
Usai dari kafe, Maira langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter yang memeriksanya beberapa hari lalu. Maora masuk kadalam ruangan dokter dan langsung dipersilahkan duduk.
" selamat siang bu Maira " sapa dokter dengam ramah
" siang juga dok " jawab Maira tersenyum
" bagaimana bu, apa masih ada keluhan ?" tanya dokter sambil membuka hasil lab yang baru saja diberikan oleh salah satu suster
" keluhannya masih tetap sama dok, bahkan obat yang dokter berikan juga tidak memberikan reaksi apa apa " jawab Maira
" maaf sebelumnya bu, apa ibu ditemani suami atau keluarga disini ?" tanya dokter serius
" tidak dok, saya sendiri ! memangnya kenapa ?" tanya Maira heran
duh, kok perasaanku jadi gak enak gini sih !
batin Maira
" tidak, hanya saja berita yang akan ibu dengarkan mungkin akan membuat ibu kaget bahkan tidak percaya " kata dokter
" memangnya kenapa dok ? katakan saja, insya Allah saya siap mendengarnya " kata Maira mencoba menenangkan hatinya yang terus bergemuruh
" berdasarkan hasil lab yang kami dapatkan, ibu Maira menderita penyakit kanker darah stadium 3 " ucap dokter hati hati
Maira memejamkan matanya setelah mendengar dokter mengatakan bahwa ia menderita sakit kanker. Ia memejamkan mata sejenak berharap ini hanyalah sebuah mimpi, bukan kenyataan.
" apa saya sedang bermimpi dok ?" tanya Maira merasa tidak percaya
" maaf bu, ini kenyataannya. Ibu harap bersabar ya " kata dokter
" tidak apa dok, saya sadar kok. Mungkin ini cara Allah menyayangi saya, insya allah saya ikhlas menghadapinya " jawab Maira terisak
" yang sabar bu ! Oh iya, berhubung penyakit ibu ini bukan bidangnya saya. Saya akan merujuk ibu ke dokter specialis, namanya dokter Evandy. Ibu akan diantar oleh suster " kata doktee
" iya dok, terima kasih " kata Maira
" mari bu, saya antar " kata sustee sambil membawa berkas pemeriksaan dan hasil lab
Maira berjalan gontai dibelakang suster, sejujurnya saja ia masih belum percaya. Ia masih merasa kalau ini adalah mimpi, tapi sayangnya ini adalah kenyataan yang harus ia jalani saat ini.
Maira sudah sampai di ruangan dokter Evandy, suster mempersilahkan Maira masuk dan duduk karena kebetulan siang ini doter Evandy hanya memeriksa beberapa pasien saja.
" ini berkas pemeriksaan dan hasil lab nya dok " kata suster
" terima kasih " kata dokter Evandy
" ibu Fairuz Humaira Al-Farizi ?" kataa dokter Evandy
" iya dok " jawab Maira
" sepertinya kita pernah bertemu, dan namanya juga seperti familiar untuk saya " kata dokter Evandy sambil mencoba mengingat ingat
" saya juga begitu dok, rasanya kita memang pe4nah bertemu. tapi entah dimana dan kapan " jawab Maira
" oh iya, kalau tidak salah anda yang menikah dengan Fardhan Walid kan ?" tanya dokter Evan setelah ingat
" iya dok, mas Fardhan suami saya " jawab Maira
" wah, kebetuan sekali ! tapi kenapa anda di rujuk kesini ?" tanya dokter Evan sebelum membaca hasil lab Maira
" panggil Maira saja dok ! saya memang di rujuk ke sini berdasarkan hasil lab itu dok " kata Maira
Dokter Evan pun langsung membaca hasil lab milik Maira dan ia menatap Maira seolah mempertanyakan 'benarkah semua ini ?' ia menatap seolah tak percaya dengan takdir yang sedang dihadapi oleh istri dari sahabatnya ini.
Setelah selesai, Maira tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia duduk termenung di kantin rumah sakit, ia bingung harus bagaimana. Disatu sisi ia tidak mau membuat orang lain repot dan terbebani dengan penyakitnya, tapi disisi lain ia juga bertanya tanya dalam hatinya apakah ia sanggup untuk memikulnya sendiri tanpa seorangpun mengetahui ?
Minuman yang dipesan Maira sedari tadi hanya di aduk aduk saja tanpa di minum sedikitpun, hingga Dokter Evan menegurnya.
" Maira, kok bengong ?" tanya dokter Evan
" eh, dokter ! kok disini ?" tanya balik Maira
" panggil kakak aja, biar lebih enak ! oh iya, kebetulan janjian sama Nadia istriku " jawab dokter Evan
" mana orangnya ?" tanya Maira celingukan
" itu, baru datang " jawab dokter Evan langsung melambaikan tangannya pada sang istri
Dari arah belakang Maira datanglah seorang wanita cantik yang datang dengan membawa sebuah papper bag ditangannya. Senyumnya yang terus tersungging di bibirnya membuat setiap orang terpana dengannya.
" assalamualaikum " ucap Nadia lalu duduk di kursi bersebelahan dengan kak Evan
" waalaikumsalaam warahmatullah sayang " jawab kak Evan
" waalaikumsalaam warahmatullah " jawab Maira
" sayang, kenalin ini Maira istrinya Fardhan " kata kak Evan memperkenalkan
" hai kak, aku Maira ! salam kenal " kata Maira sambil mengulurkan rangannya
" hai juga Maira ! saya Nadia, istrinya mas Evan " jawab kak Nadia membalas uluran tangan Maira
" eh, maaf kak aku harus buru buru pergi ya ! " kata Maira setelah melihat jam di tangannya
" loh, mau kemana ? kan kita belum ngobrol " kata Nadia
" maaf kak, tapi lain kali aja ya. Mai harus segera pulang, maaf banget. pamit ya kak, assalamualaikum " kata Maira berlalu pergi meninggalkan sepasang suami istri itu
Kak Evan menatap iba pada Maira, sedangkan sang istri masih b3lum memahami apa yang terjadi.
" kenapa mas, kok mandang dia segitunya " tegur Nadia
" aku kasihan sama dia. Dia sakit kanker darah stadium tiga, tapi dia tidak mau memberi tahukan hal ini pada keluarganya " jawab Evan
" kenapa ?" tanya Nadia heran
" dia tidak mau orang mengasihaninya juga menatap iba padanya. Dia juga tidak mau membuat orang lain repot karena penyakitnya. Entahlah apa yang ada difikirannya. Tapi aku melihat dari sorot matanya ia sedang memikul beban selain kenyataan pahit tentang penyakit yang di deritanya " jawab Evan
" lantas kita harus bagaimana mas untuk membantunya ? apa kita kasih tahu Fardhan saja ?" tanya Nadia mengusulkan
" awalnya mas bilang gitu juga sama dia. Tapi dia menolaknya, katanya biarlah dia yang memberi tahukan kabar ini pada Fardhan " jawab Evan
" ya kalau seperti itu kita tidak bisa membantu apa apa selain berdoa untuk kebaikannya " kata Nadia menghela nafas
.
.
.
.
.
TBC