Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
23


Fardhan kini telah duduk berhadapan dengan pak penghulu, papa Salman dan beberapa saksi.


" bismillahirrahmanirrahiim, sebelum kita mulai ijab qabulnya saya akan memastikan dulu kecocokan datanya, suapa tahu ada yang keliru. nama mempelai pria 'Fardhan Walid Al-Musthafa' ?" tanya pak penghulu


" iya pak " jawab Fardhan tanpa ragu


" nama ayah ' Ahmad Musthafa' almarhum ?" tanya pak penghulu lagi


" iya pak !" jawab Fardhan lagi, dan seterusnya hingga selesai


" baiklah, sekarang untuk mempelai wanita bernama ' Fairuz Humaira Al-Farizi '?" tanya pak penghulu


" benar pak " jawab papa Salman


" walinya ' Salman Al-Farizi '?" tanya pak penghulu dan seterusnya


" alhamdulillah untuk datanya sudah sesuai, bagaimana saudara Fardhan Walid Al-Musthafa sudah siap ?" tanya pak penghulu


Fardjan menghirup udara dari hidungnya sebanyak tiga kali dan m3ngeluarkannya dari mulut untuk mengurangi rasa gugupnya sambil berdoa dalam hati


Rabbishrahlii shadrii wayashirlii amrii wahlul 'uqdatam millisaani yafqahuu qaulii...


" insya Allah siap pak !" jawab Fardhan mantap


" untuk mas kawinnya bagaimana ?" tanya pak penghulu


" seperangkat alat shalat, logam mulia seberat 25 gram dan uang tunai sebesar 250 juta tupiah !" jawab Fardhan


" baiklah kita mulai, bapak Salman silahkan untuk menjabat tangan mempelai pria !" kata pak penghulu


Kemudian Fardhan menjabat tangan papa Salman dengan erat.


" saudara Fardhan Walid Al-Musthafa, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Fairuz Humaira Al-Farizi binti Salman Al-Farizi dengan mas kawin seperangkat alat shalat, logam mulia seberat dua puluh lima gram dan uang sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah dibayar tunai " papa Salman mengucapkan ijabnya pada Fardhan dan menghentakkan tangan nya tepat di akhir kata


" saya terima nikah dan kawinnya Fairuz Humaira Al-Farizi binti Salman Al-Farizi dengan mas kawin yang telah disebutkan dibayar tunai "Fardhan mengucapkan Qabulnya dengan lantang dan jelas dalam satu tarikan nafas


" bagaimana para saksi, sah ?" tanya pak penghulu


"SAH " jawab para saksi dan yang lainnya


" alhamdulillah, baarakallahulaka wa baraka 'alaika wa jama'a baina kuma fii khaiir..." ucap sang penghulu dilanjutkan dengan do'a hingga selesai


Setelah selesai berdo'a Maira di tuntun keluar dari tempatnya duduk sedari tadi di apit oleh Aisyah dan Nisa.


" silahkan untuk menandatangani beberapa berkas ini " kata pak penghulu pada Maira dan Fardhan


" coba dilihat dulu saudara Fardhan, apakah benar ini istrinya atau bukan ?" goda pak penghulu saat keduanya telah selesai menandatangani beberapa berkas


Seketika Fardhan pun menoleh ke arah Maira yang masih diam menundukkan wajahnya menahan malu


" benar pak !" jawab Fardhan sambil tersenyum tak melepaskan pandangannya dari Maira


" sekarang, saudara Fairuz Humaira coba lihat apakah benar ini suaminya atau bukan ?" goda pak penghulu pada Maira


Perlahan Maira mendongakkan wajahnya melihat pada Fardhan yang tedang tersenyum manis memandang wajahnya


" benar pak !" jawab Maira


" kalau begitu silahkan saudari Fairuz Humaira untuk mencium tangan suaminya " kata pak penghulu mengarahkan


Maira mencium tangan Fardhan, kemudian Fardhan mencium kening Maira setelah itu Fardhan meletakkan tangan kanannya di atas ubun ubun Maira sambil membaca do'a


Allahumma innii as aluka min khairihaa wa khairimaa jabaltahaa 'alaihi. Wa a'uudzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaihi.


artinya:


' ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada Mu kebaikan darinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya '


*****


" Mai, sekarang kamu sudah menjadi istri Fardhan. Layanilah suamimu, ambilkan makan untuknya !" kata mama Maira sambil tersenyum memberikan arahan pada putri kesayangannya


" iya ma !" jawab Maora lalu mengambilkan nasi dan lauk untuk Fardhan.


" ini mas, makan dulu !" kata Maira sambil menyodorkan piring yang sudah di isi olehnya


" terima kasih Mai, untukmu mana ?" tanya Fardhan


" akan aku ambil sekarang mas !" jawab Maira sambil menundukkan wajahnya


" kenapa tidak sepiring berdua saja Dhan ? bisar lebih romantis gitu !" goda paman Abdul


" ah, paman bisa saja ! sudahlah paman jangan dulu menggoda, kasihan istriku jadi malu karena paman !" kata Fardhan saat melihat Maira tersenyum malu sambil menundukkan wajahnya


" tidak apa apa, jangan malu malu begitu ! " kata paman Abdul sambil melenggang pergi meninggalkan sejoli yang baru saja sah menjadi sepasang suami istri tersebut beberapa saat yang lalu.


Fardhan menuntun Maira agar duduk di sampingnya, kemudian Fardhan menyodorkan sendok yang sudah di isi nasi dan lauknya pada Maira.


" bukalah mulutmu Mai !" kata Fardhan dengan lembut sambil tersenyum


" malu mas, jangan di suapin ih !" kata Maira merengek


" tidak perlu malu sama suami sendiri ini kok, kalau disuapi suami orang harus malu dan tidak boleh mau !" kata Fardhan


" kita makan sepiring berdua ya ! ayo buka mulutnya, aaa... " kata Fardhan sambil mengangkat sendoknya


Maira pun menurut pada Fardhan ia membuka mulutnya dan makan sepiring berdua dengan Fardhan dan tentunya berbagi sendok juga😁


" mereka serasi banget ya mas !" kata Nisa yang sedang bersandar di bahu Azka setelah menyelesaikan makannya


" iya sayang ! aku bahagia lihatnya !" kata Azka sambil tersenyum


" oh iya mas, aku mau makan rujak dong ! enak kayaknya kalau makan rujak buah kedondong sama mangga muda🤤" kata Nisa sambil membayangkannya


" iya, nanti mas carikan ya ! tapi setelah acara ini usai gak apa apa kan ?" tanya Azka takut Nisa akan marah


" iya tidak apa apa kok mas, lagian sebentar lagi kok acaranya selesai ! resepsinya juga kan jam satu, jadi ya lumayanlah buat jalan jalan cari rujak !" jawab Nisa tersenyum


" kamu gak marah sayang karena aku menunda keinginanmu ?" tanya Azka


" buat apa aku marah mas ? aku masih bisa bersabar kok !" jawab Nisa


" ya kan biasanya wanita yang hamil itu sensitif sekali sayang, kalau keinginannya ditunda atau bahkan tidak terlaksana pasti ujungnya dia akan nangis !" jawab Azka


" kok mas tahu ?" tanya Nisa sambil mengernyitkan keningnya


" ya mas tahu dong sayang, kamu masih ingat teman mas yang namanya Diki ?" tanya Azka yang di jawab anggukan oleh Nisa


" iya mas, emangnya kenapa ?" tanya Nisa penasaran


" dia pernah curhat sama mas tentang permintaan istrinya yang aneh aneh bahkan tak jarang membuatnya kalang kabut. kalau keinginannya ditunda atau bahkan lebih parahnya tidak bisa terpenuhi istrinya pasti ngomel ngomel terus nangis !" jawab Azka panjang lebar


" oh, gitu ya mas !" kata Nisa sambil mengangguk anggukkan kepalanya tanda mengerti.


.


.


.


.


.


TBC