Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
10


Satu bulan telah berlalu semenjak Fardhan dan Maira bertemu di toko kue. Kini keduanya tengah menjalin hubungan, jika tak ada aral melintang dua minggu lagi Fardhan merencanakan akan melamar Maira.


Fardhan dan Maira sering berjumpa di kantor, tapi keduanya beraikap seperti biasa layaknya seorang atasan dan karyawan.


" oh iya Mai, nanti makan siang di luar yuk ! ada seauatu yang mau aku sampaikan ke kamu !" kata Miko


" insya Allah, aku gak bisa janji takut ada acara dadakan !" jawab Maira


" oke " kata Miko sambil menggerakkan jari terlunjuk dan jempolnya membentuk sebuah lingkaran


Maira dan Miko kembali pada pekerjannya usai obrolan singkat barusan. Waktu kini menunjukkan pukul 12 tepat, waktunya istirahat. Miko langsung mengajak Maira untuk makan di luar


" Mai, ayo !" ajak Miko


" tunggu dulu, aku ikut dong !" kata Aisyah sambil berdiri lalu mendekat pada Miko


" gak, gak boleh ! aku mau makan berdua dengan Maira !" jawab Miko dengan ketus


" gak apa apalah, biarkan saja Aisyah ikut !" kata Maira menengahi keduanya


" gak bisa Mai, aku mau ngobrolin sesuatu yang penting sama kamu !" jawab Miko


" haiiiiiih, oke baiklah ! " kata Aisyah sambil menghela nafas kasar


Aisyah, Miko dan Maira berjalan bersama turun ke lantai dasar, dan berpisah di lobi. Maira pergi bersama Miko ke tempat yang telah Miko rencanakan sebelumnya, sedangkan Aisyah pergi ke kantin sendiri dengan raut wajah yang tidak enak di pandang.


" tumben sendirian ?" tanya Shandy


" iya " jawab Aisyah ketus


" dih, kok jutek amat sih ? kemana sahabat kamu ? biasanya kan kalian bareng terus !" tanya Shandy


" gak ada, Maira lagi pergi sama kak Miko !" jawab Aisyah


" ooooh, jadi ceritanya kamu lagi ngambek ! aku temenin ya makan disini !" kata Shandy


" boleh !" jawab Aisyah


Sedangkan di restoran x yang letaknya tak jauh dari kantor, Maira dan Miko kini tengah duduk berhadapan sambil menunggu pesanan mereka datang.


" Mai, ada yang mau aku omongin !" kata Miko


" apa kak ?" tanya Maira


" jujur, aku suka sama kamu Mai sejak awal kamu masuk ke kantor !" jawab Miko yang membuat Maira bengong, kaget tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan


" sebenarnya aku mau mengungkapkannya sudah lama, tapi aku masih belum punya keberanian !" tambah Miko


" tapi maaf kak, aku tidak bisa !" jawab Maira


" Mai, aku serius sama kamu ! aku tidak mau hanya mengikatmu dengan status 'pacaran' saja, tapi aku mau menjadikan kamu sebagai pendamping hidupku dan menjadi ibu dari anak anakku kelak ! amu mohon fikirkan kembali Mai !" pinta Miko


" tapi maaf kak, Mai beneran tidak bisa !" jawab Maira


" kenapa Mai ? apa karena aku bukan orang kaya ? atau rupaku yang jelek ?" tanya Miko mulai emosi


" maaf kak, harta dan rupa bukan patokan bagiku ! maaf, selama ini Mai menganggap kak Miko sebagai kakak dan partner kerja saja tidak lebih ! lagi pula Mai sudah punya seseorang yang dekat dengan Mai, dan tidak lama lagi Mai bakalan di lamar secara resmi ! sekali lagi maaf kak !" jawab Maira sambil menundukkan kepalanya


" siapa Mai ?" tanya Miko sambil menatap tajam manik mata Maira


" ada, seseorang ! dan mungkin sebentar lagi juga Mai bakalan resign dari kantor ! Mai bakalan pindah !" jawab Maira


" kenapa kamu mau pindah Mai ?" tanya Miko


" sebenarnya sudah dari dulu kakak dan orang tua Mai tidak mengijinkan Mai bekerja di luar, Mai diminta untuk mengurusi usaha keluarga. Tapi Mai tidak mau, Mai mau merasakan proses dari awal Mai meniti karir dan mungkin ini moment yang tepat untuk Mai resign !" jawab Mai


" tapi apa aku masih ada kesempatan Mai ?" tanya Miko


" maaf kak, hati itu tidak mudah berpaling. perasaan itu tidah mudah berbalik seperti halnya kita membalikkan telapak tangan !" jawab Maira


" baiklah, tapi setidaknya kita masih bisa berteman kan ?" tanya Miko


" tentu saja bisa kak !" jawab Maira dengan sumringah


Setelah selesai makan siang, Maira dan Miko kembali ke kantor karena sebentar lagi jam istirahat selesai. Seperti biasa Maira mengerjakan tugasnya dengan teliti, hening terasa di dalam ruangan divisi keuangan hingga suara dering ponsel milik Maira memecah keheningan


✉ Mas Fardhan


nanti pulangnya bareng, kita mampir dulu buat pesen cincin..


✉ Maira💕


iya mas, tapi mobilku bagaimana ?


✉ Mas Fardhan


mobilmu biar nanti sopir yang anterin ke rumah kamu


✉ Maira💕


iya mas


✉ Mas Fardhan


yang bener kerjanya ya, semangat💪🏻💪🏻


✉ Maira💕


iya...


udah ya jangan chat mulu, nanti kerjaanku gak bakal kelar kelar kalau gini caranya🤨


✉ Mas Fardhan


iya deh iya, nanti aku tunggu di parkiran !


✉ Maira💕


👌🏻👍🏻


Maira mengerjakan laporannya sambil berbalas chat dengan Fardhan. Menurutnya Fardhan itu menjadi sedikit lebay jika berurusan dengan hati, lain lagi bila berurusan dengan pekerjaan Fardhan akan bersikap tegas. ( profesionalnya yak🤭 )


Waktu terus berputar hingga tak terasa kini waktu pulang telah tiba, Fardhan sudah menunggu Maira di dalam mobilnya. Sedangkan Maira masih membereskan mejanya dari beberapa berkas yang masih berserakan, hingga setelah selesai membereskan berkas berkas yang ada di mejanya Maira langsung turun dan pergi ke parkiran tempat dimana Fardhan kini tengah menunggunya.


" lama banget ?" tanya Fardhan yang sudah menunggu lebih dari setengajh jam yang lalu


" ini kan baru jam 16 lewat 10 menit mas, lama bagaimana sih cuman 10 menit doang !" jawab Maira sambil memasang seatbelt


" aku udah nunggu kamu lebih dari 30 menit !" kata Fardhan


" lagian mas itu aneh banget, jam pulang kantor kan emang jam 16.00 ! lah ini nunggu dari jam setengah empat ! " jawab Maira


" oh iya, mana kunci mobilmu ? sini, biar sopir kantor yang antar mobil kamu ke rumah !" pinta Fardhan sambil menggerakkan tangannya mmeminta kuci mobil


" ini mas !" jawab Maira sambil menyerahkan kunci mobil miliknya ke tangan Fardhan


Setelah menerima kunci mobil, Fardhan menyerahkannya pada sopir kantor yang sebelumnya telah menunggu di dekat mobil milik Maira.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading


terima kasih, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya...