Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
108


" aku mau bicara sesuatu tentang diriku " kata Maira terdengar lirih di akhir kalimatnya


" katakan saja, jangan ragu ! aku akan mendengarkanmu " kata Fardhan penuh keyakinan


" aku... "


tok tok tok


" Dhan, mama mau bicara denganmu " kata mama Farfhan dari luar pintu


" lanjutkan sayang " kata Fardhan


" temui mama dulu, beliau lebih penting " kata Maira mengulas senyum tipis


biarlah, mungkin bukan sekarang waktunya kamu tahu mas


gumam Maira


" beneran ?" tanya Fardhan


Maira hanya mengangguk tanpa berkata apa apa. Tadinya ia sudah yakin kalau ia akan mengatakan apa yang menjadi bebannya, tapi lagi lagi hatinya menjadi ragu setelah ingat kembali dengan mertuanya.


Fardhan pun keluar dari kamar dan menemui mamanya di ruang keluarga. Dilihatnya sang mama tengah menonton tv sambil memegang remot. Fardhan mendekat dan duduk disamping mamanya.


" apa yang ingin mama bicarakan ?" tanya Fardhan


" apa kamu akan tetap menutup hatimu terhadap Kirana ? mama tidak mau kamu menyesal nantinya. Ingat umur juga Dhan, umurmu itu makin keaini makin bertambah dan kamu juga butuh keturunan yang terlahir dari darah dagingmu sendiri " kata mama mengompori


" ma, sudah berapa kali aku bilang sama mama ! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikah lagi ! kalau mama mau punya cucu, nikahkan saja Faridah " kata Fardhan tersulut emosi


" kamu jangan mengumpankan adikmu untuk hal ini Dhan ! Kamu juga butuh keturunan, mau sampai kapan kamu akan bertahan dengan wanita mandul dan tak berguna itu hah ?" kata mama tak kalah emosinya


" tidak masalah bagiku punya keturunan atau tidak, yang penting aku bisa terus bersama dengan Maira. Sudah cukup kesalahan yang aku perbuat kepadanya, sekarang aku hanya ingin bersama Maira. Ada atau tidaknya anak diantara kami itu bukanlah suatu masalah bagiku, bisa saja aku mengambil anak asuh untuk aku jadikan anak jika Maira mau " kata Fardhan setelah bisa menguasai hatinya dari amarah


" Tapi tidak bisa begitu Dhan, kamu harus punya anak kandungmu sendiri bukan anak pungut. Dan mama tidak akan pernah menyetujui kamu untuk mengadopsi anak " kata mama dengan lantangnya


" terserah mama. Yang jelas aku ingin hidup bahagia dengan istriku dengan atau tanpa adanya anak " kata Fardhan berlalu meninggalkan mamanya sendiri


Dibalik obrolan yang memancing emosi itu ternyata Maira mendengarnya. Batinnya kembali teriris kala mendengar apa yang Fardhan katakan untuk memberla dirinya dan mempertahankan rumah tangganya. Sebenarnya Fardhan bisa saja memiliki keturunan andai dia mau menikah kembali walau hal itu terasa sangat berat bagi Maira. Tapi Fardhan tak pernah mau, malah ia selalu marah saat mendengar Maira menyuruhnya menikah kembali.


Saat mendengar langkah kaki Fardhan mendekat, Maira langsung menutup pintu kamar yang ia buka tadi dan segera pergi ke kamar mandi.


Didalam kamar mandi lagi lagi Maira menangis tersedu sedu mengingat perkataan suami dan mertuanya tadi. Batinnya merasa bersalah, bahkan sempat terlintas dibenaknya untuk pergi meninggalkan Fardhan dan berpisah saja. Tapi semua fikiran itu ia buang jauh jauh.


Sekarang Maira bisa berfikir jernih, ucapan suami dan mertuanya ia akan jadikan pecut supaya ia bisa segera sembuh dan menjalani program hamil kembali demi keutuhan rumah tangganya.


bagaimanapun caranya aku harus segera sembuh, aku tidak mau rumah tanggaku seperti ini terus. Aku harus semangat, aku bisa dan pasti bisa. Ayo semangat Maira, tunjukkan kalau dirimu kuat


gumam Maira sambil menatap pantulan wajahnya didalam cermin kamar mandi


*****


" mas, Bagaimana kalau Zahra kamu pekerjakan saja dia di kantormu ?" kata Nisa


" ya, mas juga sudah memikirkannya. Tapi kita bisa menawarinya kalau dia tidak betah bekerja di tempat yang Maira sarankan kemarin " kata Azka


" ya, sebaiknya begitu " kata Nisa


Nisa dan Azka sedang ngobrol berdua, lain halnya dengan Zahra yang kini sedang duduk didalam kamar yang ditempatinya setelah menelfon ibunya. Tadi Maira sudah mengirim pesan padanya kalau besok Aisyah akan menjemputnya langsung untuk pergi ke tempatnya bekerja. Entah pekerjaan apa yang akan dijalaninya, yang pasti ia harus bisa dan semangat.


Pagi menyapa, semua orang telah terbangun dari tidurnya dan bersiap kembali pada kesibukan masing masing setelah beristirahat semalam. Termasuk Azka dan Zahra yang sudah bersiap siap akan pergi bekerja.


" kak Nisa, abang hari ini Ara akan mulai bekerja. Do'akan Ara ya supaya betah nanti " kata Zahra


" iya, abang dukung kamu. Tapi kalau kamu tidak betah atau merasa tidak cocok bekerja disana, kamu bilang saja sama abang. Nanti abang kasih kerjaan sama kamu " kata Azka aambil mengulas senyum


" terima kasih kak, abang dukungannya. Jujur aku serasa punya saudara saat ada di tengah kalian, aku merasa punya kakak sendiri " kata Zahra merasa terharu


" hey, kamu itu bicara apa sih ! bagi kami, kamu itu memang adik kami walaupun yidak ada ikatan darah diantara kita. Jadi kamu jangan merasa sendiri lagi seperti itu. Kak Nisa ini kakak perempuanmu, dan aku abangmu " kata Azka dan diangguki oleh Nisa


" terima kasih bang " kata Zahra merasa terharu


Setelah selesai sarapan, Azka langsung pamit pergi ke kantor. Dan Zahra pergi bersama dengan Aisyah, tinggallah Nisa dan Silmi juga papa yang ada di rumah itu.


*****


Setelah hampir 40 menit berada di jalan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Aisyah sampai di kafe pertama yang ia dirikan bersama Maira.


" Kita sudah sampai, ayo masuk " ajak Aisyah


" jadi aku akan kerja disini ?" tanya Zahra polos


" ya, kamu akan kerja disini bersamaku. Dulu aku bekerja dengan Maira disini, tapi setelah Maira menikah dia mengundurkan diri. Sejak saat itu aku belum mencari partner untuk membantuku, dan sekarang Maira mengajukanmu untuk membantuku disini. Aku harap kamu akan betah kerja bersamaku disini " kata Aisyah


" Tapi apa aku bisa ?" tanya Zahra tidak yakin dengam dirinya


" kamu pasti bisa ! Maira yidak akan sembarangan mengajukan seseorang untuk bekerja. Dia pasti sudah tahu kemampuanmu, dan aku juga yakin kamu pasti bisa. Kita belajar bersama ya " kata Aisyah meyakinkan


" baiklah, tapi terus bembing aku ya !" kata Zahra


Aisyah membawa Zahra ke ruang kerjanya dilantai dua. Ruangan dulu tempat Maira dan Aisyah berjibaku mengembangkan usahanya agar bisa sebesar dan berkembang seperti sekarang.


" Disini kamu akan jadi asistenku, dan ini meja kerjamu " kata Aisyah menunjukkan letak meja yang akan ditempati oleh Zahra


" oh iya, disini juga ada kamar untuk istirahat jika kamu merasa lelah " kata Aisyah membuka pintu kamar yang terlihat rapi dan bersih


" nyaman banget tempatnya Syah " kata Zahra


" iya Ra, nyaman banget. Kalau capek ya tinggal rebahan " kata Aisyah


" eh aku lupa, kalau tempat untuk tinggalku dimana ? kata Maira disini juga ada mes ?" tanya Zahra


" Mes ada di belakang, kalau kamu mau kamu bisa tidur di kamar ini saja " kata Aisyah


" gak perlu, aku gak mau diperlakukan istimewa seperti itu. Aku mau seperti yang lain saja, tinggal di mes. Sepertinya akan lebih asik jika tinghal bersama yang lain " kata Zahra


" terserah kamu saja. Kalau mau disini juga tidka apa apa, tapi semua kembali pada pilihanmu lagi " kata Aisyah


" iya, terima kasih tawarannya " kata Zhara sambil tersenyum


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊