Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
34


Azka berjalan cepat mencari Nisa, hampir seluruh ruangan ia datangi untuk mencari Nisa. Mulai dari ruang keluarga, ruang tamu, lantai atas, dapur dan yang terakhir tempat yang ia datangi adalah halaman belakang. Tepat dibawah pohon mangga ada sebuah kursi panjang yang sedang di duduki oleh seorang wanita cantik yang menatap lurus kedepan melihat jalanan yang dimana saat itu ada beberapa anak kecil yang sedang bermain.


Perlahan Azka mendekati Nisa dan memeluknya dari belakang membuat Nisa tersentak kaget dan langsung menoleh ke belakang.


" maafkan mas sayang ! mas benar benar tidak sengaja !" kata Azka masih memeluk Nisa


" iya mas, tidak apa ! Nisa juga tahu kok, emang Nisa aja yang cengeng ! maaf ya mas, Nisa selalu merepotkan mas !" kata Nisa


" tidak, mas tidak merasa di repotkan. justru mas yang harus minta maaf karena mas tidak bisa mengerti kamu. Pedahal mas tahu kalau kamu sedang ngidam, mas minta maaf ya sayang !" kata Azka


" iya mas, tidak apa. maafkan Nisa juga ya !" kata Nisa


Keduanya kemudian saling memeluk mencurahkan kasih sayang yang mereka rasakan di sore yang cerah kini. Sedangkan mama dan papa ternyata telah bangun kembali setelah tertidur sebentar.


" kok sepi ya ma ?" tanya papa


" iya pa, masih pada istirahat mungkin !" jawab mama


" ya sudah, mending kita duduk aja nonton tv !" kata papa


" iya pa, tapi mama buatkan teh dulu ya !" kata mama


" iya ma, terima kasih ya !" kata papa


" iya pa, sama sama !" jawab mama


Mama pergi ke dapur membuatkan teh untuk papa, tak lama kemudian Azka dan Nisa kembali masuk ke dalam dan bergabung bersama dengan papa.


" kalian dari mana ?" tanya papa saat Azka dan Nisa duduk di dekatnya


" dati halaman belakang pa, mama mana ?" tanya Azka


" lagi buat teh di dapur !" jawab papa


" oh iya pa, Azka sama Nisa mau keluar papa mau nitip sesuatu gak ?" tanya Azka


" kalian mau pergi kemana sore sore gini ?" tanya mama baru datang dari dapur sambil membawa secangkir teh di tangannya


" kita mau cari Tahu Sumedang ma, Nisa mau makan Tahu katanya !" jawab Azka


" wah, kalau begitu papa sama mama juga mau dong, beli sekalian ya !" kata papa


" siip, nanti Azka bawain !" jawab Azka


" mas ke kamar dulu ya sayang ambil kunci mobil sama dompet !" kata Azka pada Nisa


" iya mas !" jawab Nisa sambil tersenyum


Azka kemudian pergi kekamarnya untuk mengambil dompet dan kunci mobil, kemudian Azka dan Nisa pergi ke tempat penjual Tahu Sumedang yang alamatnya telah di berikan oleh mang Udin tadi saat akan berangkat.


Sedangkan di kamar atas, Maira masih berbaring di tempat tidur ditemani oleh Fardhan yang sedang mengecek beberapa laporan yang belum selesai ia periksa.


" mas kita keluar yuk, aku jenuh di kamar !" ajak Maira


" kalau mas ayo ayo aja ! tapi apa badanmu sudah enakan ?" tanya Fardhan


" lumayanlah mas, tidak seperti tadi !" jawab Maira


" kalau begitu kita keluar ! mas bantu ya !" kata Fardhan lalu menutup laptopnya dan berjalan mendekat pada Maira


" iya mas !" kata Maira


Fardhan membantu Maira berdiri, dan benar saja sekarang Maira sudah agak membaik. Hanya tinggal sedikit pegal pegal saja, nanti juga hilang sendiri. Farfhan dan Maira turun keluar dari kamar dan bergabung dengan mama juga papa yang sedang menonton berita di salah satu saluran tv swasta.


" abang belum bangun ma ?" tanya Maira


" ih, kok abang gak ngajak ngajak sih !" kata Maira


" kan kita baru keluar dari kamar, jadi abang gak tahu kita mau ikut atau tidak !" kata Fardhan


" iya, benar apa kata suamimu. abangmu tadi berfikir kalian masih tidur, jadi abangmu berangkat berdua dengan Nisa !" kata papa menimpali


" yah, padahal Mai mau ikut biar tahu beli dimana !" kata Maira lagi


" kalau mau beli nanti tanya alamatnya sama mang Udin saja, dia lebih tahu dimana yang jualan Tahu Sumedang yang enak !" kata mama


" nanti kita jalan jalan sambil beli Tahu Sumedang ya mas ! oh iya, sekalian Mai juga mau beli yang namanya ubi cilembu. kata teman May enak banget itu rasanya, sekalian besok kita cari ya mas !" kata Maira


" iya, besok kita jalan jalan sambil cari ubi sama Tahu !" jawab Fardhan sambil mengusap tangan Maira


Mama dan papa merasa bahagia melihat kedekatan antara Fardhan dan Maira. Mama selama ini mengkhawatirkan Maira, pasalnya Maira adalah anak yang manja. Tapi sekarang mama merasa lega melihat Fardhan bisa mengerti akan diri Maira yang manja.


" ma, kalau dari sini ke pasar deket gak sih ?" tanya Maira


" gak terlalu dekat sih, emang kamu mau apa ?" tanya mama


" mau belanja ma, kita buat nasi liwet nanti malam aja ma biar seru !" kata Maira


" kalau sore gini pasar udah pada sepi Mai ! tapi nanti kita tanya mang Udin dulu, barang kali ada toko sembako yang masih buka !" kata papa lalu berdiri mencari keberadaan mang udin


Papa berjalan keluar dari rumah mencari mang Udin di halaman depan tapi tidak ketemu dan akhirnya papa pergi mencari mang Udin ke halaman belakang.


" saya cari cari ternyata mamang ada disini !" kata papa


" ada apa pak, ada yang bisa dibanty ?" tanya mang Udin


" mang, kalau di daerah sini ada toko sembako tidak yang masih buka jam segini ?" tanya papa


" ada pak, kebetulan toko pak haji Cecep jam segini masih buka !" jawab mang Udin


" wah kebetulan sekali dong pak ! katanya Maira mau bikin nasi liwetnya malam ini, jadi nanti mamang sama bibi yang belanja yang lainnya ya !" kata papa


" siap pak ! tapi mau beli apa aja ?" tanya mang Udin


" biar lebih jelas mamang ajak bibi saja ketemu Maira di dalam ya !" kata papa


" iya pak !" jawab mang Udin


Mang Udin menghampiri istrinya yang baru saja selwsai membereakan dapur dan mengajaknya langsung ke ruang depan untuk menemui Maira.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading...


jangan lupa tinggalkan jejak ya...


terima kasiih๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป