
Tok tok tok
ceklek..
" bi, ada orang yang mau bertemu dengan si aden " kata satpam
" siapa ?" tanya bi Titin
" gak tahu, tapi katanya ini penting dan urgent gitu " jawab satpam
" ya sudah, kamu biarkan dia nunggu dulu diluar. Aku mau kasih tahu si aden dulu " kata bi Titin
Bi Titin langsung masuk mencari Fardhan.
tok tok tok
" masuk " kata Fardhan dari dalam
" maaf den, itu diluar ada yang nyariin aden. Katanya urusan penting, urgent gitu " kata bi Titin
" siapa bi ? " tanya Fardhan bingung
" bibi juga gak tahu, coba saja aden temui. Siapa tahu bener bener penting " kata bi Titin
Fardhan langsung menutup laptopnya dan segera keluar dari ruang kerjanya diikuti oleh bi Titin dibelakangnya. Bi Titin mengatakan kalau tamu yang ingin bertemu dengannya disuruh menunggu didepan saja.
Fardhan mengernyitkan keningnya saat melihat laki laki yang tengah duduk di kursi dengan posisi membelakanginya.
" ada perlu apa kesini ?" ketus Fardhan saat menyadari laki laki yang kini ingin bertemu dengannya
" ini tentang Maira. Bisa kita bicara didalam saja ? " kata Rizal sambil memperhatikan keadaan disekitar luar pagar
" kenapa memangnya ?" tanya Fardhan
" ini penting dan rahasia. Aku tidak mau mengundang kecurigaan yang bisa membuat istrimu dalam bahaya " jawab Rizal
Fardhan pun mengajak Rizal masuk dan duduk diruang tamu. Beberapa menit keduanya terdiam dengan pemikiran masing masing. Hingga Rizal mngeluarkan suaranya memecah kesunyian.
" Sebelumnya aku minta maaf, aku sudah bersalah padamu dan juga Maira. Aku akui jika dulu, aku yang masih mengejar Maira bahkan masih menginginkan untuk memilikinya. Hingga aku nekat mendekatinya dan membuat masalah dalam rumah tangga kalian. Aku minta maaf, karrna aku telah bersalah membantu Kirana membawa dan menyembunyikan istrimu... " ucapan Rizal terpotong seketika saat Fardhan meraih kerah kemeja yang dipakai Rizal dengan tatapan yang dipenuhi amarah
" jadi kau yang membawa istriku ? katakan dimana dia sekarang ? dimana kau menyembunyikannya ?" teriak Fardhan
" sabar dulu, aku belum selesai bicara " kata Rizal
" Aku minta maaf atas amarah yang aku pendam karena ketidak tahuanku atas kasus yang menimpa papa ku dikantormu. Aku menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Maira membuatku sadar, cinta memang tidak harus selalu memiliki. Aku sungguh menyesal, aku minta maaf padamu " lanjut Rizal dengan sorot mata sendu
" katakan dimana istriku ?" tanya Fardhan
" dijalan xxxx no xx. Datanglah kesana secepatnya, selamatkan istrimu. Maaf, aku tidak bisa membantumu ke lokasi itu. Dan satu lagi, jangan beri tahu siapapun kalau aku datang kemari. Penjagaan disana tidak terlalu ketat, berangkatlah sekarang sebelum wanita itu menyiksanya kembali " kata Rizal
" terima kasih informasinya, aku akan segera kesana. Satu lagi, aku harap kau tidak menyakitiku dan kita bisa berteman setelah ini " kata Fardhan
" aku harus segera pergi, wanita itu pasti akan mencariku saat Maira terlepas dari genggamannya. Cepatlah datang, suatu saat aku akan menemuimu ke rumah ini. Aku harus pergi sekarang, semoga sukses " kata Rizal sambil menepuk pelan pundak Fardhan
Rizal pergi dan kembali memakai masker dan topi untuk mengelabuhi orang suruhan Kirana yang disuruh untuk terus mengawasi gerak gerik Rizal. Fardhan hanya menatap kepergian Rizal yang menghilang keluar pintu gerbang rumahnya.
Azka pergi menggunakan motor agar bisa langsung meluncur cepat dan menghindari macet. Azka, Shandy dan Fardhan berjanjian di satu titik untuk mereka bertemu dan segera pergi ke lokasi.
Sesampainya dilokasi, Fardhan mengernyitkan keningnya saat mengingat mimpinya. Dan tempat yang ia pijak kini sama persis dengan apa yang ada didalam mimpi itu.
Shandy langsung memberi arahan pada orang suruhannya untuk langsung berpencar dan melumpuhkan para penjaga yang ada. Sedangkan sisanya ia suruh untuk bersiap siaga saja jika sewaktu waktu ada kejadian yang tidak diduga.
Fardhan menyusuri bangungan dan hingga sampai pada satu bangunan yang didalamnya terdengar seorang wanita sedang menangis lirih sambil berdo'a.
" Maira " panggil Fardhan pelan
" Mai, sayang apa itu kamu ?" panggil Fardhan lagi
Saat membalikkan tubuhnya sang pemilik suara yang menangis lirih tadi langsung terdiam dan menatap soaok yang ada dihadapannya.
" mas " lirih Maira dengan air mata yang masih menggenang
" iya, ini mas sayang " kata Fardhan lalu memeluk Maira dengan erat hingga membiat Maira merintih kesakitan
" sakit mas " rintih Maira
" mana yang sakit ? apa aku terlalu kecang memelukmu ? " panik Fardhan
" punggungku sakit mas " keluh Maira
" coba mas lihat " kata Fardhan langsung membalikkan tubuh Maira dan menyingkap baju yang memakai zipper di belakang itu
Dilihatnya banyak bekas cambukan yang memerah. Ada pula yang berdarah hingga membengkak. Fardhan terkejut sekaligus sedih saat melihat kondisi Maira yang seperti itu. Fardhan pun langsung memeluk Maira dengan hati hati agar tidak mengakitinya lagi.
" maafkan aku yang terlambat menemukanmu, hingga membuatmu harus mengalami ini semua " kata Fardhan yang tanpa terasa meneteskan air matanya
Azka sebagai seorang kakak juga ikut merasa sakit saat melihat kondisi adiknya yang seperti itu. Tapi ia harus kuat dan tidak boleh sedih disaat situasi seperti ini. Yang harus diutamakan adalah membawa Maira keluar secepatnya.
" cepat bawa Maira keluar dari sini Dhan " kata Azka
" iya bang " sahut Fardhan
Fardhan pun membawa Maira keluar dari ruangan yang penuh debu itu. Fardhan langsung membawanya kedalam mobil yang tadi dipakainya.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading😊