
...#####...
Zahra dan Ghaisan menghampiri Azka yang duduk di kursi tunggu dengan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Zahra dan Ghaisan saling tatap, k3duanya sudah menduga kalau ada hal yang terjadi.
" ada apa bang ?" tanya Zahra yang kini duduk disamping Azka
" kondisi mama kembali kritis " lirih Azka
" yang sabara ya bang, Ara yakin mama dan Maira bisa melewati masa kritisnya. Kita berdoa saja bang, semoga mama dan Maira segera sadar dan sembuh seperti sedia kala " kata Zahra
" iya benar yang dikatakan Zahra. Kamu harus kuat, kamu harus yakin kalau keduanya akan sembuh dan kembali lagi bersama kita seperti sebelumnya " tambah Ghaisan
" oh iya Ghais, tolong ngantikan aku di perusahaan selama aku disini menjaga keduanya " kata Azka pada Ghaisan
" tenang saja, masalah kantor biar aku yang handle. Kamu fokuslah pada mama dan adikmu. Nanti kalau ada apa apa atau hal penting lainnya aku akan mengabarimu langsung " jawab Ghaisan yakin
" terimakasih Shan sudah mau membantuku " kata Azka
" tidak perlu berterima kasih, kita memang harus saling membantu. Lagi pula itu juga sudah tugasku menggantikanmu di kantor saat kau tidak ada ! aku be4angkat dulu, Assalamualaikum " pamit Ghais lalu pergi ke kantor
" waalaikumsalaam warahmatullah " jawab Azka dan Zahra
*****
Didalam rumah, kini Fardhan sedang mengganti baju setelah selesai membersihkan diri. Setelah selesai bersiap, ia pun bergegas menuju meja makan. beberapa menu makan telah tersaji diatas meja makan, tapi itu tidak membuat Fardhan merasa lapar.
sampai kapan ini akan terus berlanjut ? aku sungguh kehilanganmu Maira, biasanya setiap pagi kita akan duduk bersebelahan dan makan satu piring berdua. Walaupun aku merasa sakit saat bertemu denganmu di rumah sakit kamu bersama seorang pria, tapi aku tetap tidak bisa membencimu. Aku hanya merasa marah dengan sikapmu, kenapa tidak berterus terang saja jika memang sudah tidak nyaman bersamaku. Aku berharap kita akan bersama kembali sayang, walaupun kau mengkhianatiku tapi aku yidak akan pernah melepaskanmu. Aku harap kita cepat kembali bersama..
batin Fardhan
Akhirnya Fardhan tidak memakan makanannya, ia langsung pergi ke kantor begitu saja. Memang setelah Maira pergi meninggalkan rumah Fardhan seperti tidak terurus, penampilannya nampak berantakan. Bahkan karyawan di kantornya pun merasa heran dengan Fardhan akhir akhir ini, karena mereka tidak tahu masalah pribadi Fardhan.
" apa jadwalku hari ini ? " tanya Fardhan pada Shanty sekertarisnya
" siang ini bapak ada meeting bersama tuan Leo, dan nanti jam tiga anda ada meeting dengan pak fadli dari kota C " jawab Shanty
" trus, apa shandy sudah datang ?" tanya Fardhan
" belum tuan, tadi beliau mengabari kalau nanti akan langsung ke perusahaan saat sudah sampai " jawab Shanty
" baiklah, terimakasih " kata Fardhan langsung masuk kedalam ruangannya
kasihan juga ya kalau lihat si bos kayak gitu tiap hari, jadi gak tega aku. Semoga masalah si bos bisa cepat teratasi dengan baik.
gumam Shanty yang tahu jika Fardhan sedang memiliki masalah pribadi
Didalam ruangannya Fardhan langsung duduk di kursi kebesarannya sambil memegang dadanya yang terus berdebar tak biasa sedari bangun tadi. Fikirannya juga terus teringat dengan Maira, entah apa yang sedang ia rasakan apakah sebuah firasat atau sebuah kekecewaan saja, bisa jadi juga rindu yang tak terobati. Itu semua hanya Fardhan yang tahu.
" ada apa denganku ? tidak biasanya dadaku berdebar debar seperti ini terus. Fikiranku juga kenapa tidak bisa lepas dari Maira, ada apa ini ?" gumama Fardhan
Ia kembali mencoba memfokuskan diri dengan berkas berkas yang ada di hadapannya. Walau ia sendiri tidak bisa membohongi diri jika fikirannya terus terfokus pada bayang bayang Maira.
*****
Sementara di kafe, Aisyah selalu saja melamun semenjak Maira pergi meninggalkan rumah. Bagaimanapun juga persahabatan Aisyah dan Maira sudah selayaknya saudara kandung. Arfan yang melihat istrinya murung seperti itu pun merasa kasihan dengannya, Aisyah pasti merasa kehilangan. Selain jejaknya yang menghilang begitu saja, nomor ponselnya pun sudah tidak aktif lagi.
" jangan terus memikirkannya sayang, nanti kamu sakit ! Sebaiknya kita berdoa saja semoga Maira selalu baik baik saja dimanapun ia berada " kata Arfan
" ya, tapi alu juga tidak bisa memungkiri kalau aku tidak bisa mengalihkan fikiranku padanya walau hanya sejenak saja " jawab Aisyah
" aku mengerti, nanti kita cari tahu lagi informasinya ya. Dan semoga kali ini ada berita baik yang kita dapatkan " kata Arfan
" aamiin, semoga saja mas "jawab Aisyah
Sedangkan di rumah sakit, dokter sedang berlari menuju ruang rawat mama Azka. Beberapa menit yang lalu kondisinya terus saja menurun dan tidak menunjukkan perkembangan, walaupun peralatan medis sangat lengkap dan obat yang diberikan pun juga obat yang terbaik. Tapi jika kehendak yang berbicara kita tak bisa berbuat apa apa, kita hanya bisa berdoa dan berusaha saja seterusnya Allah yang menentukan.
" bagaimana dok ?" tanya Azka saat melihat dokter keluar dari ruangan mamanya
Azka duduk termenung di kursi tunggu, ia sedang memikirkan bagaimana cara ia harus memberi tahukan kabar ini. Tqpi ia berfikir kembali, papa dan Nisa harus tahu kondisi mama yang sebenarnya saat ini. Biarlah masalah Maira ia yang akan mengurusnya bersama Zahra.
tuut tuut
π " hallo assalamualaikum mas " kata Nisa saat sudah tersambung
π " waalaikumsalaam sayang, aku mau kasih tahu kalau kondisi mama terus menurun " kata Azka lesu
π " menurun bagaimana ?" tanya Nisa kurang m3ngerti
π " kondisi mama terus memburuk. Kemungkinan akan k3mbali sadarnya tipis, aku takut ! " kata Azka
π " aku akan segera kesana sama papa mas, kita berdoa saja semoga semua baik baik saja " kata Nisa mencoba menenangkan
π " ya, sebaiknya begitu " kata Azka
π " ya sudah aku akan bersiap dulu dan memberi tahu papa " kata Nisa
π " iya sayang, kalian hati hati di jalan ya " kata Azka
π " aku tutup dulu ya telfonnya mas, Assalamualaikuum " ucap Nisa
π " waalaikumsalaam warahmatullah " jawab Azka
Azka bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan menuju ruangan sebelah tempat Maira dirawat.
" apa masih belum sadar juga Ra ?" tanya Azka
" belum bang, semoga Mai bisa cepat sadar " jawab Zahra
" bagaimana dengan mama ?" tanya Zahra
" kondisinya semakin memburuk. Saat ini kita hanya bisa berdoa saja, semoga mama cepat sadar "jawab Azka lesu
Percakapan antara Azka dan Zahra rupanya terdengar oleh Maira dan terbawa ke alam bawah sadarnya.
" kamu mau t3tap diaini atau pulang ? abang bisa kok kalau kamu mau istirahat " kata Azka
" todak bang ! alu akan disini beraama Maira, abang fokuslah pada mama dulu " jawab Zahra
" bailah kalau begitu, abang beli makanan dulu ya untuk makan siang ! Kamu mau makan sama apa ?" tanya Azka
" apa aja bang " jawab Zahra
Azka keluar mencari makanan untuknya dan Zahra, karena sudah waktunya makan siang.
.
.
.
.
.
TBC
maaf ya readers, di bab yang belakang author salah ngasih nama..
Haruanya kan Ghaisan yang asistennya Azka, tapi malah Shandy. Maaf ya, terlalu banyak typoππ»ππ» harap maklum, masih amatir dan pemula juga..
terima kasiih sudah mampir, semoga kalian sehat selalu ya....