Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
110


Evan mengajak Fardhan, Azka dan Nisa masuk ke ruangannya dan mempersilahkan ketiganya duduk.


" bagaimana ?" tanya Azka


" dia drop lagi, seperti nya dia melakukan banyak aktifitas " kata Evan


" lantas bagaimana sekarang ?" tanya Fardhan


" dia harus dirawat, kondisinya harua terus di pantau hingga benar benar stabil. Aku akan memantaunya langsung " kata Evan


" tunggu, kenapa kamu yang memantau Maira ?" tanya Fardhan bingung


" karena aku yang menangani Maira selama ini " jawab Evan


" maksudnya ?" tanya Fardhan


" maaf bang, tapi sepertinya sekarang kita tidak bisa mengundur waktu lagi untuk memberi tahukan kondisi Maira " kata Evan sambil menghela nafas kasar


" tunggu, apa maksudnya ini ?" tanya Nisa sambil menatap Evan dan Azka bergantian


" Maira mengidap kanker darah stadium tiga " ucap Evan singkat padat dan jelas


Jederrr..


Apa yang baru saja Evan ucapkan membuat Nisa dan Fardhan terdiam tak bisa berkata apa apa. Keduanya belum bisa percaya dengan apa yang dikatakan Evan, tapi mana mungkin juga Evan bicara seperti itu hanya untuk prank saja itu sungguh tidak mungkin.


" ma... maksudnya ?" tanya Fardhan tergagap


" ya, selama ini Maira sakit. Dia divonis kanker darah dan sekarang sudah stadium tiga " jelas Evan lagi


" aku tidak percaya ini, ini gak benar kan mas ?" kata Nisa sambil menggoyangkan lengan Azka


Sedangkan Azka tidak bisa berkata apapun, mungkin ini waktunya. Ia juga tidak bisa mengundur ngundur waktu dan menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Apalagi mengingat kondisi Maira yang memang membutuhkan penanganan lebih lanjut dan dukungan dari orang orang yang ada di sekitarnya.


" ya, itu semua benar " lirih Azka


" kenapa kamu tidak memberi tahuku tentang hal sebesar ini mas ? kenapa ?" tanya Nisa diiringi tangisan


" mas juga baru tahu saat Maira menjenguk mama di rumah sakit saat di Banten " jawab Azka


" jadi saat itu dia sudah sakit ?" lirih Fardhan


" jauh sebelum kejadian itu, Maira sudah divonis kanker darah. Tapi dia tidak pernah mau memberi tahukan orang lain tentang penyakitnya. Sedari awal dia divonis aku sudah menyarankannya untuk segera memberi tahu keluarganya tentang penyakitnya ini, tapi dia bersikeras tidak mau. Aku juga tidak mengerti dengan jalan fikirannya " jelas Evan


" sejak kapan dia divonis sakit ?" tanya Fardhan


" aku lupa persisnya, tapi kalau tidak salah sudah hapir satu tahun " jawab Evan


" selama itu ? dan aku tidak pernah tahu kondisi Maira. Suami macam apa aku ini ?" gumam Fardhan


" sudahlah, sekarang kita harus memberikan dukungan untuk Maira. Jangan perlihatkan wajah sedih kalian, karena ia paling tidak suka dikasihani " kata Evan


" ya, benar " kata Azka


" sebenarnya aku ada saran untuk kasus ini, tapi tentunya harus dengan persetujuan Maira juga " kata Evan menghela nafas pelan sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang ia duduki


" apa ?" tanya Azka dan Fardhan kompak


" aku punya kenalan dokter di Jerman, namanya Evelyn. Dia sudah sering menangani kasus kanker seperti Maira dan hampir 85 % pasien yang ditanganinya sembuh. Kalau kalian mau dan Maira juga menyetujuinya, aku akan menghubungi dokter Evelyn secepatnya " kata Evan


" akan kita usahakan membujuk Maira agar dia mau " kata Fardhan dengan semangat


" ya, itu jalan yang terbaik. Semoga saja Maira menyetujuinya " kata Evan


Setelah berbicara panjang lebar, Nisa Azka dan Fardhan keluar dari ruangan Evan dan pergi kedalam ruangan Maira yang sebelumnya sudah di pindahkan ke ruangan VIP di lantai dua.


Batin Fardhan terasa teriris melihat tubuh sang istri yang terbaring lemah dengan wajah pucat dan kurus. Bodohnya ia tak menyadari kondisi sang istri sebelumnya, ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga ia melupakan istrinya.


Fardhan mendekat dan duduk di kursi disamping Maira yang masih belum sadar juga. Perlahan tangan lemah itu ia pegang dan diciumnya berkali kali dan membawanya ke pipinya yang hangat.


" maafkan aku yang tak memperhatimanmu, selama ini aku terlalu sibuk dengan duniaku sampai aku lupa untuk memperhatikan kesehatanmu. maafkan aku sayang " ucap Fardhan penuh penyesalam sambil smengecupi tangan Maira


" abang sama kak Nisa pulanglah ke rumah, kasihan papa dan Silmi pasti menunggu. Biar aku yang menjaga Maira disini, kalian jangan cemas aku akan kabari jika ada apa apa " kata Fardhan


Memang jelas terlihat wajah lelah Azka dan Nisa, Fardhan juga sebenarnya merasa lelah tapi ia harus menjaga Maira disini. Biarlah jika besok Azka ingin bergantian menjaga Maira disini.


" baiklah, abang akan pulang sekarang. Tapi besok biarkan abang yang menjaga Maira disini agar kamu bisa istirahat " kata Azka


" iya bang " jawab Fardhan


" kalau begitu kami pulang dulu, kabari kalau ada perkembangan. Abang tunggu kabar darimu Dhan " kata Azka


Azka pun pulang bersama Nisa menuju rumah. Azka dan Nisa tidak mau membuat papa menjadi cemas, tapi walau bagaimanapun juga papa harus tahu kondisi Maira sekarang. Tapi disatu siai Azka juga bingung bagaimana cara menyampaikannya. Azka takut kondisi papa akan drop setelah mendengar keadaan Maira.


" mas, bagaimana cara kita memberi tahu papa ?" tanya Nisa


" itu yang mas fikirkan juga sayang, mas bingung. Kondisi papa sekarang masih belum bisa dikatakan sehat benar, mas takut papa drop. Tapi kita juga harus memberi tahu papa " kata Maira


" nanti kita coba bicara pelan pelan mas, kita tunggu kondisi papa lebih baik " kata Nisa


Ya, setelah meninggalnya mama, kondisi kesehatan papa menurun. Hingga sampai saat ini kondisi papa belum benar benar sehat. Takutnya setelah mendengar kabar Maira kondisi papa kembali menurun. Hal ini membuat Nisa dan Azka bingung.


*****


πŸ“ž " hallo assalamualaikum bang " ucap Zahra diseberang sana


πŸ“ž " waalaikumsalaam. Ra, Maira drop dan masuk rumah sakit lagi " kata Azka


πŸ“ž " innalillahi, terus bagaimana kondisinya sekarang bang ?" tanya Zahra panik


πŸ“ž " kata dokter sudah lebih baik, tapi masih belum sadar juga " jawab Azka


πŸ“ž " abang dirumah sakit sekarang ? biar Ara segera kesana sekarang bang " kata Zahra


πŸ“ž " abang baru sampai di rumah Ra, disana ada Fardhan. Mungkin besok abang yang akan menemaninya di rumah sakit " kata Azka


πŸ“ž " ya sudah, nanti Ara sama Aisyah kesana bang " kata Zahra


πŸ“ž " besok saja Ra, hari ini kamu pasti lelah " cegah Azka


πŸ“ž " Akan Ara usahakan sekarang bang, supaya Ara bisa tenang. Ara juga gak bisa jamin kalau Aisyah juga ngajakin kesana sekarang. Abang kasih tahu aja di rumah sakita mana dan kamar nomor berapa " kata Zahra


πŸ“ž " iya, nanti abang kirim lewat pesan. Oh iya, kamu gak pulang ? ini sudah hampir isya ?" tanya Azka


πŸ“ž " enggak bang, Ara nginep di mes aja. Capek juga kalau harus bolak balik tiap hari " jawab Zahra


πŸ“ž " ya sudah, dimanapun kamu nyaman abang akan dukung kamu. Tapi kalau kamu gak betah disana, pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu " kata Azka


πŸ“ž " iya bang, terima kasih " ucap Zahra


πŸ“ž " ya audah, abang tutup dulu telfonnya ya ! kamu hati hati disana, assalamualaikum " kata Azka


πŸ“ž " iya bang, waalaikumsalaam " jawab Zahra


Zahra pun meletakkan ponselnya kembali diatas meja usai menerima telfon dari Azka.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊