
Dua hari setelah itu, Maira memutuskan untuk melanjutkan penhobatannya di rumah sakit ini. Siang ini Maira pamit pergi pada Zahra, tadinya Zahra tidak mengizinkannya pergi sendiri tapi Maira tetap menolaknya.
Maira sampai di rumah sakit, ia langsung mendaftar. Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter barunya, Maira pergi ke apotek untuk menebus obat yang telah dokter resepkan untuknya. Saat di apotek, ia melihat Azka sedang duduk di kursi tunggu apotek. Maira langsung menundukkan kepalanya, mencoba untuk menghindari sang kakak. Dan cara itu pun berhasil, sampai Azka keluar dari apotek pun ia tak tahu kalau adiknya yang ia cari ada disitu juga.
kenapa tadi nama mama di panggil ? apa mama sakit ? tapi kenapa ada disini ?
batin Maira bertanya tanya
Tak lama kemudian nama Maira pun di panggil untuk mengambil obatnya. Maira mengambil obatnya dan melangkahkan kakinya keluar dari apotek itu. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Azka menuju ke lorong suatu ruangan. Karena penasaran, Maira pun diam diam mengikuti langkah Azka.
Azka langsung masuk kedalam kamar VIP no. 13, dan Maira terus mengikutinya. Maira melihat mamanya terbaring tak berdaya dengan wajah yang pucat. Rasa bersalah menghantui hati Maira, semua ini terjadi karena dirinya. Perlahan Maira mundur dan kembali ke rumahnya dengan raut wajah yang muram dan sedih.
Maira masuk kedalam rumahnya dan langsung berbaring di tempat tidur. Fikirannya jauh melayang, ingatannya tertuju pada kondisi sang mama yang terbarinh lemah di rumah sakit. Rasa ingin bertemu dengan keluarganya seolah telah menggunung tinggi tak dapat tertahan lagi, tapi ia berfikir kembali jika ia menemui keluarganya ia takut hal buruk akan terjadi pada keluarganya. Dan Maira tidak menginginkan hal itu terjadi lagi, dirinya merasa sangat berdosa pada sang mama dengan kejadian yang telah menimpanya.
ceklek..
" Mai, kita makan siang dulu yuk ! atau mau aku bawakan kesini saja ? " tawar Zahra
" aku belum lapar Ra " kata Maira
" kamu harus menjaga pola makanmu, kamu harus menjaga kesehatanmu. Aku melihat wajahmu selalu pucat, apa kau sedang sakit ?" tanya Zahra mencoba memancing Maira agar terbuka padanya
" ya, aku sakit Ra. Bahkan aku tidak memberi tahu siapapun tentang sakitku ini. kamu tahu Ra ? saat aku ke rumah sakit tadi aku bertemu abang !" kata Maira
" lantas ? apa kalian bertemu dan mengatakan yang sebenarnya terjadi ?" tanya Zahra
" tidak !" jawab Maira menjeda ucapannya
" aku menghindarinya. Aku takut jika aku menemuinya maka semua keluargaku akan celaka karena aku. Aku mengikuti bang Azka, ternyata dia masuk ke dalam ruang rawat yang didalamnya ada mamaku. Mamaku sakit Ra, wajah mama pucat dan terbaring lemah. Hatiku sakit Ra, sangat sakit saat melihat mama menderita seperti itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang Ra ? aku ingin bertemu keluargaku, tapi aku takut mereka terkena imbasnya dengan masalahku ini. Aku harus bagaimana Ra ? " keluh Maira sambil terisak
" temui saja keluargamu, jelaskan masalah yang sedang kamu hadapi. Mereka juga akan mengerti dengan keadaanmu saat ini. Siapa tahu dengan begitu, masalahmu bisa mendapatlan solusi yang baik dan cepat beres. Lagipula mama kamu sedang sakit, jenguklah ! Siapa tahu setelah kamu jenguk, mama kamu bisa cepat sembuh " kata Zahra
" tapi aku takut Ra " lirih Maira
" jangan takut, aku akan menemanimu kesana. Bila perlu aku akan mengajak Diki juga teman temannya agar kamu merasa aman " jawab Zahra
" bukan begitu, aku takut mereka mengetahui hal itu dan akan menambah rumit masalah ini " keluh Maira
" tenanglah, kita berdoa saja semoga itu tidak terjadi. Besok aku akan mengantarmu ke rumah sakit jika kamu siap " kata Zahra
" ya, aku akan menemui keluargaku besok " jawab Maira pasti
" nah, begitu dong ! sekarang kita makan dulu ya " kata Zahra k3mbali ke topik awal
" iya " jawab Maira
Maira dan Zahra langsung menuju meja makan, disana ia melihat beberapa makanan yang disukainya. Tapi ia tidak bisa sembarangan makan lagi seperti dulu. Maira dan Zahra makan siang dengan tenang, setelah itu membereskan bekas makan mereka.
" Mai, aku mau pulang dulu ke rumah ibuku. Aku merindukan ibu dan adikku, bolehkan aku menginap disana beberapa hari saja ?" tanya Zahra
" boleh, atau mereka saja yang menginap disini biar aku tidak sendiri " saran Maira
" boleh, nanti aku bicarakan dulu dengan ibu " jawab Zahra
" Mai " panggil Zahra
" sebenarnya kamu sakit apa ?" tanya Zahra dengan hati hati
" huft, sebenarnya aku tidak ingin orang lain tahu tentang ini. Tapi ya sudahlah, aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini dengan baik Ra " kata Maira menghela nafas pelan
" kamu tenang saja, aku bisa menjaga rahasia kok " jawab Zahra
" hmm, beberapa bulan yang lalu aku divonis menderita kanker darah Ra. Aku juga tidak tahu penyebabnya apa, tapi waktu aku cek ternyata sudah stadium tiga " jawab Maira dengan nada sendu
" ya Allah Ra, kamu sakit kanker tapi tidak ada yang tahu kondisi kamu ? lantas bagaimana kamu menghadapinya selama ini ? " tanya Zahra yang merasa sangat terpukul dengan jawaban Maira
" tidak ada yang tahu Ra. Bahkan kak Alex saja yang notabene nya adalah sahabat mas Fardhan saja aku larang untuk memberi tahu berita ini. Yang tahu hal ini hanya kamu, kak Alex dan istrinya saja " jawab Maira
" tunggu, bukannya tidak ada yang tahu ? tapi orang yang kau sebut kak Alex dan istrinya tahu ? ini maksudnya bagaimana ?" tanya Zahra bingung
" hehehe, kak Alex itu dokter yang menangani aku selama ini. Dia menganggapku adik, begitupun dengan istrinya. Aku harap kamu juga menyimpan rahasia ini dengan baik seperti kak Alex dan istrinya " harap Maira
" kamu tenang saja Mai ! Oh iya, aku mau cek bahan bahan dulu ya ! Kamu istirahat saja disini " kata Zahra
Zahra langsung pergi ke rumah makan untuk mengecek bahan bahan yang sudah habis dan tinggal sedikit lagi. Sedangkan Maira langsung masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat setelah meminum obatnya. Maira memejamkan matanya dan mulai berlayar kedalam mimpinya.
" mama, mama sedang apa disini ?" tanya Maira pada sang mama yang sedang duduk manis di kursi taman rumah sakit
" Mama lelah nak, mama sedang menunggu jemputan mama " jawab mama dengan berseri seri
" siapa yang menjemput mama ? " tanya Maira
" nanti kamu juga akan tahu sayang ! antarkan mama kedalam yuk, mama mau bersamamu kali ini " jawab mama
" ya sudah, ayo ! " ajak Maira
Maira dan mama duduk di dalam ruangan putih yang luas tentunya dengan suasana yang sejuk dan menenangkan. Maira dan mama ngobrol hingga tidak sadar waktu.
" Sayang, jika nanyi mama pergi kamu harus kuat ya ! Kamu harus bahagia, mama titip papa kamu. Jangan pernah menjauh dari keluargamu, apalagi suamimu " kata mama
" kok mama bilang begitu ? Kita akan bahagia bersama sama ma, mama akan melihat aku hidup bahagia dan membe4ikan mama cucu yang lucu lucu " kata Maira
" mama juga inginnya begitu sayang, tapi mama tidak bisa berbuat apa apa. Semua sudah digariskan oleh yang Kuasa, kita hanya bisa menjalaninya saja dan pasrah " jawab mama
" mama " kata Maira menghambur memeluk mamanya dengan erat sambil terisak
.
.
.
.
.
TBC