Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
16


Maira duduk tepat diantara mama dan papa nya. Maira tidak berani mengangkat wajahnya, jujur saja saat ini ia tengah malu. Papa kini meraih tangan Maira dan menatap wajahnya.


" nak, Fardhan dan keluarganya datang kemari untuk melamarmu. Bagaimana, apakah kamu menerima lamarannya ?" tanya papa


" bismillahirrahmanirrahiim, insya Allah Mai terima !" jawab Maira penuh keyakinan


alhamdulillah ucap semua serempak


Setelah mendengar jawaban Maira, kini mama Fardhan memasangkan cincin di jari manis Maira. Semua tampak tersenyum bahagia melihatnya. Setelah acara penyematan cincin, Fardhan mengajak Maira untuk ngobrol di luar sedangkan para orang tua sedang sibuk membicarakan bulan dan tanggal pernikahan untuk putra putrinya. Maira mengajak Fardhan duduk di teras depan rumahnya.


" Mai... " panggil Fardhan


" iya mas , ada apa ?" tanya Maira lalu berpaling untuk menatap Fardhan


" kamu cantik !" kata Fardhan yang sukses membuat pipi Maira menjadi merah


" masa sih ?" tanya Maira dengan perasaan malu


" iya, kamu cantik banget ! oh iya, bagaimana dengan keningmu itu ?" tanya Fardhan sambil menatap Maira


" alhamdulillah mas, sudah lebih baik !" ja2ab Maira sambil menyunggingkan senyum manisnya


" tapi kenapa masih di balut perban Mai ? bukankah katamu hanya kepentok saja ?" tanya Fardhan penasaran


" lukanya lumayan besar mas ! jadi masih belum bisa di lepas perbannya !" jawab Maira


" besar ? katamu hanya kepentok, tapi kok bisa besar sih ? emang sebesar apa lukanya ?" tanya Fardhan


"hanya tiga jahitan saja mas !" lirih Maira


" tiga jahitan ? kamu bilang tiga jahitan Mai ?" tanya Fardhan memastikan kebenaran ucapan Maira, Maira pun hanya menganggukkan kepalanya


" astaghfirullahaladziim " ucap Fardhan sambil mengusap wajahnya dwngan kasar, sedangkan Maira diam tertunduk


" Mai, dengerin aku ya ! kamu itu hatusnya terus terang padaku, apapun yang terjadi padamu aku harus tahu. Biarlah kejadian kemarin menjadi pelajaran bagimu, tapi mulai saat ini aku minta kamu harus selalu jujur padaku. Sekarang aku adalah tunanganmu, aku calon suamimu, jadi aku berhak tahu apa yang terjadi padamu. apa kamu mengerti ?" jelas Fardhan sambil menatap serius wajah Maira yang masih tertunduk


" iya mas, maaf !" lirih Maira


" aku harap kamu bisa terbuka padaku Mai !" kata Fardhan pelan


" maaf !" satu kata yang mampu Maira ucapkan


" sudahlah, kita bahas yang lain saja !" kata Fardhan


" Mai, seandainya orang tua kita akan menikahkan kita dalam wakty dekat bagaimana menurutmu ?" tanya Fardhan


" sebenarnya kalau menurut pandangan Mai sendiri, itu lebih baik mas ! karena setidaknya kita bisa menghindari fitnah. Mas tahu sendiri kan, bagaimana kehidupan di zaman sekarang ? aku hanya takut kita melakukan khilaf yang tentunya sudah pasti menjadi sebuah dosa !" jawab Maira dengan tenang


" iya juga sih ! tapi apa kamu sudah siap untuk menikah ?" tanya Fardhan


" siap gak siap harus siap mas, menikah sekarang atau nanti pun sama saja ! tapi bukankah segala hal yang baik itu harus di segerakan ?" tanya Maira yang sukses membuat Fardhan mengembangkan senyumnya


" aku senang mendengar jawabanmu !" kata Fardhan


Sedangkan di dalam ruang tamu, papa Salman sedang berunding dengan om dan mama Fardhan mengenai tanggal pernikahan.


" bagaimana kalau kita nikahkan saja keduanya sebulan lagi ?" tanya mama Fardhan


" tapi apakah waktu satu bulan itu cukup untuk mengurus segala sesuatu untuk pernikahan ?" tanya paman


" insya Allah cukup pak, bu ! " jawab papa Salman dengan tenang


" baiklah, jadi tanggal satu bulan depan adalah hari pernikahannya !" kata paman memastikan


" iya, semoga rencana pernikahan ini berjalan lancar ya !" kata papa Salman


" aamiin !" ucap semua yang ada di ruangan itu


kedua keluarga sudah sepakat untuk menikahkan Fardhan dan Maira bulan depan, tepatnya tanggal satu Agustus. Jika ditanya kenapa bulan Agustus ? jawabannya adalah karena keduanya lahir di bulan yang sama, hanya beda tanggal saja. Tak lama kemudian Fardhan dan Maira masuk kedalam bergabung kembali dengan keluarga.


" biar saya yang menyampaikan !" kata papa Salman


" begini nak Fardhan, Maira kita semua sudah sepakat untuk menikahkan kalian tanggal satu bulan agustus ! bagaimana, apa kalian keberatan ?" tanya papa


" tidak !" jawab Fardhan dan Maira dengan kompak yang membuat semua keluarga tersenyum senang


" cie, yang mau nikah, kompak bener !" goda Azka


" apaan sih bang !" kata Maira sambil menundukkan wajahnya yang memerah karena malu


" maaf pak, bu, hari sudah semakin siang. Kami juga harus segera kembali ke Sumatera, karena kami masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. maafkan kami telah merepotkan, dan untuk persiapan pernikahan nanti kami hubungi bapak dan ibu. Untuk itu sekarang kami pamit pulang, assalamualaikum " kata paman


" waalaikumsalaam warahmatullah " jawab papa Salman dan keluarga


Fardhan dan keluarga pulang kembali ke rumah Fardhan, sedangkan papa Salman dan keluarganya masih belum beranjak dari tempat duduknya.


"apa kamu tidak keberatan Mai kalau menikah sebulan lagi ?" tanya papa Salman


" Mai sangat yakin pa ! menikah sebulan lagi itu lebih baik pa, agar Mai dan mas Fardhan tidak terjerumus pada dosa" jawab Maira


" sukurlah kalau kamu sudah yakin. papa hanya tidak ingin kamu menerima pernikahan ini karena terpaksa. Tapi sekarang papa lega setelah mendengar jawabanmu !" kata papa seraya memeluk Maira


Siang kini berganti dengan malam, hembusan angin malam membuat rambut Azka bergerak. Ia terlarut dalam fikirannya sendiri hingga tak menyadari kalau Nisa sudah berdiri disampingnya sejak beberapa menit yang lalu.


" mas " panggil Nisa


Azka tidak mendengarkan panggilan Nisa karena ia masih sibuk dengan lamunannya


" mas ! kamu kenapa ?" tanya Maira kini memeluk Azka dari b3lakang hingga membuat Azka tersadar dari lamunannya


" mas tidak apa apa sayang ! ada apa ?" Azka malah balik bertanya pada Nisa


" sedari tadi mas melamun terus, sampai tidak menghiraukan aku disampingmu ! katakanlah ada apa mas ?" tanya Nisa masih dengan posisi memeluk suaminya


" mas hanya memikirkan Maira. kamu tahu sendiri bukan seorang wanita harus menurut apa kata suaminya kelak jika dia sudah menikah ! mas tidak bisa membayangkan jika setelah menikah nanti Maira akan pergi meninggalkan rumah ini. Mas khawatir, Mai itu tidak bisa jauh jauh dari mama dan papa !" jelas Azka


" aku tahu mas, tapi seorang istri itu diwajibkan menurut pada suaminya selama itu masih dalam hal kebaikan. Kita tidak bisa berbuat apa apa mas, selain mendoakan yang terbaik untuk Maira kedepannya !" kata Nisa


" mas " panggil nisa manja


" apa sayang ?" tanya Azka sambil berbalik badan dan memeluk Nisa


" mas, kayaknya makan pempek enak deh !" kata Nisa sambil membayangkannya


" kamu mau ?" tanya Azka, sedangkan Nisa hanya mengangguk


" baiklah, kita pergi sekarang cari penjual pempek !" kata Azka


Azka mengambil jaket dan kunci mobilnya terlebih dahulu, sedangkan Nisa ia sedang memilih jaketnya.


" sayang, ayo ! " ajak Azka


" ayo !" kata Nisa dengan semangatnya


Azka dan Nisa keluar dari kamarnya. Maira melihat Azka dan Nisa keluar pun langsung bertanya


" abang sama kakak mau kemana malam malam gini ?" tanya Maira


" abang mau cari pempek ! kamu mau ?" tanya Azka


" wiiiih, kalau di beliin mah gak bakalan nolak bang " jawab Maira sambil tersenyum senang


" eh iya, tapi abang gak tahu tuh tempat pempek yang enak dimana !" kata Azka


" aish, si abang mah ! makanya jangan kebanyakan sibuk di kantor bang ! jadi tempat jajan aja gak tahu !" kata Maira


" yee, ini semua kan gara gara kamu juga yang gak mau masuk perusahaan. Jadinya abang yang sibuk !" jawab Azka


" ya udah, abang sama kakak tunggu aku di mobil. Aku tunjukin deh tempatnya biar gak salah !" kata Maira lalu mempercepat langkahnya menuju ke kamar


setelah lima menit menunggu, Maira keluar dari rumah masih dengan setelan baju tidurnya hanya di tambahkan jaket saja supaya tidak kedinginan.


.


.


.


.


.


.


TBC