Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
66.


Dua bulan telah berlalu...


Saat ini Maira dan Fardhan tengah menunggu kedatangan adiknya, Fardhan dan Maira pergi ke Palembang untuk menemui mama dan Faridah. Sudah lama Fardhan tidak pulang ke kampung halamannya untuk menengok mama dan adiknya.


Tidak lama Faridah datang, ia menjemput kakaknya sendirian karena mama masih meeting di kantor.


" assalamualaikum kak " ucap Faridah


" waalaikumsalaam " jawab Maira dan Fardhan


" yuk ah langsung pulang kak, kalian pasti capek " ajak Faridah


" iya, gerah lagi jadi pengen langsung mandi " kata Fardhan


" yuk ah " ajak Faridah lalu melenggang terlebih dahulu


Faridah duduk di kursi kemudi, srdangkan Fardhan dan Maira duduk di kursi belakang.


" duh, serasa jadi sopir ini " kata Faridah


" biarin, kali kali jadi sopir kakak sendiri " kata Fardhan


" biarin aja Far, yang penting cantik " timpal Maira


" nah itu dia kak, yang penting cantik ! " kata Faridah


Faridah melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Setelah be4kendara hampir satu jam lamanya, akhirnya Maira, Fardhan dan Faridah kini sampai si rumah mama. Faridah mengajak Maira dan Fardhan langsung masuk ke rumah. Ketika pintu rumah terbuka, mama dan nenek langsung menyambut kedatangan Maira dan Fardhan. Keduanya dusuk di ruang keluarga dan ngobrol menceritakan hal hal yang terjadi. Mama merasa senang karena anak dan menantunya sengaja datang untuk menjenguknya.


" Dhan, gimana usaha kalian buat punya momongan ? sudah berhasil ?" tanya nenek


" belum nek, tapi kita masih tetap berusaha kok ! " jawab Fardhan


" jangan terlalu bersantai Dhan, ingat kamu itu sudah berumur ! kamu butuh keturunan " kata nenek sambil memandang sinis pada Maira


" ya kalau belum di kasih sama Allah mau apa nek, kita cuman bisa berdoa dan berusaha. Selebihnya Allah yang menentukan, kita tidak punya kuasa apa apa nek " kata Fardhan


" pintar ngejawab lagi sekarang " kata nenek lalu pergi ke kamarnya


Fardhan melihat raut sedih di wajah istrinya langsung mengajak Maira ke kamar untuk istirahat. Ia tahu saat ini istrinya bukan hanya lelah dengan badannya saja, tapi ia juga lelah dengan batinnya. Fardhan tahu benar perasaan itu, setiap ada yang mengungkit anak pasti Maira akan langsung bersedih.


Setibanya di kamar, Fardhan langsung menyimpan tas Maira dan kopernya. Fardhan memeluk Maira yang kini tengah tertunduk bersedih.


" maafkan aku mas " li4ih Maira sambil terisak


" tidak apa sayang. Maafkan ucapan nenek ya, mas harap kamu visa memahami dan memakluminya " kata Fardhan


" tapi yang di katakan nenek ada benarnya juga mas. Sudah lama kita berusaha tapi tidak ada hasilnya mas, semua nihil " isak Maira


" bukan tidak ada sayang, tapi belum ! sudah ya, jangan nangis lagi. Lebih baik sekarang kita mandi dulu lalu istirahat ya " kata Fardhan sambil mengusap air mata di pipi Maira


Maira mandi terlebih dahulu, ia sudah tidak tahan dengan rasa gerah. Kulit Maira itu agak sensitif, kalau ia terlalu berkeringat maka kulitnya akan beubah memerah dan gatal. Maira keluar dari kamar mandi dengan rapi dan segar, ia langsung berbaring di kasur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Fardhan pun melakukan hal yang sama setelah mandi. Keduanya tidur saling memeluk satu sama lain, dan tidur pulas karena merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh.


Suara adzan ashar membangunkan Maira dari tidur lelapnya. Ia melihat suaminya masih tidur pulas disampingnya. Perlahan ia mengusap dan mengecup bibir Fardhan lalu beranjak pergi untuk wudhu. Selesai berwudhu, ia kembali ke kamarnya dan melihat Fardhan sudah terbangun.


" iya sayang " jawab Fardhan lalu pergi untuk wudhu


Setelah selesai wudhu, Fardhan melaksanakan shalat bersama Maira. Setelah selesai shalat Maira dan Fardhan keluar dria kamar dan bergabung dengan mama dan Faridah di ruang keluarga yang kini sedang menonton tv. Waktu terus berjalan, Maira dan mama turun ke dapur untuk memasak makan malam.


Setelah selesai memasak, mama dan Maira kembali ke kamar masing masing untuk bembersihkan diri dan berkumpul kembali setelah shalat isha. Semua berkumpul di meja makan dan menikmati makan malam tanpa bersuara. Nenek langsung pergi ke kamarnya setelah selesai makan, sedangkan yang lain masih duduk di tempatnya masing masing dan mulai ngobrol ringan hingga mama pun menanyakan hal serupa dengan nenek tadi siang.


" bagaimana, apa sudah ada tanda kalau mama akan punya cucu ?" tanya mama


" masih belum ma, sabar ya ! Kita juga masih nunggu, mudah mudahan bisa secepatnya " jawab Fardhan


" mama harap begitu, mama juga mau seperti teman teman mama menimang cucu, mengajaknya main juga jalan jalan " kata mama


" ya mama doakan saja semoga kita juga bisa segera punya anak " kata Fardhan, sedangkan Maira hanya tertunduk bersedih


" bukan hanya mama dan nenek saja yang mengharapkan kehadirannya, tapi aku juga sangat mengharapkannya ma ! Aku dan mas Fardhan sudah berusaha sebisa mungkin, tapi apalah daya kalau Allah belum menghendakinya !"


batin Maira menjerit


Maira berlari pergi ke kamar, pertanyaan nenek dan mama Fardhan sungguh terasa menyudutkannya. Ia juga merasa kecewa dengan dirinya sendiri, hidupnya terasa hampa. Ia kini menangis dengan posisi telungkup di tempat tidur, jujur ia merasa sangat tertekan dengan pertanyaan itu. Apalagi dengan perkataan nenek tadi siang.


Tak lama Fardhan pun menyusul Maira dan melihat istrinya tengah menangis di tempat tidur. Ia sudah sering melohat pemandangan seperti ini, bukan hanya saat ini saja bahkan hampir setiap hari Maira menamgis seperti itu.


" sudahlah sayang, jangan menangis terus ! Yang lebih tahu semuanya hanya Allah, Dia yang lebih tahu apa yang terbaik bagi umatnya " kata Fardhan sambil mengusap kepala Maira


" aku harus bagaimana mas,enghadapi semuanya ? bahkan sedari dulu mama kamu menanyakannya padaku mas, dan sekarang nenek kamu juga sama. Bahkan lebih parah lagi, nenek kamu terus memojokkan aku mas ! aku harus bagaimana ? ini semua juga diluar kuasaku " isak Maira


" sudahlah, apa kamu tidak lelah hampir setiap hari menangis dengan alasan yang sama? sudahlah "kata Fardhan


" mas bilang begitu karena mas tidak merasakannya mas, bagaimana rasanya jadi aku !" isak Maira lagi


" sudahlah Mai ! kamu jangan kekanak kanakan begini !" tegas Fardhan


" kekanakan kamu bilang mas ? coba sekali saja kamu rasakan bagaimana menjadi diri aku mas, apa masih bisa kamu bilang aku kekanakan !" jawab Maira


Fardhan tidak menjawab kembali ucapan Maira. Memang ia tidak merasakan apa yang dirasakan istrinya.


Akhir akhir ini pertengkaran sering terjadi diantara Maira dan Fardhan. Sifat Maira yang perasa membuatnya tersiksa kala mendengar pertanyaan yang hanya itu itu saja. Sedangkan Fardhan lebih cuek dan santai menghadapi pertanyaan tersebut, karena memang sudah biasa sikap laki laki akan seperti itu.


Bukan hanya pasal anak, Maira juga merasa tertekan dengan teror yang terus datang menghantuinya. Hanya saja Maira tidak menceritakan teror yang didapatkannya pada Fardhan. Mulai dari kiriman fhoto Fardhan berdua dengan seorang wanita, pesan untuk menjauh dan pergi dari Fardhan sampai mendapat kiriman paket misterius yang mengirimkan baju yang dilumuri dengan darah. Bi Titin juga mengetahui teror itu, tapi Maira memintanya untuk tidak memberi tahu Fardhan.


Fardhan pun meninggalkan Maira yang tengah menangis di kamar seorang diri. Fardhan mencari ketenangan dengan pergi bersantai di taman belakang rumahnya sambil memberi makan ikan.


.


.


.


TBC