata Fardhan


Usai obrolan seputar rencana keberangkatan Fardhan dan Maira ke Jerman, obrolan selanjutnya bertemakan pekerjaan. Sedangkan Nisa kini sedang mengasuh Silmi untuk bermain sambil sesekali mendengarkan obrolan ketiga laki laki yang sedang duduk di sofa.


Lain halnya lagi dengan Maira, Zahra dan Aisyah.


" Syah, aku mau minta tolong sama kamu " kata Maira yang sedang duduk bersandar di tempat tidur


" katakan saja, jangan sungkan " jawab Aisyah


" tolong jualkan beberapa asetku, berobat di Jerman pasti memerlukan banyak biaya. Aku tidak ingin terlalu merepotkan mas Fardhan dan abang, karena pengobatan disana pasti sangat mahal berbeda dengan rumah sakit disini. Setidaknya aku punya pegangan untuk kebutuhan sehari hari selama disana " kata Maira menatap lekat wajah Aisyah


" kenapa harus di jual Mai ? kan sayang, lagi pula kamu mengumpulkannya sejak dulu ketika pertama masuk kerja " kata Aisyah


" tapi aku tidak punya pilihan lain lagi Syah. Kalau aku menjual asetku yang lain, aku tidak bisa. Ada banyak orang yang bergantung pada pekerjaan sekarang " kata Maira


" maksudnya gimana Mai ?" tanya Zahra kurang mengerti dengan arah pembicaraan Maira dan Aisyah


" Maira ingin menjual barang berharga yang dia punya Ra " jawab Aisyah


" terus maksudnya banyak orang yang bergantung pada pekerjaan itu gimana maksudnya Syah ?" tanya Zahra lagi masih kurang mengerti


Aisyah melirik pada Maira sejenak, dan ia pun akan mengatakan saja sejujurnya tentang usaha yang di rintis oleh Maira dan dirinya.


" sebenarnya, kafe tempat kita bekerja itu milik aku dan Maira. Tidak hanya disana, kita juga sudah buka cabang di dekat danau. Hanya saja disana bukan aku ataupun Maira yang pegang " jawab Aisyah


" masya Allah, ternyata kalian itu wanita mandiri dan pekerja keras ya. Terus apa rumah makan yang di Banten juga milik kalian berdua ?" tanya Zahra kepo


" rumah makan ?" tanya Aisyah sambil mengernyitkan keningnya


" tidak, rumah makan itu milikku pribadi " jawab Maira


" Jadi kamu mendirikan rumah makan tanpa memberi tahuku Mai ?" tanya Aisyah


" jadi masih belum ada yang tahu tentang usaha ini ?" tanya Zahra polos


Maira dan Aisyah hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun. Zahra dan Aisyah tidak tahu saja kalau Maira juga sudah mendirikan sebuah toko kue. Tapi toko kue itu masih terbilang kecil, belum berkembang sebesar kafe.


" lah, kalau usaha dimana mana ngapain mau jual aset segala ? kan keuntungan tiap bulannya selalu masuk rekening Mai " tanya Aisyah


" iya, tapi itu tidak akan cukup Syah. Jadi aku minta besok tolong cairkan ya, nanyi aku kasih tahu tempat aku simpan barangnya " kata Maira


" ya sudah, sekarang kamu istirahat saja. Kita akan bergabung dengan yang lain dibawah, kasihan kak Nisa cuman sendiri wanitanya disana " kata Zahra


" terima kasih ya kalian sudah mau membantuku " kata Maira


" tidak perlu sungkan, kita ini keluarga. Yah walaupun tidak terikat darah, tapi kita tetap keluarga, kita saudara. Jadi jangan sungkan ya " kata aisyah


" terima kasih " ucap Maira tulus


Zahra dan Aisyah pun pergi meninggalkan Maira sendiri. Setelah Zahra dan Aisyah keluar dari kamarnya, Maira mencoba untuk berdiri turun dari tempat tidur dan berjalan tertatih tatih menuju meja rias.


Satu hal yang tidak pernah disadari oleh Fardhan, kalau disamping atas meja rias ada sebuah lukisan berukuran sedang. Dibalik lukisan itulah Maira menyimpan kartu ATM hasil usahanya, yang ia miliki selama ini dan ada juga antam yang ia simpan bersama surat suratnya. Surat kepemilikan tanah dan kafe juga Maira yang menyimpannya, dan disimpan dalam satu kotak yang sama.


Maira mengeluarkan kartu ATM yang ia simpan, dan antam yang akan ia jual untuk menambah biaya ketika nanti di Jerman. Semua itu Maira lakukan karena ia sadar, perusahaan suami dan abangnya tidak sebesar perusahaan lain. Jadi untuk pembiayaan pasti ada batasnya, makanya ia tidak mau terlalu membebani Azka dan Fardhan.


Setelah mengambil yang ia perlukan, Maira menyimpannya kedalam sebuah kotak. Sedangkan ATM tadi ia masukkan kedalam dompetnya. Walaupun cita cita awalnya Maira tidak ingin menggunakan penghasilannya dari usaha yang ia dirikan secara pribadi bersama Aisyah untuk kepentingannya sendiri, tapi keadaannya yang membuat beberapa kemungkinan, membuat Maira harus mempersiapkan segalanya sedari dini.


Tadinya hasil uang usaha itu akan ia gunakan untuk membuka usaha lagi, tapi keasaannya sekarang beebeda. Biarlah rencana itu akan ia wujudkan nanti setelah pengobatannya selesai dan dinyatakan sembuh.


Maira menyimpan kotak itu didalam laci nakas tepat disampingnya, sedangkan ia kembali berbaring karena merasa tubuhnya memang tidak bisa dibawa aktifitas berlebih. Untuk berjalan saja sekarang ia merasa kesulitan apalagi beraktivitas yang lain.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊


Alurnya akan Rose percepat ya, nanti ada beberapa kejutan menanti didepan ya..


so, ikuti terus ceritanya ya😁