Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
64


Aisyah dan Arfan mampir sebentar ke masjid saat di perjalanan, keduanya Shalat dan setelah selesai baru kembali meneruskan perjalanan untuk menhantarkan Aisyah pulang.


" dek, tadi aku denger katanya kamu sama Maira yang punya kafe itu. apa itu bener ?" tanya Arfan sambil fokus menyetir


" iya mas, sebenarnya orang tua kita gak ada yang tahu dengan kafe itu. Kita hanya mencoba untuk mandiri saja, karena kita kan gak tahu bagaimana kehidupan kita kedepannya. Aku sama Maira mikirnya buat kedepannya aja mas, yah walaupun orang tua kita bisa dibilang orang berada tapi kita gak mau menggantungkan hidup pada orang tua kita " jawab Aisyah


" wah, kalian hebat ya ! Tapi pemikiran kalian jauh lebih dewasa dari umur kalian. Mas bangga sama kamu !" kata Arfan


" tapi Aku mohon mas jangan kasih tahu siapa siapa soal kita yang buka usaha ini sama orang tua kita ya ! Biar nanti aku sama Maira aja yang kasih tahu mereka " kata Aisyah


" iya, mas gak akan kasih tahu siapa siapa ! tapi boleh kan kalau mas nanti rekomendasikan kafe kalian ke rekan rekan mas, sekalian sama bos juga biar sekali kali meeting di tempat kalian jadi bisa ketemu " kata Arfan


" ide bagus mas ! tapi yang terakhir itu tuh, kamu aji mumpung banget ya " kata Aisyah


" ya kan sekali nyelam sambil minum air ibaratnya !" jawab Arfan


Obrolan keduanya terus berlanjut hingga tak terasa telah sampai di rumah Aisyah. Arfan mampir sebentar memenuhi ajakan bunda, lalu setelah itu ia langsung pulang karena hari sudah malam.


...***...


Malam telah berlalu, gelap telah berganti dengan terangnya cahaya matahari. Saat ini seorang wanita tengah duduk di dalam sebuah apartemen yang di sewanya sejak kemarin. Ia tersenyum menyeringai, bahkan tertawa saat orang suruhannya itu memberikan informasi yang ia inginkan.


" Kerja yang bagus ! pergilah ! nanti aku panggil kalian lagi " katanya sambil mengibaskan tangannya


" baik bos " jawab si pria tadi


" satu lagi, upah kalian sudah aku transfer ! Dan ingat, jangan sampai ada yang tahu tentang keberadaanku disini " kata si wanita tadi


" baik bos " jawabnya


Si pria tadi meninggalkan wanita itu sendiri setelah memberikan beberapa berkas informasi yang dia inginkan. Wanita itu tersenyum penuh misteri, entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini.


Pagi ini Fardhan pergi ke kantornya seperti biasa, ia masuk dan langsung berkutat dengan pekerjaannya. Tak lama kemudian Shandy datang untuk memberi tahu kalau saat jam makan siang nanti ia akan meeting di kafe XX.


Waktu makan siang telah tiba, Fardhan ditemani Shandy melakukan meeting di kafe XX. Meeting berjalan lancar, hingga membuahkan kesepakatan diantara kedua belah pihak. Usai meeting Fardhan masih berada di kafe bersama Shandy, tiba tiba seorang wanita datang langsung memeluknya dari belakang. Fardhan tersentak dengan hal tersebut begitupun dengan Shandy. Shandy tidak mengenali wanita yang kini memeluk bosnya itu, tapi sedetik kemudian ia membulatkan matanya teringat sesuatu.


Fardhan langsung berdiri dan menoleh ke arah wanita tersebut. Kedua matanya membulat, melihat siapa yang kini ada di hadapannya. Masa lalunya kembali, masa lalu yang membuatnya sakit hati hingga memutuskan untuk pergi ke kota ini dan memulai hidup baru.


" mau apa kamu kesini ?" tanya Fardhan ketus


" jangan ketus gitu dong ! aku kesini sengaja mau nemuin kamu sayang, aku kangen sama kamu !" jawab wanita itu


" sayang ? kangen kamu bilang ? hubungan itu sudah berakhir sejak kamu meninggalkan aku dengan pria lain. Jadi sekarang pergilah, aku sudah punya kehidupan baru yang tentunya sudah bahagia " tegas Fardhan


" tapi aku masih cinta sama kamu mas, jauh jauh aku kembali kesini hanya untuk kembali sama kamu mas " rengeknya lagi


" Cukup Kirana ! jangan paksa aku untuk berbuat kasar denganmu ! pergi dari hadapanku dan jangan pernah menemuiku atau mencoba mengganggu keluargaku. Kalau kamu sampai melakukannya, aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidupmu !" ancam Fardhan


" hem, kita lihat saja nanti sayang " kata Kirana lalu pergi dari hadapan Fardhan


Ya, wanita itu adalah Kirana. Masa lalu Fardhan yang pahit, kini dia datang untuk berusaha merebut kembali hati Fardhan. Fardhan tidak pernah tahu rencana licik apa yang sedang di fikirkan oleh mantan pacarmya itu.


Sedangkan saat ini Maira berada di taman belakang rumahnya, ia sedang menanam bunga bersama bi Titin.


" neng, bunganya bagus " puji bi Titin


" kita tanam bunga sedap malam neng, dahlia sama antarium aja neng " jawab bi Titin


" wah, iya nanti Mai cari bibit bunga sedap malam sama yang lainnya deh. eh iya, bibi tahu gak dimana yang jual bibit bunga sedap malam yang warna merah bi ? Mai belum tahu wanginya sedap malam warna merah, Mai penasaran. Udah lama Mai nyari tapi masih belum ketemu " kata Maira


" bibi pernah lihat neng, yang jualnya bapak bapak di sekitaran taman XXX " jawab bi Titin


" nanti kita beli bi, bibi temani Mai oke !" kata Maira


" siap neng " kata bi Titin


Maira dan bi Titin menyelesaikan menanam bunganya. Setelah itu Maira masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan duduk bersantai di sofa sambil membaca email yang dikirimkan oleh Aisyah.


tring..


Satu pemberitahuan pesan masuk dari nomor tudak dikenal. Dalam fhoto tersebut teelihat Fardhan sedang di peluk oleh seorang wanita yang Maira sendiri tidak tahu siapa. Maira masih diam saja memperhatikan fhoto itu, memang benar itu Fardhan suaminya. Tak mau ribut kembali dengan Fardhan, Maira mengabaikan pesan tersebut tapi tidak menghapusnya.


Maira percaya suaminya tidak akan berbuat hal yang macam macam dengannya, apalagi sampai berani mengkhianatinya. Maira kembali fokus pada laptop di pangkuannya.


tring..


ponselnya kembali berdering, kali ini pesan teks yang masuk. Pesan itu mengatakan kalau dia adalah pacarnya Fardhan. Maira hanya menggelengkan kepalanya saat membaca pesan teks tersebut.


" sampai segitunya dia berusaha mau mengahcurkan rumah tanggaku " guma Maira sambil menggelengkan kepala


Maira masih diam saja tidak mengindahkan pesan tersebut, ia berfikir itu orang iseng yang mau mengerjainya saja.


Hari ini Fardhan akan pulang telat kembali, ia harus meeting di luar jam kantor karena klien kali ini tidak bisa menundanya. Maira dengan setia menunggu Fardhan di ruang keluarga sambil menonton tv, tapi lama kelamaan rasa kantuk itu menyerang dan akhirnya ia tertidur sambil duduk.


Fardhan pulang pukul sembilan lebih, sebenarnya meeting itu hanya sebentar. Tapi kondisi jalanan yang macet parah karena ada kecelakaan, jadilah lalu lintas macet. Fardhan masuk dan melihat istrinya tengah duduk sambil menonton tv.


" sayang, mas pulang " kata Fardhan


" sayang " panggil Fardhan masih di belakang Maira


Fardhan terus mendekatinya dan ia melihat dari dekat kalau istrinya kini tengah tertidur dengan posisi duduk sambil memeluk bantal sofa.


" pantesan aja ucapin salam gak di jawab, di panggil juga gak nyahut. Tahunya tidur disini " gumam Fardhan


Fardhan menggendong Maira dan membawanya ke kamar. Fardhan membukakan kerudung yang di pakai Maira, lalu ia bergegas membersihkan diri. Fardhan tidur di samping istrinya yang sudah terlelap, ia memeluknya. Tak ada hasrat apapun, hanya ingin memeluknya saja.


.


.


.


.


.


TBC