
Security yang sedang bertugas tadi pun mencoba menghubungi Fardhan, tapi sudah beberapa kali masih juga tidak aktif. Kemudian ia berinisiatif untuk menghubungi bi Titin saja, yang masih belanja di pasar tapi ternyata sama saja. Akhirnya security itu pun menyerah saja.
Sedangkan Azka yang sedang melakukan meeting dengan kliennya tiba tiba merasakan nyeri di dadanya.
" aw, sakit " keluh Azka
" kenapa pak ?" tanya Ghaisan
" gak tahu, tiba tiba dadaku terasa sakit " jawab Azka sambil memegangi dadanya
" ya sudah, kita pulang biar bapak bisa istirahat " saran Ghaisan
" iya, sebaiknya begitu " jawab Azka
Setelah berpamitan dengan kliennya dan membatalkan meeting, Ghaisan langsung mengantarkan Azka pulang ke rumahnya.
" loh, mas udah pulang jam segini ?" tanya Nisa
" dada mas sakit, jadi langsung pulang saja " jawab Azka
" loh, sakit ? kok bisa mas ?" tanya Nisa
" gak tahu " jawab Azka
" kita ke rumah sakit aja ya, Ghaisan tolong antar ke rumah sakit ya " pinta Nisa
" saya juga tadi ajaknya gitu, tapi dia gak mau. Katanya mau istirahat saja di rumah " jawab Ghaisan
" gak apa apa sayang, mas istirahat aja di rumah. Mungkin mas cuman kecapekan aja " kata Azka
" jangan gitu dong mas, kalau kenapa napa gimana ?" kata Nisa khawatir
" mas bilang mas cuman butuh istirahat aja, nanti juga sembuh kok " kata Azka sambil berlalu pergi ke kamarnya
" dasar keras kepala !" omel Nisa
" ya gitu ! aku ajak ke rumah sakit gak mau, emang keras kepala " omel Ghaisan juga
" ya udah, aku pergi ke kantor lagi ya ! nanti mobil diantar kesini sama sopir kantor " kata Ghaisan
" iya, terimakasih ya " ucap Nisa tulus
Ghaisan kembali lagi ke kantor setelah mengantarkan Azka, dan meeting di tunda sementara waktu.
Maira saat ini masih ditangani oleh dokter yang berjaga, ia mengungkapkan keluhan yang dirasakannya belakangan ini. Dokter pun masih belum bisa mendiagnosa penyakit apa sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untuk sementara harusnya Maira dirawat terlebih dahulu mengingat kondisinya yang lemah, tapi ia memaksa untuk pulang saja. Pihak rumah sakit tidak bisa berbuat apapun kalau sudah begini. Dengan terpaksa Maira pulang kembali ke rumah, dan akan kembali ke rumah sakit beberapa hari lagi untuk mengambil hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan tadi.
Maira pulang dengan membawa beberapa obat yang sudah di resepkan oleh dokter. Ia pulang ke rumah, tapi ia tidak menemukan Fardhan disana.
" bi, mas Fardhan kemana ?" tanya Maira
" den Fardhan pergi ke Bandung tadi neng, gak lama setelah neng pergi " jawab bi Titin
" oh gitu ya " kata Maira
" emangnya aden gak bilang sama neng kalau dia mau pergi ?" tanya bi Titin
" enggak bi, ponsel Mai juga lowbat " jawab Maira
" ya sudah bi, Mai istirahat dulu ya !" pamit Maira
" neng, kenapa wajahnya pucat gitu ?" tanya bi Titin
" gak apa bi, cuman lelah aja. Kalau sudah di istirahatkan juga pasti akan biasa lagi " jawab Maira
Bi Titin menatap kepergian Maira, ia merasa ada yang tidak beres dengan majikannya ini. ah tapi sudahlah, ia tidak mau terlalu kepo dengan masalah rumah tangga orang lain. Maira kembali kedalam kamarnya dan langsung berbaring, tubuhnya sangat lelah. Maira mencoba memejamkan matanya, tapi masih tidak bisa.
Akhirnya Maira duduk kembali sambil bersandar, tapi lama kelamaan ia menjadi bosan sendiri. Maira duduk di balkon sambil menatap langit sore, ia memegang sebuah buku yang selalu menjadi temannya untuk bercerita.
Maira masuk kembali kedalam kamar karena suara adzan maghrib sudah terdengar mengalun dengan merdu.
Maira mengusap tempat dimana biasanya Fardhan tidur. Akhirnya Maira tertidur menghadap ke sisi tempat Fardhan berbaring bersamanya. Pagi datang menjelang, bi Titin sudah ribut menggedor pintu kamar Maira.
tok.. tok.. tok..
" assalamualaikum neng, neng " panggil bi Titin
ceklek..
" neng tidak apa apa ?" tanya bi Titin cemas
" Mai gak apa apa bi. Emangnya ada apa ?" tanya Maira
" itu, katanya si mang Dodi kemarin neng masuk rumah sakit. Ada sopir taxi yang kasih tahu kesini. Neng beneran gak apa apa ?" tanya bi Titin memastikan
" Mai gak apa apa bi, bibi tenang aja ya " kata Maira menenangkan bi Titin
" sukurlah kalau gak apa apa !" ucap bi Titin merasa lega
" eh, iya bi nanti kalau ada Aisyah atau siapapun yang anterin mobil Mai kesini bilangin Mai lagi istirahat ya bi gak bisa diganggu !" kata Maira
" iya neng, nanti bibi bilangin " jawab bi Titin
Maira kembali masuk kedalam kamarnya setelah bi Titin kembali mengerjakan pekerjaan rumah. Maira mencoba untuk istirahat, makin hari tubuhnya makin terasa lemah saja. Kepalanya juga terasa sakit, setiap persendian, tulang belakang dan dadanya masih terasa sakit. Walaupun ia telah meminum obat yang diresepkan oleh dokter kemarin, tapi masih belum ada reaksi yang berarti.
tok.. tok.. tok..
" neng, sarapannya udah siap " kata bi Titin dari luar kamar
" tolong bawa ke kamar aja bi, Mai lagi gak bisa keluar kamar " jawab Maira
" iya neng " jawab bi Titin
Bi Titin kembali ke kamar Maira dengan membawa nasi dan lauknya. Maira sedang duduk bersandar di sofa, bi Titin pun langsung menyimpan nampan yang dibawanya di meja.
" neng krnapa ?" tanya bi Titin pelan
" gak apa apa bi, Mai lagi gak enak badan aja " jawab Maira masih memejamkan matanya
" bibi antar ke dokter ya neng ! atau mau bibi telfonkan den Fardhan biar cepat pulang " tanya bi Titin
" gak perlu bi, Mai mohon jangan kasih tahu siapapun tentang keadaan Mai sekarang " pinta Maira
" loh, kenapa neng ?" tanya bi Titin heran
" Mai gak mau merepotkan semua orang bi " jawab Maira sambil meneteskan air mata
" kenapa nangis ? coba cerita sama bibi kalau neng mau " kata bi Titin sambil mengusap air mata Maira yang mengalir
" Mai gak apa apa bi, Mai cuman lelah saja dan mau istirahat " jawab Maira
" kalau ada masalah jangan di pendam neng, nanti jadinya sakit. Masalahnya gak beres, nengnya malah sakit. Kalau neng mau, neng bisa cerita sama bibi. Neng bisa anggap bibi teman, bibi bisa kok jaga rahasia. Neng tenang aja " kata bi Titin sambil mengusap lembut bahu Maira
Maira malah memeluk erat bi Titin dan menangis tersedu sedy, ia menumpahkan semua rasa kesal dan sakit hatinya. Bi Titin hanya diam sambil mengusap punggung Maira yang bergetar, bi Titin masih menunggu Maira tenang dan berbicara dengannya.
Setelah tenang, Maira menceritakan semua yang dia alami dimulai dari pertengkarannya dengan Fardhan sebelum berangkat ke Kalimantan sampai hari kemarin. Maira berani jujur pada bi Titin karena sudah menganggapnya sebagai mamanya sendiri. Bi Titin juga turut meneteskan air mata saat mendengar cerita Maira.
" neng yang sabar ya " ucap bi Titin
" Mai harus gimana bi ? Mai bingung, apa yang harus Mai lakukan sekarang " keluh Maira
" nanti bibi bantu cari cara untuk membuktikan kebenarannya ya " kata bi Titin
" terima kasih bi sudah mau mendengarkan keluh kesah Mai " kata Maira
" neng gak perlu sungkan, bibi sudah anggap neng sebagai anak bibi sendiri. Jadi kalau ada apa apa neng bisa cerita sama bibi ya " kata bi Titin
" iya bi " jawab Maira
Maira masih betah berada didalam pelukan bi Titin ia merasa lelah dan bebannya sedikit berkurang. Setidaknya masih ada orang yang percaya dengannya.
.
.
.
.
.
TBC