Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
94


hari berganti, Maira sudah melakukan kemo pertamanya kemarin. Ini semua dia lakukan dengan terpaksa, karena sebetulnya ia tidak mau tapi karena abangnya yang terus memohon maka ia tidak bisa menolaknya.


" Mai, bagaimana apa sudah lebih baik ?" tanya Zahra


" masih terasa lelah Ra, mual juga masih tapi sudah lebih baik kok " jawab Maira


" semangat ya Mai, kamu pasti bisa sembuh kembali " kata Zahra memberi semangat


" iya Ra, semoga saja begitu " jawab Maira


" oh iya Ra, abang gak kesini ? " tanya Maira


" belum, mungkin besok akan kemari. Tadi udah kasih kabar kalau hari ini ada meeting penting dengan klien dari luar " jawab Zahra


Ya, memang hari ini Azka ada meeting penting dengan klien dari luar. Makanya sekarang Nisa yang menggantikannya menemani mama di rumah sakit.


*****


Hari ini Fardhan masih melakukan meeting dengan beberapa investor, termasuk didalamnya Kirana. Fardhan masih fokus dengan meeting kali ini, tapi tidak dengan Kirana. Ia terus menatap dan memperhatikan Fardhan walaupun hal itu tidak dihiraukan oleh Fardhan sama sekali.


Usai meeting, Fardhan kembali kedalam ruangannya diikuti oleh Shandy dibelakangnya. Tanpa Fardhan dan Shandy sadari, Kirana mengikuti langkah keduanya dan masuk kedalam ruang kerja Fardhan.


" Shan, aku minta dokumen kontrak kerja sama kita dengan perusahaan xx. Aku tunggu sebelum jam makan siang " kata Fardhan lalu menatap wanita yang mengikutinya


" kamu ! ngapain kemari ? bukankah meeting kita sudah selesai ?" kata Fardhan ketus


" oh ayolah Dhan, aku kemari ingin mengajakmu makan siang nanti ! aku akan menunggu disini saja ya ! " kata Kirana tanpa tahu malu


" maaf nona, sebaiknya anda tidak mengganggu ! silahkan nona menunggu di ruang tunggu kalau mau " sambar Shandy


" tidak mau ! aku mau disini ! " kekeh Kirana


" Kirana, please mengertilah ! ini kantor, bukan di rumah. Aku minta kamu keluar sekarang juga " kata Fardhan tak mau basa basi lagi


" tapi Dhan, aku gak mau kalau harus nunggu diluar " rengeknya


" silahkan nona " kata Shandy sambil mengulurkan tangannya memberi jalan pada Kirana


" tidak mau " kata Kirana setengah berteriak


" Kirana " geram Fardhan


" aku akan laporkan pada mama kamu kalu aku di usir dari kantormu " ancam Kirana


" silahkan saja ! Shandy, kau tahu tugasmu " kata Fardhan dengan tegas


Shandy kemudian menyeret Kirana untuk keluar dari ruangan Fardhan. Shandy tahu, saat ini otak Fardhan masih kacau. Ia butuh ketenangan, karena selain beban tentang rumah tangganya ia juga harus memikirkan masalah pekerjaannya yang banyak. Fardhan juga jadi sering uring uringan semenjak Maira meninggalkan rumah, ditambah dengan orang suruhannya yang belum bisa mendapatkan informasi juga.


Kirana yang diperlakukan seperti itu pun tidak tinggal diam, ia menelfon mamanya Fardhan untuk mengadu apa yang dilakukan padanya. Mama pu langsung menghubungi Fardhan untuk menegurnya.


tring tring


(anggaplah bunyi panggilan di ponselnya Fardhan ya๐Ÿ˜)


๐Ÿ“ž " ya hallo ma " ucap Fardhan saat m3ngangkat sambungan telfon dari mamanya


๐Ÿ“ž " Dhan, kenapa kamu mengusir Kirana dari ruanganmu ?" tanya mama


๐Ÿ“ž " ma, Fardhan sedang bekerja ma ! Fardhan tidak mau diganggu, fikiran Fardhan akan terganggu bila Kirana ada didalam ruangan Fardhan ! Mama juga tahu bagaimana sifat Kirana, Fardhan harap mama mengerti ma " jelas Fardhan


๐Ÿ“ž " maaf ma, Fardhan lagi banyak kerjaan. Nanti Fardhan hubungi lagi, assalamualaikum" kata Fardhan lalu menutup sambungan telfonnya


Hari ini pekerjaan Fardhan sangatlah banyak, ditambah dengan beberapa kontrak kerja yang baru saja didapatkannya beberapa hari kemarin.


*****


Sedangkan Azka baru selesai meeting dengan klien dari luar, ia langsung masuk kedalam ruangannya untuk menyelesaikan beberapa dokumen. Setelah selesai, Azka kembali ke rumah untuk membersihkan diri kemudian pergi ke rumah sakit. Sebenarnya ia sangat merindukan putrinya, ia rindu ingin menemani putrinya bermain lebih lama seperti biasanya jika ia pulang bekerja. Tapi ia harus memikirkan kembali sang mama yang harus ditemani di rumah sakit. Ia berjanji, pada Silmi jika neneknya sudah sembuh ia akan mengajak seluruh keluarga untuk berlibur.


" bagaimana kondisi mama ?" tanya Azka


" kondisinya masih sama mas, belum ada perubahan " jawab Nisa


Baru saja Nisa mmenutup mulutnya usai mwnjawab pertanyaan Azka, seorang suster yang masuk untuk mengganti cairan infus mamakeluar dengan terburu buru dan kembali dengan seorang dokter.


" maaf sus, ada apa ?" tanya Azka mulai dirundung rasa cemas


" maaf pak kondiai pasien kritis " jawab suster lalu menutup pintu dengan segera


" bagaimana mas ?" tanya Nisa


" mama kritis " jawab Azka dengan lesu


" ya Allah, semoga mama diberi kekuatan dan segera sembuh ya Rabb " do'a Nisa


Azka terus berjalan mondar mandir didepan ruangan menunggu dokter atau suster keluar untuk memberi kabar padanya. hampir setengah jam barulah sokter keluar dengan wajah lesu.


" bagaimana dok " tanya Azka


" maaf pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi ibu anda tidak mampu lagi bertahan. Allah lebih sayang padanya, maaf sekali " jawab dokter sambil menghela nafas kasar


" tidak mungkin dok, anda jangan bercanda dok ! saya bisa menuntut anda " kata Azka meradang lalu memegangi kerah sneli yang dikenakan dokter


" maaf pak, saya hanya sebagai dokter tidak bisa berbuat banyak. Tuhan lebih berkehendak dan lebih berhak " kata dokter membuat Azka jatuh bersimpuh


" innalillahi wainna ilaihi raaji'un " lirih Nisa dengan berurai air mata


Nisa mendekat pada suaminya dan memeluknya. Kedua insan itu saling mendekap, saling mencurahkan rasa kehilangan yang kini dirasakannya. Keduanya menangis terisak masih belum mampu menerima kepergian mama. Perlahan Azka berdiri dan memegangi Nisa. ya, Nisa nampak sama terpukulnya dengan Azka karena hubungan antara mama dan Nisa sudah seperti ibu dan anak kandung saja. Mama tidak pernah membeda bedakan kasih sayang pada anak ataupun menantu.


perlahan keduanya masuk kedalam ruangan yang kini menjadi saksi bisu perjuangan seorang wanita tangguh untuk hidup. Jasad terkujur kaku diatas pembaringan dengan kain putih yang menutup seluruh tubuhnya. Kini tidak ada lagi rasa sakitnya, hilang sudah segala beban yang di deritanya. Yang ada hanya raga kaku yang akan segera siap di tanam dalam tanah, rumah terakhir yang akan ditempatinya.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading๐Ÿ˜Š


jangan lupa tinggalkan jejaknya yupz๐Ÿ‘Œ๐Ÿป