
Maira bingung harus menjawab apa, tapi sudah terlanjur juga.
" jelaskan Mai " kata Fardhan
" iya mas, memang saat kita bertengkar itu aku masuk rumah sakit " jawab Maira pelan
" kenapa kamu tidak menghubungiku dan memberitahu kalau kau masuk rumah sakit ?" cecar Fardhan
" saat itu aku juga setengah sadar, jadi tidak mengingat untuk menghubungi siapapun. Maafkan aku " lirih Maira
" lalu apa kata dokter ?" tanya Fardhan
" tidak apa apa, aku hanya kelelahan " kilah Maira
" apa benar yang kau katakan barusan ?" tanya Fardhan meyakinkan
Maafkan aku yang harus berbohong mas, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi aku tidak mau membuat semua orang khawatir dan mengasihaniku hanya karena kondisiku saat ini. cukup aku saja yang akan merasakannya, aku harap kalian mengerti..
lirih Maira dalam hatinya
" Mai ?" panggil Fardhan
" Maira " panggil Fardhan lagi membuat Maira tersentak dan mengangkat kepalanya yang tertunduk
" iya mas " lirih Maira
" bibi kenapa tidak memberi tahuku ?" tegur Fardhan pada bi Titin
" maaf den, waktu itu telfon aden tidak bisa dihubungi. Bahkan bibi sudah berulang kali menghubungi tapi masih sama juga. Sampai bibi lupa untuk mengabari aden. maaf " jelas bi Titin
" huft, maaf karena saat itu baterai ponselku habis. Aku lupa untuk mencharge nya " kata Fardhan
" istirahatlah, aku akan menemanimu disini " kata Fardhan beralih duduk diatas kasur disebelah Maira yang terbaring.
" tidak mas, pergilah ! aku disini baik baik saja " kekeh Maira
Akhirnya Fardhan pun mengalah karena tidak ingin berdebat dengan Maira. Fardhan pergi ke kantor hanya untuk membahas hasil pekerjaannya kemarin dan setelah itu ia akan kembali ke rumah, karena ia merasa tidak tenang meninggalkan Maira yang sedang sakit.
Maira merasa lega saat Fardhan pergi ke kantor. Maira kembali berbaring setelah berdiri di dekat jendela melihat kepergian Fardhan. Baru saja ia akan memejamkan matanya, tapi dering ponsel membuatnya duduk dan tidak jadi tidur.
π" hallo, maaf ini dengan siapa ?" tanya Maira
π" Jauhi Fardhan ! Tinggalkan dia, dia bukan milikmu !" kata penelfon misterius
π "maaf, tapi ini dengan siapa ?" tanya Maira lagi
π " kau tidak perlu tahu aku siapa ! Tinggalkan Fardhan secepatnya atau keluargamu akan aku habisi satu persatu " ancam si penelfon misterius
π " kalau aku tidak mau bagaimana ?" tanya Maira
π " kau akan melihat keluargamu mati dan usaha suamimu akan bangkrut " ancamnya lagi
π " apa masalahmu sebenarnya ?" tanya Maira lagi mencoba untuk tenang
π " kau tidak perlu tahu ! yang jelas tinggalkan Fardhan atau keluarga dan usaha suamimu akan menjadi taruhannya " ancamnya lagi dan lagi
π " maaf, tapi aku tidak bisa " jawab Maira
tut
Maira langsung mengakhiri panggilan telfon. Ia bingung dan takut, disatu sisi jika ia tidak pergi meninggalkan Fardhan maka semua akan kena imbasnya. Tapi jika pergi, maka ia akan sangat berdosa karena meninggalkan rumah tanpa izin suaminya. Bukankah surga seorang istri itu ada pada suami ?
Fikiran Maira berkecamuk, ia harus bagaimana ? fikirannya masih belum tenang juga hingga akhirnya merasa lelah dan tertidur dengan posisi duduk.
Hampir satu minggu semenjak mendapatkan teror itu, Maira mengira itu hanyalah prank atau jebakan semata. Tapi nyatanya ia salah besar, sekarang ia mendapat kabar kalau mamanya hilang sedari kemarin. hal itu membuatnya takut.
π" hallo bang, bagaimana ini bisa terjadi ?" tanya Maira sambil terisak
π " sabarlah dulu, abang juga tidak tahu. Tapi sekarang sedang abang usahakan untuk mencari keberadaan mama, doakan abang semoga bisa cepat menemukan mama " jawab Azka
π " papa gimana bang ?" tanya Maira
π " papa sudah diamankan bersama Nisa dan Silmi, ya sudah kamu tenang ya ! doakan abang semoga bisa menemukan mama secepatnya. abang tutup dulu telfonnya ya, mau pergi lagi sama Ghaisan " kata Azka
π " iya bang, hati hati ! kabari Mai kalau ada apa apa " kata Maira
π " iya, assalamualaikum " ucap Azka
Tak henti hentinya Maira menangis dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada mamanya saat ini.
haruskah aku pergi menjauh ? apakah aku bisa ? tapi kalau aku tidak pergi, maka keluargaku juga akan jadi korban seperti mama saat ini.
Maafkan aku mas Fardhan, aku tahu keluar dari rumah tanpa izinmu itu dosa. Tapi aku tidak mau membuatmu dan keluargaku menderita, maafkan aku
lirih Maira dalam hati
Akhirnya Maira mengemasi pakaiannya, ia berniat akan pergi menjauh dari Fardhan. Ia berjalan membawa koper dan tas kecilnya keluar dari kamar.
" neng mau kemana bawa koper ?" tanya bi Titin saat melihat Maira membawa koper
" ini bi, baju baju Mai kan udah banyak yang gak kepake. Jadi mau Mai kasih ke yang membutuhkan aja, lagian kalau gak dipake juga kan dosa bi " jawab Maira mencoba tenang agar tidak mengundang kecurigaan bi Titin
" tapi neng udah izin belum sama den Fardhan mau keluar ?" tanya bi Titin
" udah bi, bibi tenang aja. Lagian Mai juga perginya cuman sebentar kok. Mai pergi ya, Assalamualaikum " ucap Maira
" waalaikumsalaam " jawab bi Titin
Bi Titin pergi berlalu mencari mang Jajang di luar. Sedangkan Maira mengemudikan mobilnya ke salah satu bank untuk mengambil uang cash untuk bekalnya nanti.
Maira mengemudikan mobil ke kafe miliknya dan Aisyah. Sesampainya di kafe, Maira menerima panggilan video dari nomor yang telah mengancamnya beberapa waktu lalu.
" Bagaimana dengan kejutanku ?" tanyanya
" dimana kau sembunyikan ibuku ?" tanya Maira
" ada disini ! jika kau masih menyayanginya, pergilah menjauh maka ibumu akan selamat " kata si penelfon
" oke, oke ! aku bakal pergi, tapi aku mau kau melepaskan ibuku. Dan satu lagi, aku mau melihat ibuku " tegas Maira
" kau lihat, wanita itu ? itu adalah ibumu ! " kata penelfon sambil mengarahkan kamera ponselnya pada mama Maira
Maira menangis saat melihat kondisi mamanya yang terikat di sebuah kursi dengan wajah pucatnya.
" lepaskan ibuku " ucap Maira diiringi isak tangisnya
" akan aku lepaskan setelah kau pergi menjauh darinya " kata si penelfon
" ya, aku akan pergi "jawab Maira mantap
Maira pun menangkup wajahnya menangis terisak didalam mobil. Ia tidak bisa egois, ini demi keluarga dan suaminya. Maira keluar dari mobilnya dan kembali ke rumah dengan menaiki taxi. Ia sengaja meninggalkan mobilnya di kafe.
" assalamualaikum " ucap Maira saat membuka pintu rumah
" waalaikumsalaam, sudah neng ?" tanya bi Titin
" sudah bi. Oh iya, Mai langsung ke atas aja ya mau bersih bersih bi gerah banget " jawab Maira
" ya sudah, bibi kembali ke belakang " pamit bi Titin
Maira masuk kedalam kamar membersihkan diri dan berganti baju. Setelah berganti baju, Maira pe4gi ke dapur untuk mengambil air minum sekalian melihat situasi.
" neng, bibi ke minimarket sebentar ya. Bahan yang di dapur ada yang habis " kata bi Titin
" iya bi ! eh, tapi kalau boleh Mai nitip cemilan ya bi " kata Maira
" iya neng, nanti bibi belikan " jawab bi Titin
Bagai mendapat keberuntungan, Maira langsung pergi ke kamarnya mengambil tas dan pe4gi melalui pintu belakang rumah karena di depan ada mang Jajang yang sedang memotong rumput.
.
.
.
.
.
TBC
l