Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
82


Hari semakin gelap, Azka masih menunggu di depan ruang operasi. Fardhan masih melakukan pencarian sang istri yang masih belum menemukan titik terang. Satu satunya pentunjuk informasi yang ia dapat adalah Maira pergi keluar kota, tapi Fardhan sendiri belum bisa menemukan Maira walaupun ia telah mengerahkan banyak orang suruhannya.


Didalam ruangan yang berukuran 2 × 2,5 meter Maira masih duduk didekat pintu. Ia masih memutar otaknya untuk bisa keluar dari dalam ruangan ini. Tubuhnya masih saja bergetar didalam ruangan gelap itu, nafasnya terasa makin berat seiring dengan semakin gelapnya didalam ruangan iyu karena malam mulai datang.


Ingatannya berputar pada peristiwa yang sudah ia kubur begitu lama, dan kini ia alami kembali. Fikirannya tidak bisa terfokuskan, seiring dengan kondisinya yang mulai melemah. Ia meraba tas yang dibawanya, tapi ia tidak menemukan apapun didalamnya kecuali obat yang memang selalu ia bawa kemana mana.


Zahra, Diki dan teman temannya kini sudah sampai di lokasi yang dituju. Ia hanya melihat sebuah bangunan tua yang masih tampak kokoh berdiri walaupun sangat kotor tak terawat. Salah satu teman Diki mencoba meneliti sekitarnya, ia menemukan jejak bekas ban mobil dan ban motor di dekatnya.


" Dik, coba lihat ! bukankah ini jejak ban mobil dan motor ?" terang Gani


" iya, benar ! coba kita periksa ke dalam, tapi tetap hati hati " perintah Diki


Diki, Zahra dan Gani temannya masuk kedalam bangunan tua sedangkan tiga orang berada di luar. Zahra menyalakan senter dari ponselnya, ia melihat kursi dan tali bekas ikatan yang di tinggalkan.


" Dik, ini..." lirih Zahra


" iya, aku tahu ! kita coba cari saja dulu, semoga temanmu itu baik baik saja dan masih ada disekitar sini " kata Diki mencoba menenangkan


" Dik, sepertinya tidak ada orang lagi disini ! " kata Gani


" iya, sepertinya begitu. Sebaiknya kita pergi dari sini, dan kita akan teruskan besok " jawab Diki


" tapi bagaimana dengan Maira ? aku takut dia kenapa napa " kata Zahra


" kita akan cari lagi besok, sekarang kita pulang dulu " jawab Diki


" iya, sebaiknya kita pulang ! lagi pula ini sudah gelap, ditambah tempatnya dipinggir hutan gini aku jadi takut ada hewan buas " kata Gani


" tapi aku merasa Maira ada disini ! aku mau coba lihat ke arah sana " kata Zahra menunjuk pada salah satu ruangan


" ya sudah, tapi jika masih belum membuahkan hasil juga kita langsung pulang saja " kata Diki menyetujui keinginan Zahra


Zahra berjalan mendekati ruangan yang tadi di tunjuknya, karena hanya ruangan itu yang masih belum di periksa.


Trek


Sesuatu terinjak oleh Gani, dan dilihat apa yang diinjaknya baru saja.


" tunggu, ini kan ponsel " kata Gani menunjukkan sebuah ponsel yang sudah rusak tak berbentuk


" ini ponsel Maira, aku yakin ini ponselnya " kata Zahra cepat sambil meraih ponsel rusak itu


Diki mencoba membuka pintu itu, tapi pintunya terkunci. Tak kehabisan akal, Diki pun mendobrak pintu itu dengam dibantu oleh Gani.


" Maira " panggil Zahra saat ia mengarahkan senter di ponselnya dan menemukan Maira yang sudah tergeletak tak sadarkan diri


" Dik, bantu angkat Maira " kata Zahra


Diki mengangkat Maira dan membawanya kedalam mobil dan di baringkan ditemani Zahra yang memangku kepala Maira di pangkuannya.


" coba periksa kembali, siapa tahu mamanya Maira masih ada disini juga " kata Zahra


Diki dan teman temannya pun masuk kembali kedalam bangunan itu untuk mencari mamanya Maira, tapi tak menemukan seorangpun didalamnya.


" kosong Ra, sepertinya mamanya Maira dibawa pergi " kata Diki


" ya sudah, sekarang kita pulang saja. Lagi pula kondisi Maira memerlukan penanganan segera " kata Gani


Diki dan kawannya membawa dua mobil, Diki dan Zahra bersama Maira. Dan Gani bersama tiga temannya di mobil berbeda melaju di belakang mobil yang di kendarai oleh Diki.


" Mai " panggil Zahra saat melihat Maira menggerakkan tangannya


" Ra " lirih Maira


" iya, ini aku ! kita ke rumah sakit ya, sekarang. kamu jangan banyak bicara dulu " kata Zahra masih belum bisa menyembunyikan rasa paniknya


" ke rumah aja Ra " lirih Maira


" tapi... " kata Zahra


" aku tidak apa apa " lirih Maira


" Dik, antar ke rumah saja. Jangan ke rumah sakit, Maira gak mau " kata Zahra


" Dia sudah sadar ?" tanya Diki karena dia terlalu fokus menyetir


" iya " jawab Zahra


" oke, kita kembali ke rumah saja " kata Diki


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Diki dan yang lainnya sampai di depan rumah Maira. Maira turun dibantu oleh Diki dan Zahra. Diki dan Zahra membawa Maira kedalam kamar Maira.


" Thanks ya Dik, udah bantu aku cari Maira " kata Zahra


" iya, aku senang kok bantuin teman yang butuh bantuanku " jawab Diki tersenyum ramah


" terima kasih sudah menolongku " kata Maira dengan suaranya yang masih lemah


" iya, lekaslah membaik. Oh iya aku keluar dulu ya " kata Diki berlalu pergi meninggalkan kamar Maira


Diki duduk di luar bergabung dengan Gani dan yang lainnya.


" balik yuk " ajak Doni


" sebaiknya kita berjaga saja disini. Takutnya terjadi apa apa, atau orang orang yang menyekap Maira tadi datang kemari. Jadi sebaiknya kita bermalam disini saja " kata Gani


" benar Gan, sebaiknya kita mendirikan tenda saja disini. sambil bikin api unggun gitu biar seru " kata Diki


Akhirnya Diki dan yang lainnya mendirikan sebuah tenda di depan rumah tang ditempati oleh Maira. Maira telah tertidur pulas ditemani Zahra. Sedangkan Diki dan yang lainnya mereka tidak tidur, mereka tetap berjaga jaga disekitar rumah Maira.


.


.


.


.


.


TBC