Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
44


keesokan paginya, Fardhan dan Maira tengah beraiap akan pulang karena dokter sudah memperbolehkan Maira pulang. Luka di tangan Maira memang cukup dalam dan cukup panjang, tadinya Azka khawatir kalau luka tersebut akan jadi infeksi jika tidak di pantau terus makanya ia yang meminta Maira untuk observasi.


Azka sudah pulang tadi setelah shalat shubuh karena ia harus pergi ke kantor pagi. Fardhan dan Maira pulang ke rumahnya dan disambut gembira oleh mang Jajang dan bi Titin.


" assalamualaikum" ucap Maira dan Fardhan


" waalaikumsalaam, masuk den, neng !" kata bi Titin


" bagaimana keadaan neng sekarang ?" tanya bi Titin


" alhamdulillah bi, cumah masih sudah kalau di gerakkan soalnya masih sakit !" jawab Maira


" semoga lekas sembuh neng, oh iya bibi lanjut beraih bersih lagi ya !" kata bi Titin


Bi Titin pergi kembali untuk bersih bersih di halaman belakang bersama mang Jajang. Sedangkan Maira dan Fardhan masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


" sayang, sore ini mas ada meeting penting dengan klien. Kamu tidak apa kan kalau di rumah hanya sendiri ?" tanya Fardhan


" tidak apa apa mas, pergilah. Lagi pula di sini kan ada bi Titin sama mang Jajang, jadi aku tidak sendiri " jawab Maira


" oke kalau begitu, sekarang kamu istirahat ya !" kata Fardhan


" iya mas " jawab Maira


...***...


Kini usia pernikahan Fardhan dan Maira sudah enam bulan dan kandungan Nisa berusia tujuh bulan. Saat hari libur Maira dan Fardhan akan pergi ke rumah Azka jika tidak ke Sumedang.


" kak,aku mau deh seperti kakak mengandung dan sebentar lagi menimang bayi yang lucu !" kata Maira saat duduk berdua di halaman belakang rumah yang di tinggali Azka


" kamu sabar Mai, kakak juga kan nunggunya lama. Kamu baru enam bulan nikah, lah waktu kakak satu tahun Mai. Mungkin sekarang belum waktunya saja untuk kamu mengandung. Siapa tahu Allah sedang membuat rencana yang indah untuk kamu sama Fardhan !" kata Nisa


" tapi kadang Mao kesel sama diri Mai sendiri kak, kok sampai detik ini Mai belum hamil juga ! Mai juga kadang merasa tertekan kak, mamanya mas Fardhan terus nanyain ' gimana, udah isi belum' kan aku jadi stres kak mikirin nya " kata Maira


" kamu itu jangan stres Mai, kalau kamu stres nanti kamu malah sakit yang ada ! dibawa rilex aja Mai, santai. Semua juga sudah Allah tentukan, kita hanya tinggal berusaha dan bersabar saja. Kakak yakin kamu pasti bisa Mai !" kata Nisa


" tapi kalau ditanya seperti itu keseringan buat Mai pusing kak ! gak di tanggepin gimana, kalau di tanggapin juga bikin Mai jengkel !" kata Maira


" sayang, kita makan siang dulu yuk !" ajak Azka


" ih abang mah gangguin orang lagi ngobrol aja !" kata Maira


" yeeeh, sekarang kan waktunya makan siang. Kamu harus ingat, kakakmu ini sedang mengandung jadi dia butuh banyak asupan ! kamu juga ayo makan, suami kamu udah nungguin tuh di meja makan !" kata Azka


" iya deh !" jawab Maira lalu melabgkah pergi mendahului Azka dan Nisa


Azka dan Nisa saling pandang, Nisa hanya tersenyum pada suaminya sedangkan Azka mengerutkan keningnya. Pasalnya Maira jarang sekali bersikap seperti ini, Azka pun berniat akan menanyakannya pada Nisa nanti saja setelah Maira dan Fardhan pulang.


Azka duduk di debelah Nisa dan Fardhan di sebelah Maira, keduanya duduk bersebrangan di meja makan. Nisa mengambilkan makanan untuk suaminya terlebih dulu, lalu untuk dirinya sendiri. Sedangkan Maira dan Fardhan makan dalam satu piring bersama, hal itu tidak pernah di lewatkan oleh keduanya kecuali saat makan siang berada di kantor.


Azka melihat Maira selalu makan sepiring berdua dengan suaminya merasa senang karena Maira dan Fardhan sudah saling mengerti dan bisa memahami satu sama lain.


" Mai, kamu tiap hari makan sepiring berdua begitu ?" tanya Azka


" iya bang !" jawab Maira santai


" kenapa mas ?" tanya Nisa


" enggak, cuman apa kalian nyaman makan seperti itu ? abang lihatnya kok jadi gimana gitu !" jawab Azka


" justru itu bagus mas, biar keduanya bisa lebih dekat. Kalau bisa sih kita juga turuti tuh mereka, biar romantis !" kata Nisa


" iya bang, kali kali lah ! lagian ya, aku sama mas Fardhan udah biasa gini jadi lebih nikmat rasanya. kalau gak percaya abang coba aja !" kata Maira


" boleh deh, nangi abang coba " kata Azka


Usai makan siang, Maira dan Fardhan pamit pulang karena keduanya akan pergi berbelanja untuk keperluan dapur.


" bang, Mai sama mas Fardhan pulang ya ! kita mau langsung belanja soalnya !" kata Maira


" iya bang, bahan makanan di rumah udah hampir habis " tambah Fardhan


" oh ya, bilangin sama kak Nisa kalau aku pulang ya !" kata Maira


" iya, lagian kakakmu itu kalau udah makan bawaannya langsung mau tidur aja !" kata Azka


" biarlah bang, namanya juga lagi hamil !" kata Maira


" ayo sayang !" ajak Fardhan


" iya mas !" kata Maira


" kita pulang ya bang, assalamualaikum" kata Maira


" waalaikumsalaam" jawab Azka


Maira dan Fardhan pulang dari rumah Azka, dan langsung pergi ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan dapur. Lain halnya dengan Azka, ia langsung pergi ke kamarnya untuk melihat sang istri. Setelah melihat Nisa yang sedang tertidur pulas, Azka keluar kembali dari kamarnya dan pergi ke ruang kerjanya.


Azka membuka laptopnya dan memeriksa beberapa laporan yang belum sempat ia koreksi. Tak lama ia berada di ruang kerja, Nisa datang membuka pintu sambil tersenyum dengan membawa secangkir teh.


" di minum dulu teh nya mas " kata Nisa


" terima kasih sayang " jawab Azka lalu meminum teh yang dibawakan oleh Nisa


Azka teringat dengan hal yang ingin ia tanyakan tdi pada Nisa.


" sayang, boleh mas bertanya ?" tanya Azka


" tanya apa mas ? kalau bisa Nisa akan jawab " jawab Nisa


" kalian membicarakan apa tadi di halaman belakang ?" tanya Azka


" biasa mas, lagi curhat " jawab Maira


" curhat apa ?" tanya Azka lagi


" oke kalau mas mau tahu, tapi Nisa minta mas jangan marah ya !" kata Nisa


Azka pun hanya menganggukkan kepalanya dan langsung menutup laptopnya.


" Maira curhat sama aku mas, katanya dia merasa tertekan dengan mamanya Fardhan. Setiap kali menelfon terus nanya ' udah isi belum ', Maira merasa stres mas. Dia merasa tertekan dengan pertanyaan yang itu itu saja, pedahal usia pernikahannya baru enam bulan. Nisa bisa mengerti dengan kondisi Mai saat ini, bagaimanapun Nisa juga dulu mengalami hal yang demikian tapi beda cerita dengan Maira. Jika sekarang Maira merasa stres karena belum hamil juga dan karena mertuanya yang terus menanyakan itu, hal itu juga aku rasakan mas. Memang dulu mama sama papa kita tidak pernah menanyakan hal seperti itu, malah mereka memberikan aku support untuk bersabar dan terus berusaha jadi aku tidak merasa tertekan. Tapi Maira beda mas, orang tua Fardhan terlalu menekan Maira. Nisa takut suatu saat Maira akan menyerah dan putus asa mas, bagaimanapun juga hatinya sangatlah halus. " kata Nisa menjelaskan


" jadi itu yang membuat Maira seperti tadi. kita doakan saja semoga Maira dan Fardhan segera diberikan keturunan seperti kita " kata Azka


" iya mas, aamiin. Tapi Nisa juga khawatir kalau Mai terlalu stres itu juga akan menghambat juga " kata Nisa


" iya, nanti mas bantu bicara sama Fardhan ya !" kata Azka


" iya mas, kasihan Maira kalau terus begini " kata Nisa


Azka dan Nisa menghentikan obrolannya saat suara pemberi tahuan pesan masuk di ponselnya.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya๐Ÿ˜Š


terima kasiih๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป