
" siapa mas ?" tanya Nisa
" mama nanya kabar kita, kita telfon ya " kata Azka
" iya mas " kata Nisa
tuut... tuut...
π " hallo assalamualaikum ma " kata Azka
π " waalaikumsalaam bang, bagaimana keadaan kalian ?" tanya mama
π " alhamdulillah baik ma, mama sama papa sendiri bagaimana ?" tanya Nisa
π " alhamdulillah kamu sehat, bagaimana dengan kandunganmu sayang ?" tanya mama pada Nisa
π " alhamdulillah sehat ma, sekarang dede geraknya makin aktif loh ma !" kata Nisa senang
π " syukurlah kalau begitu, semoga lancar sampai lahiran nanti ya sayang " kata mama
π " eh iya bang, mama tadi telfon Maira tapi gak di angkat. kamu ketemu mereka gak hari ini ?" tanya mama
π " tadi mereka dari sini ma, habis makan siang langsung pulang. katanya mau belanja kebutuhan dapur ma, mungkin ponselnya ketinggalan di mobil " kata Azka
π " iya juga ya bang ! sukurlah kalau kalian semua sehat, nanti kalau tidak ada halangan bulan depan papa sama mama akan kesana. Sambil menunggu kelahiran anak kalian " kata mama
π " iya ma, kita tunggu ya " kata Azka sumringah
π " mama tutup dulu telfonnya ya bang, assalamualaikum" kata mama
π " waalaikumsalaam " jawab Azka dan Nisa
Keduanya sungguh sangat bahagia saat mama mengatakan bulan depan adan datang. Lagi pula sudah dua bulan ini A,ka tidak pergi ke Sumedang unruk mengunjungi mama dan papanya karena kesibukannya.
Setelah selesai berbelanja, Maira dan Fardhan kembali pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, semua barang belanjaan yang di beli Maira dan Fardhan tadi di simpan di dapur.
" bi, tolong di bereakan ya belanjaannya " kata Nisa
" siap neng !" jawab bi Titin
" saya ke atas dulu ya bi, mau mandi dulu gerah " kata Maira
" silahkan neng " jawab bi Titin
Maira pergu ke kamarnya menyusul Fardhan, sedangkan bi Titin membereskan belanjaan yang dibawa oleh majikannya. Maira membaringkan tubuhnya di atas kasur dwngan kedua kakinya yang menjuntai kebawah. Fikirannya melayang jauh, membayangkan hal hal yang bisa saja terjadi.
ya Allah bagaimana jika aku tidak bisa memberikan keturunan pada suamiku ? apakah dia sanggup bertahan hidup berdampingan denganku tanpa hafirnya seorang anak, buah cinta kami. Ya Allah, tolonglah hamba, permudahlah hamba dan suami hamba untuk mendapatkan keturunan, sabarkanlah hati kami ya Allah...
doa Maira
Fardhan keluar dari kamar mandi melihat istrinya tengah melamun menatap kosong, Fardhan kemudian mendekati dan menegurnya.
" sayang, apa yang sedang kamu lamunkan ?" tanya Fardhan
" tidak ada mas, Mai mandi dulu ya mas !" kata Maira berlalu pergi ke kamar mandi
Fardhan merasa sikap Maira akhir akhir ini berubah, dia jadi lebih tertutup dan murung. Wajahnya tidak seceria dulu, Fardhan pun bertanya tanya dalam hatinya. Tapi Fardhan tidak berani menanyakannya pada Maira, takut Maira akan tersinggung.
Maira keluar dari kamar mandi melihat Fardhan yang sudah rapi mengenakan sarung dan baju koko, rupanya Fardhan menunggu Maira selesai mandi karena akan mengajaknya shalat berjamaah.
" cepatlah bersiap sayang, kita shalat berjamaah " kata Fardhan
" iya mas " kata Maira lalu mengambil mukena yang ia simpan di lemari
Maira dan Fardhan pun shalat berjamaah dengan khusu'. Setelah shalat keduanya berdoa. Dalam heningnya suasana saat itu Maira mencurahkan isi hatinya pada sang Pemilik hati yang sesungguhnya, hingga tak terasa ia mwneteskan air matanya dan hal tersebut disaksikan oleh Fardhan.
" tidak mas, aku hanya merasa beruntung mempunyai suami sepertimu " jawab Maira sambil mengusap air matanya
" jangan berbohong Mai !" kata Fardhan
" Mai tidak berbohong mas " elak Maira
Jawabannya memang ya, benar sekali. Maira merasa beruntung bisa menikah dengan Fardhan, sosok laki laki yang tidak hanya tampan rupanya tapi juga perangainya. Selain itu Maira juga bersedih karena ia masih belum bisa mengandung juga hingga saat ini, pedahal pernikahannya baru enam bulan.
Maira tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihannya dihadapan Fardhan, biarlah Fardhan tidak tahu. Setelah itu Fardhan mengajak Maira keluar kamar untuk bersantai di halaman belakang.
" sayang, kita ke halaman belakang yuk ! kita duduk disana sambil minum teh " ajak Fardhan
" iya mas, ayo !" jawab Maira
Fardhan duduk di kursi sambil memainkan ponselnya, sedangkan Maira pergi ke dapur untuk membawa teh dan makanan.
" ini teh nya mas " kata Maira sambil meletakkan secangkir teh di atas meja
" terima kasih sayang " kata Fardhan tersenyum
Keduanya berbincang hingga tak terasa waktu sudah terlalu sore, dan sebentar lagi akan maghrib. Fardhan dan Maira masuk kedalam rumah kembali karena sebentar lagi Maghrib, jadi lebih baik bersiap untuk shalat.
Suara adzan terdengar jelas karena mesjid cukul dekat dengan rumah, hanya berjarak lima puluh meter aaja dari rumah.
" mas, apa tidak sebaiknya mas shalat di mesjid saja ? bukankah shalat di mesjid itu lebih utama bagi laki laki !" kata Maira
" iya sayang, mas akan ke masjid. pulangnya nanti setelah shalat isha ya " kata Fardhan
" iya mas, pergilah " kata Maira
Setelah bersiap dengan memakai baju koko dan sarung, Fardhan mengendarai motor matic miliknya untuk pergi ke mesjid bersama mang Jajang, Sedangkan Maira shalat sendiri di rumah.
Usai shalat Maghrib, Maira membaca al-Qur'an agar ia merasa tenang. Ya, inilah salah satu kebiasaan Maira jika merasa tidak tenang maka ia akan membaca al-Qur'an. Tidak ada yang tahu tentang hal ini kecuali abangnya, karena hal itu dulu pertama kali Maira melakukannya atas saran dari Azka.
Suara adzan membuat Maira menghentikan bacaannya dan menutup al -Qur'an 6ang sedang ia baca tadi, setelah adzan selesai Maira melaksanakan shalat Isha. Seperti biasa, setelah shalat Maira selalu berdo'a sambil berurai air mata. Saking khusu' nya Maira berdoa hingga tak menyadari Fardhan sudah berdiri di belakangnya dan mendengar dengan jelas isak tangis istrinya. Hal itu membuat Fardhan terus bertanya tanya, dan ia sudah bertekad kalau malam ini ia harus menanyakannya pada Maira.
Setelah selesai berdoa, Maira melipat mukena dan sajadahnya kembali. Ia merasa kaget saat melihat Fardhan tengah duduk di sisi ranjang sambil menatap penuh tanya ke arahnya.
" Mai, mas mau bicara !" kata Fardhan
" iya mas. mas mau bicara tentang apa ? apa sebaiknya kita makan malam dulu, setelah itu baru kita berbicara mas biar lebih tenang " usul Maira
" iya, sebaiknya begitu " jawab Fardhan
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading...
Jangan lupa tinggalkan jejak yaπ
Terima kasiihππ»ππ»