Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
59


Fardhan membawa tas berisi pakaian Maira dan dirinya, sedangkan Maira duduk di kursi roda yang di dorong oleh seorang suster. Setelah sampai di parkiran, Fardhan membantu Maira masuk kedalam mobil tepatnya disamping kursi kemudi lalu ia duduk di kursi kemudi.


" mas " panggil Maira


" iya sayang, ada apa ?" tanya Fardhan


" kerjaan kamu gimana mas ? maaf ya, kalau aku terus ngerepotin kamu sampai sampai kamu gak masuk kerja gara gara jagain aku !" kata Maira merasa tidak enak


" tidak apa sayang ! kata siapa aku tidak bekerja ? aku selalu cek kerjaan aku lewat email yang di kirim Shandy kok !" kata Fardhan


" kok aku gak lihat mas ? aku perhatiin kamu selalu didekatku, dan jarang memainkan ponsel " kata Maira


" aku ngeceknya pas kamu udah tidur sayang ! udah ah, jangan bahas kerjaan. ingat kata dokter, kamu harus banyakin istirahat, jangan banyak mikir yang berat, dan yang terakh8r jaga asupan makananmu " kata Fardhan mengingatkan


" iya mas, iya " kata Maira


Fardhan kembali fokus mengemudikan mobilnya, sedangkan Maira menyandarkan kepalanya ke jendela. Fardhan tahu kalau kondisi Maira belum pulih sepenuhnya, walaupun Maira sudah diizinkan pulang oleh dokter tapi itu bukan berarti ia sudah sembuh total. Maira masih merasa lemas, Fardhan menyuruh Maira untuk tidur saja.


" masih lemas ya ?" tanya Fatfhan sambil mengelus tangan Maira


" iya mas, rasanya mau cepat cepat sampai di rumah mas " kata Maira


" tidur saja dulu, nanti mas bangunkan kalau sudah sampai " kata Fardhan lalu mengatur posisi kursi yang di duduki Maira agar ia bisa tidur dengan nyaman


" tidurlah, mas tahu kondisimu masih belum pulih " kata Fardhan


Maira merembahkan dirinya di kursi, setelah beberapa saat kemudian ia tertidur kembali membuat Fardhan tersenyum. Ia masih merasa bersalah dengan Maira, meskipun Maira sudah memaafkannya. Ia juga makin tambah bersalah saat melihat kondisi Maira seperti saat ini, semua ini terjadi juga karena dirinya. Hah, sudah berdosa menuduh istri selingkuh, dan sekarang merasa berdosa karena tiduhannya itu membuat Maira sakit seperti saat ini.


Sesampainya di rumah, Maira masih juga belum terbangun dari tidurnya. Memang saat di rumah sakit ia kurang menikmati waktu istirahatnya, walaupun berada di ruangan VIP sekalipun. Fardhan keluar dari mobil dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara bising dan membuat Maira terbangun. Fardhan menggendong Maira ala bridal style, kemudian ia mebawanya ke kamar dan merebahkannya perlahan. Maira masih terlelap tidur, mama dan papa memperhatikannya dari depan pintu yang terbuka.


" bagaimana nak ?" tanya mama


" sudah membaik ma, harus bed rest satu bulan untuk memulihkan kondisinya " jawab Fardhan


" iya, semoga saja segera sembuh ya. Kasihan mama lihatnya, itu tubuhnya sampai kurus gitu " kata mama


" oh iya nak, ada yang mau papa bicarakan. Kita bicara di disana saja supaya tidak mengganggu istirahat Maira " kata papa sambil menunjuk ruang tamu


Fardhan, mama dan papa beranjak turun dan duduk bersama di ruang tamu setelah sebelumnya Fardhan meminta bi Titin untuk membawakan tas yang masih ada di dalam mobil.


" ada apa pa ?" tanya Fardhan


" begini, papa sama mama harus segera pulang ke Sumedang nak. Ada sedikit masalah yang harus kami selesaikan segera. Rencananya kami akan pulang besok setelah shalat shubuh " kata papa


" maafkan kami nak, bukannya kami tidak mau ikut mengurus Maira saat ini. Tapi kami harus benar benar pulang, nanti kalau masalahnya sudah selesai insya Allah mama akan kesini lagi " kata mama


" iya ma, tidak apa. Maaf karena sudah merepotkan mama dan papa ! tapi, kenapa mama sama papa gak tinggal disini saja sama Fardhan juga Maira ma, pa ? Maira akan senang kalau mama dan papa mau tinggal disini " kata Fardhan


" baiklah, terserah mama dan papa saja. Fardhan hanya bisa berdoa agar kita semua diberikan kesehatan, dan keselamatan tentunya. Nanti Fardhan bilang sama Mai tentang ini " kata Fardhan


" terima kasih nak, kamu memang bijak " kata papa sambil menepuk pundak Fardhan


Papa dan mama kembali ke kamar setelah berbicara dengan Fardhan, mama membereskan semua pakaian dan memasukkannya kedalam koper. Meskipun akan pulang besok tapi mama memilih untuk membereskannya sekarang, supaya nanti bisa lebih tenang dan ada waktu untyk bersama Maira.


Mentari kini tepat berada diatas kepala, Maira baru saja bangun dari tidurnya. Ia melihat sekeliling, ini bukan di rumah sakit lagi tapi ini memang benar benar didalam kamarnya dengan Fardhan. Mata Maira mencari sosok yang selalu menemaninya, ia melihat di sebelahnya Fardhan tengah tertidur dengan pulasnya. Ia menatap wajah suami tercintanya itu, ada rasa kasihan dan rasa bersalah dibenaknya saat melihat wajah Fardhan. Ia merasa kasihan dan bersalah pada suaminya karena harus menjaganya terus menerus hingga saat ini, hingga ia sendiri kurang istirahat dan mengabaikan pekerjaannya.


Maira masih menatap wajah Fardhan dan perlahan tangannya mengusap lembut pipi Fardhan


" kamu memang tampan mas, kamu baik, perhatian dan penuh kasih sayang. Maafkan aku mas, yang selalu menyusahkanmu. Maafkan aku juga yang masih belum bisa memberimu keturunan hingga saat ini " kata Maira, perlahan air mata menetes di pipinya dan dengan cepat ia menyeka nya kembali


Fardhan masih tidur pulas, ia benar benar merasa lelah dan membutuhkan waktu istirahat. Maira turun dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Walaupun tubuhnya masih terasa lemas, tapi ia tetap peegi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia mandi dan berkeramas, Maira merasa segar setelah mandi dan keramas. Ia bercermin setelah memakai pakaiannya, ia meraba wajahnya yang masih tampak tirus dan sedikit pucat itu.


Sedangkan Fardhan baru saja bangun dan mencari keberadaan istrinya, ia sudah memanggil Maira beberapa kali tapi tidak mendapat jawaban sama sekali, kemudian ia hendak keluar dari kamar untuk mencari Maira tapi suara pintu terbuka membuatnya menoleh.


" mau kemana mas ?" tanya Maira saat melihat Fardhan akan keluar


" aih, mas kira kamu keluar sayang ! tahunya di kamar mandi " kata Fardhan merasa lega


" kan habis mandi mas, badanku terasa lengket " jawab Maira


" oh iya sayang, aku juga mandi dulu ya. kamu jangan kemana mana, nanti aku mau bicara sama kamu ya " kata Fardhan


" aku gak akan kemana mana mas, orang badanku aja masih lemas begini. Masih belum kuat untuk berjalan jauh " kata Maira


" iya ya, mas lupa ! mas mandi dulu ya " kata Fardhan berlalu ke kamar mandi


Setelah selesai mandi, Fardhan mengajak Maira untuk shalat dhuhur berjamaah. Setelah shalat Maira duduk bersandar diatas kasur, dan Fardhan duduk tegak disamping sambil menghadap Maira.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading...


thank you🙏🏻