Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
79


Saat tiba waktu shubuh, Maira sudah terjaga dari tidurnya. Ia memang hanya tidur satu jam saja, fikirannya masih saja berkecamuk antara rasa bersalah dan berdosa pada semua orang.


Berbeda dengan suasana di rumah, sejak semalam Fardhan terus uring uringan, karena tidak menemukan Maira hingga saat ini. Fardhan juga sudah menghubungi Azka dan Aisyah, yang setahu Fardhan istrinya tidak pernah dekat dengan orang lain. Tapi Fardhan harus merasa kecewa, karena ia tidak mendapatkan informasi apapun. Tapi hanya satu informasi yang ia dapatkan dari bi Titin, yaitu saat Ghina dan temannya datang ke rumah mengantarkan mobil Maira. Ghina mengatakan Maira pergi ke luar kota.


" oh iya, apa jangan jangan Maira pergi ke Sumedang ya " gumam Fardhan berfikir keras


Fardhan langsung menghubungi Azka kembali walaupun hari sudah mulai pagi.


πŸ“ž " hallo bang, katamya Maira pergi ke luar kota ! kira kira kemana ya bang ?" tanya Fardhan


πŸ“ž " abang juga tidak tahu Dhan, mana mama juga masih belum ketemu !" jawab Azka


πŸ“ž " lah, emangnya mama kemana bang ?" tanya Fardhan


πŸ“ž " mama menghilang lebih dari seminggu yang lalu Dhan ! memangnya Mai gak ngasih tahu kamu ?" kata Azka


πŸ“ž " seminggu ? kok bisa sih bang aku gak dikasih tahu !" tegur Fardhan


πŸ“ž " abang kira Mai ngasih tahu kamu ! " jawab Azka


πŸ“ž " ya udah deh bang, kita sekalian cari Mai juga. Aku khawatir, soalnya dia belum benar benar sehat. Takutnya dia sakit lagi " kata Fardhan


πŸ“ž " iya, semoga kita bisa menemukan mama dan Maira secepatnya ya !" kata Azka


πŸ“ž " iya bang, aamiin. ya sudah bang, aku tutup ya. assalamualaikum " ucap Fardhan


πŸ“ž " waalaikumsalaam " jawab Azka


Kejadian menghilangnya mama belum juga mendapatkan titik temu, ditambah lagi sekarang Maira yang pergi menghilang. Kejadian ini membuat Azka semakin resah dan khawatir, takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Tapi Azka masih terus saja berharap dan berdoa semoga mama dan Maira baik baik saja dan kembali dengan selamat tanpa kurang satu apapun.


βœ‰ my WifeπŸ’—


Sayang, sepertinya mas tidak bisa pulang hari ini. Mas juga harus mencari Maira, katanya Maira pergi dari rumah tapi tidak ada yang tahu pergi kemana. Maafkan mas ya sayang. Love you😘


Azka mengirim pesan pada istrinya, karena sekarang posisi Azka sedang ada di kota Sumedang untuk mencari mamanya sedari kemarin.


βœ‰ my Husband


iya sayang, tidak apa apa. Jangan lupa shalat sama makan ya, istirahatnya juga. Tetap semangat, semoga mama dan Maira bisa segera ketemu dalam keadaan baik baik saja ya ! Aku dan papa selalu mendoakan dari sini, hati hati ya. Love you too😘


Setelah mendapatkan balasan pesan dari Nisa, Fardhan tersenyum. Nisa begiyu lembut hatinya, ia menyayangi keluarganya dengan tulus seperti menyayangi keluarganya sendiri. Kalau sudah begini ia jadi rindu dengan Silmi dan Nisa, tapi ia juga harus mencari mama dan Maira. Dua wanita ini adalah wanita kesayangan Azka yang teramat Azka sayangi.


Kemana aku harus mencari mereka ya Allah, aku takut terjadi sesuatu dengan mereka, lindungilah selalu mama dan adikku dimanapun kini mereka berada. Pertemukan kami kembali secepatnya ya Allah, hamba ingin berkumpul kembali. Tolonglah hamba ya Allah, tolonglah ya Allah..


Azkq masih meneruskan pencarian di sekitar kota Sumedang sambil perlahan kembali ke rumahnya untuk menemui anak dan istrinya. Sedangkan Fardhan, ia masih bersiap siap di rumah setelah menyuruh Shandy untuk mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan istri dan mertuanya.


Rencananya Fardhan akan mencari Maira sendiri, urusan kantor sudah ia serahkan pada Shandy. Shandy juga mengerti dengan kekhawatiran bosnya dan ia juga langsung mengerti untuk mengambil alih tugas tugas Fardhan di kantor selama Fardhan tidak masuk.


Sedangkan di Banten, Maira menerima sebuah panggilan dari nomor asing. Ia mengangkatnya karena penasaran dan takutnya juga ada hal yang penting. Sebelumnya nomor ponsel Fardhan sudah di blokir oleh Maira.


πŸ“ž " hallo, maaf ini dengan siapa ?" tanya Maira


πŸ“ž " bagus, kamu sudah pergi dari suamimu ! dan sekarang, untuk membebaskan ibumu kau hatus datang sendiri. Untuk alamatnya akan aku kirimkan lewat pesan, dan ingat jangan ada orang yang tahu. Dan jangan sampai kau menghubungi polisi, kau harus datang SENDIRI ! " kata si penelfon itu menekankan kata sendiri


πŸ“ž " baik, aku akan datang ! tapi jangan kau sentuh dan lukai ibuku " kata Maira menahan tangisnya


πŸ“ž " bagus, aku tunggu ! " jawab si penelfon tadi lalu memutuskan sambungan telfonnya sepihak


Setelah menerima sambungan telfon tadi, Maira menangis tersedu sedu. Ia mengalihkan pandangan pada ponselnya yang berbunyi menandakan pesan masuk. Setelah di buka, ternyata itu adalah alamat yang di kirimkan oleh penelfon tadi.


Maira langsung bersiap untuk pergi ke alamat yang telah ia dapat tadi. Maira harus segera berangkat, ia tak mau berlama lama untuk membebaskan mamanya walaupun ia harus bertaruh nyawa sekalipun akan ia lakukan demi kebebasan mama tercinta.


Alamat yang di tuju Maira ternyata cukup jauh juga dari tempat tinggalnya kini. Maira menemui Zahra untuk menitipkan rumah makan padanya sampai ia kembali.


" Mau kemana Mai, udah rapi aja ?" tanya Zahra


" aku harus pergi, bertemu seseorang ! aku titip rumah makan sama kamu ya sampai aku kembali " kata Maira


" masalah rumah makan mah beres ! tapi kamu pergi sama siapa Mai ?" tanya Zahra


" aku pergi sendiri, lagi pula tidak akan lama kok ! aku pergi ya " pamit Maira


" iya, hati hati Mai " kata Zahra


" assalamualaikum " ucap Maira


" waalaikumsalaam " jawab Zahra


Maira pergi melangkahkan kakinya menuju motor matic yang ada di depan rumahnya. Motor itu adalah miliknya yang baru tiga hari di beli oleh Zahra atas permintaan Maira.


Dengan berderai air mata Maira terus melajukan motornya menuju alamat yang di tuju. Alamat itu ada di pedalaman tepatnya di pinggir hutan yang lebat, seperti tak pernah terjamah oleh orang. Disana terdapat sebuah bangunan usang yang tak terawat tapi masih berdiri kokoh.


Maira mencoba mengecek kembali alamat yang di tuju dan benar, ini adalah tempatnya. Dengan penuh keyakinan, Maira memberanikan diri membuka pintu bangunan itu. Alangkah terkejutnya Maira melihat mamanya sedang duduk terikat di sebuah kursi dalam keadaan tidak sadarkan diri, disana juga ia melihat ada beberapa orang berbaju hitam berdiri tegak dengan tampang wajah mereka yang sangar. Tapi hal itu tidak membuat Maira takut, Maira hanya fokus pada keadaan mamanya saja yang mengkhawatirkan.


Tak lama kemudian datanglah seorang wanita dengan postur tubuh tinggi semampai menggunakan masker dan kacamata hitam menghampirinya.