Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
87


Maira mengerjapkan matanya, ia baru saja bangun. Ia termenung sejenak, ini bukanlah kamarnya tapi kemudian ia ingat bahwa ia masih di rumah sakit. Maira mengedarkan pandangannya mencari Zahra dan Azka, tapi ia tidak menemukan keduanya di dalam ruangan.


ceklek..


" kamu sudah bangun Mai " kata Azka sambil menenteng kantong plastik di tangannya


" iya, abang dari mana ?" tanya Maira dengan suara khas bangun tidur


" habis cari makanan di depan, dari tadi kamu belum makan. Sekarang kamu makan ya " kata Azka


" Zahra mana bang ?" tanya Maira


" Ara udah pulang, nanti balik lagi kesini bawain baju kamu " jawab Azka


" loh, kok pulang ? bawain baju ? maksud abang gimana ?" tanya Maira


" iya, sore ini kita akan pulang. Abang akan memindahkan mama sekalian akan memeriksakan kondisimu disana, kamu akan berobat disana " jawab Azka


" aku ? emang aku kenapa ?" tanya Maira menunjuk dirinya sendiri


" tidak usah menyembunyikannya lagi Mai, abang sudah tahu semuanya. Zahra sudah cerita sama abang. Kenapa kamu menyembunyikan dan menanggungnya sendiri Mai ? kamu masih punya abang, ada kak Nisa, ada papa dan mama juga suamimu " tegur Azka membuat Maira tertunduk dalam


" maaf bang " lirih Maira


" jangan memendamnya sendiri, kamu masih bisa berbagi. Seandainya kamu tidak mau yang lain tahu, setidaknya ceritalah pada abang. Kita akan cari tahu dan mencoba menghadapinya bersama, bukan dengan cara seperti ini " kata Azka


" Mai tidak mau merepotkan kalian semua, maaf " lirih Maira


" ya sudah, sekarang abang tidak mau mendengar apapun lagi. Sore ini kita akan kembali dan kamu akan berobat di Jakarta juga. Sekarang habiskan makananmu " kata Azka


Maira memakan makanan yang dibelikan oleh Azka. Walaupun terkesan memaksa dan otoriter, tapi Azka melakukan itu untuk kebaikan mama dan Maira juga. Tak ada niat dalam hatinya untuk berbicara sekeras itu pada Maira, apalagi disaat kondisinya seperti ini.


Maira hanya bisa menuruti perkataan Azka. Maira menyadari semua yang Azka lakukan kini untuk kebaikannya juga.


" abang " panggil Maira pelan


" ya, ada apa Mai ?" tanya Azka m3ngalihkan pandangannya pada Maira


" apa tidak apa jika Mai kembali ?" tanya Maira


" insya Allah tidak akan, abang sedang usahakan dengan Shandy. Berdoalah semoga semua baik baik saja, kamu jangan terlalu cemas. Jangan banyak berfikir yang tidak tidak, itu tidak baik untuk kesehatanmu saat ini !" kata Azka menenangkan Maira


Ya, memang saat ini Azka dan Shandy sedang mengupayakan keamanan Maira. Jangan sampai ada yang tahu kalau Maira kembali ke Jakarta kecuali Azka, Shandy dan Zahra.Saat sore menjelang, Zahra sudah datang ke rumah sakit dengan membawa sebuah koper be4ukuran sedang dan travel bag yang agak besar.


tok tok tok


" assalamualaikum " ucap Zahra


" waalaikumsalaam " jawab Azka dan Maira


" sudah semua ?" tanya Azka


" sudah bang, malah Ara juga bakalan ikut langsung sama abang. Tadi Ara sudah minta izin sama ibu, dan alhamdulillah ibu ngasih izin " kata Zahra dengan sumringah


" syukurlah " kata Azka


" lalu pekerjaanmu bagaimana ?" tanya Maira


" tenang saja, ada Diki dan yang lainnya dibantu ibu juga kok. Katanya pengen bantu bantu, di rumah terus jenuh " kata Zahra


" oh iya Ra, tas nya simpan saja di samping sofa. Sebentar lagi kita berangkat " kata Maira


" Mai, kamu bersiaplah dulu " kata Azka


Maira pun segera beraiap seperti yang telah di perintahkan pleh Azka tadi. Ya, sebelum Zahra datang, Azka sudah berencana merubah lenampilan Maira menjadi lebih syar'i. Sebelumnya ia juga sudah membelikan setelan baju syar'i lengkap dengan niqab yang akan di pakai oleh Maira dan juga Zahra.


" Mai, ini kamu ? " tanya Zahra saat melihat Maira keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sangat tertutup dari biasanya


" iya, ini akan jadi penampilan kita yang baru " kata Maira


" kita ? " tanya Zahra


" iya, aku dan kamu akan berpenampilan seperti ini mulai sekarang. Dan nanti kita juga akan tinggal berdua di apartemen yang sudah abang siapkan " jelas Maira


" jadi aku juga hatus seperti Maira juga bang ?" tanya Zahra pada Azka


" iya, nanti kita sama sama berangkat ke rumah sakit. Tapi nanti kalian memakai mobil yang lain, kalian tidak bisa ikut abang supaya tidak ada yang curiga. Takutnya ada yang mengawasi Maira " jawab Azka


" baiklah " jawab Zahra


" sekarang ini pakaianmu, ganti dulu ! Sebentar lagi kita berangkat " kata Maira sambil menyerahkan sebuah papper bag berisi pakaian pada Zahra


Zahra pun menuruti Maira untuk memakai pakaian syar'i plus niqab nya. Kini Zahra dan Maira sudah berpenampilan berbeda, bahkan saat Shandy datang pun ia langsung menatap intens kedua wanita yang ada dihadapannya kini dengan pakaian yang serba tertutup.


" ini Maira dan Zahra " kata Azka seolah mengerti aryi dari tatapan Shandy


" maaf, saya tidak mengenali kalian " kata Shandy


" baguslah kalau kau saja tidak mengenali keduanya " kata Azka


Tak lama kemudian dokter datang bersama beberapa suster yang akan membawa mamanya Maira dan Azka pergi. Azka menemani mamanya di mobil ambulans diikuti oleh Shandy yang mengendarai mobil Azka. Sedangkan Maira dan Zahra berada didalam mobil yang sudah di siapkan oleh Shandy, yang di supiri oleh salah satu orang kepercayaannya.


perjalanan kali ini memakan waktu cukup lama, masalahnya terkendala banjir yang menggenangi jalan hingga beberapa jalur tidak bisa di lewati dan harus memutar arah. Sesampainya di rumah sakit XX, mama Azka langsung dibawa masuk untuk ditangani lebih lanjut. Termasuk juga Maira, kali ini Maira diperiksa kembali di rumah sakit tempatnya memeriksakan kondiainya sebelum pergi ke Banten. (sebelumnya Azka sudah buat janji temu dengan dr. Evan ya, itu d urus oleh Shandy )


" hai kak Evan " sapa Maira sambil tersenyum dibalik niqabnya


" Fairuz Humaira. Kamu Maira ? " tanya Evan memastikan


" iya kak, ini aku ! aku ngerti kok, nanti aku jelaskan. Ini abang aku, namanya Azka " kata Maira sambil mengenalkan abangnya


" saya Azka, abangnya Maira " kata Azka sambil mengulurkan tangannya


" saya Evan, teman dari Fardhan sekaligus dokter yang menangani Maira selama ini " kata Evan menyambut uluran tangan Azka


Maira melakukan beberapa pemeriksaan ditemani oleh Azka. Sedangkan Zahra menunggu di luar bersama Shandy.


.


.


.


.


.


TBC