Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
106


Fardhan tiba di rumah mertuanya siang hari, karena sebelumnya ia harus mampir ke kantor karena ada urusan yang penting dan tidak bisa ditunda. Saat sampai di rumah, Fardhan tersenyum melihat Maira yang kini sedang asik bermain dan bercanda tawa bersama Silmi di ruang keluarga.


" assalamualaikum " ucap Fardhan


" waalaikumsalaam" jawab Maira dan Silmi kompak


" seru banget kayaknya sampai ada yang ngucapin salam dari tadi gak kedengaran " kata Fardhan


" maaf, aku gak dengar " kata Maira


" tidak apa. oh iya, aku akan mengajakmu kembali ke rumah sore ini. Bagaimana ? apa kamu siap ?" tanya Fardhan


" apa mama kamu masih ada disana ?" tanya Maira


" ya, masih ada. Tapi kamu tenang saja, mas sudah bicara dengan mama agar tidak mengganggu kamu lagi " jawab Fardhan


" baiklah " kata Maira dengan lesu


Fardhan kini mengikuti langkah Maira masuk kedalam kamarnya, ia berniat akan membantu Maira membereskan pakaian yang akan dibawanya pulang.


" biar mas bantu " kata Fardhan


" terima kasih mas, tapi tidak perlu repot membantuku. Aku hanya akan membawa beberapa baju saja, selebihnya akan aku simpan disini. Agar saat aku ingin menginap disini tidak perlu membawa pakaian lagi " kata Maira


" baiklah kalau begitu " kata Fardhan pasrah


Akhirnya Fardhan hanya bisa menyaksikan Maira yang membereskan beberapa bajunya kedalam koper kecil. Sebenarnya baju baju Maira masih ada di apartemen yang sempat ditinggalinya bersama Zahra.


sebenarnya bajuku hampir semua ada di apartemen, tapi kalau aku membawanya sekarang nanti mas Fardhan tahu tempat aku bersembunyi. Ah iya, aku sampai lupa nanti aku minta tolong saja pada Zahra.


fikir Maira


Setelah selesai mengemasi pakaiannya, Maira meletakkan koper kecil miliknya di dekat pintu kamar agar lebih mudah nanti saat membawanya. Melihat sang istri telah selesai berkemas, Fardhan turun dari kasur mendekat pada Maira.


" sebaiknya sekarang kita bicarakan hal ini dengan papa, abang dan kak Nisa " kata Farfhan


" ya, aku juga fikir begitu " kata Maira


Maira dan Fardhan berjalan beriringan menuju ruang keluarga, momen yang pas untuk bicara rupanya. Semua keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga sambil memperhatikan Silmi yang asik bermain bersama Zahra.


" kebetulan semua berkumpul disini " kata Fardhan


" ada apa Dhan ?" tanya Azka


" iya, ada apa nak ?" tanya papa


" maaf sebelumnya, mungkin hal yang akan Fardhan bicarakan ini terlalu mendadak. Tapi Fardhan ingin semua mengerti dengan kondisi kami. papa, abang, Fardhan hari ini akan mengajak Maira kembali ke rumah kami " kata Fardhan


" kenapa nak ? apa kamu tidak betah disini ?" tanya papa


" bukan begitu pa, tapi Fardhan ingin lebih banyak waktu dengan Maira saja. Fardhan betah kok tinggal disini, tapi kami juga sudha punya rumah sendiri pa, abang, Fardhan harap papa dan abang bisa mengerti " kata Fardhan


" apa tidak terlalu cepat Dhan ?" tanya Azka


" tidak bang " jawab Fardhan tersenyum manis


" baiklah, jika itu mau kalian. Abang dan papa hanya bisa berharap yang terbaik untuk kalian, dimanapun kalian berada semoga selalu dalam lindungan Allah " kata Azka


" kalau kamu pulang ke rumahmu, lalu aku bagaimana Mai ?" tanya Zahra dengan nada sendu


" kamu tenang saja, aku sudah bilang pada Aisyah. Kamu akan bekerja dengannya di kafe, kebetulah disana juga ada kamar yang kosong. Kamu bisa tinggal disana bersama bebeeapa karyawan yang lain " kata Maira


" benarkah ? jadi aku bisa bekerja disini ?" tanya Zahra dengan mata berbinar bahagia


" ya, mungkin besok atau lusa kamu akan dijemput olehnya. Nanti aku kabari lagi kalau ada informasi baru " kata Maira


Zahra merasa senang, akhirnya ia bisa kembali bekerja. Jujur saja saat mama Maira meninggal, Zahra sempat berfikir ia akan kerja apa dan dimana ? sedangkan ia datang ke kota ini bersama Zahra dan yang menanggung semua kebutuhan dan keperluan Maira dan Zahra adalah Azka. Tapi saat ini ia merasa sedikit lega. Bukan tanpa alasan ia merasa sedikit lega, itu karena Maira kembali bersama suaminya ditambah lagi ia juga sudah mendapatkan pekerjaan baru.


Hanya satu hal yang masih menjadi beban fikirannya saat ini, yaitu tentang penyakit Maira. Walau bagaimanapun juga kondisi Maira harus segera diketahui oleh Fardhan, sebelum semuanya terlambat. Tapi Zahra tidak bisa berbuat apa apa, ia hanya bisa diam karena Maira tidak mau masalah penyakitnya diketahui oleh yang lain.


" oh iya, kapan kalian akan kembali ke rumah kalian ?" tanya papa


" rencananya sore ini pa " jawab Fardhan


" kenapa tidak besok saja ?" tanya papa


" besok aku sibuk di kantor pa, pagi ada meeting dengan klien dari luar dan sorenya aku juga harus meeting kembali dengan klienku yang sudah beberapa kali aku undur jadwalnya, jadi kali ini aku tidak bisa mengelak lagi " jawab Fardhan


" oh begitu, papa kira kalian alan pulang besok " kata papa


" papa tenang saja, nanti Mai akan sering main kesini. Akan usahakan nginep juga disini, jadi kita tetap bisa berkumpul " kata Maira


Tak terasa waktu terus berlalu hingga kini waktunya Fardhan dan Maira pulang ke rumahnya. Fardhan menyeret koper kecil milik Maira, dan langsung dimasukkan kedalam bagasi mobil. Sedangkan Maira pamit kepada papa, Azka, Nisa dan juga Zahra tak luoa si kecil Silmi yang selalu nempel pada Maira.


" pa, Maira pamit pulang ya ! papa jaga kesehatan disini, jangan banyak fikiran. Nanti Mai akan sering sering ngunjungin papa disini " kata Maira sambil menyalami tangan papanya.


" iya nak, kamu juga harus jaga kesehatan. Papa lihat kamu jadi kurus dan pucat, jagalah kesehatanmu. Jangan selalu menyalahkan diri, cukup doakan mama yang sudah tenang disana " kata papa


" iya pa, Mai akan ingat pesan papa " kata Maira


Kini Maira beralih pada Azka, kakak yang selalu ada untuknya.


" bang, Mai pulang. Titip papa disini, nanti Mai akan usahakan untuk sering sering kesini dan nginep. abang sama kak Nisa sehat sehat selalu ya " kata Nisa sambil memeluk Azka dan beralih pada Nisa.


" Ra, aku pulang ya. Nanti aku kasih kabar lagi sama kamu " kata Maira


Setelah berpamitan dengan semua, Maira pun pergi meninggalkan rumah masa kecilnya dengan segala kenangan indah dan pahitnya kehilangan sang mama. Maira masih belum bisa melupakan apa yang telah terjadi padanya. Kehilangan sosok mama merupakan titik terendah dalam hidupnya, kelemahannya. Kini sang mama telah tenang kembali pada sang Pemilik Kehidupan yang Kekal Abadi. Kini tinggal ia menjaga kleluarganya yang masih ada untuk ia lindungi. Cukup sekali ia gagal dalam menjaga mamanya, kali ini Maira telah bertekad akan menjadi lebih baik dan jadi wanita yang kuat untuk menjaga keluarganya.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊


terima kasih🙏🏻