Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
139


Keesokan harinya, Fardhan dan Azka berjanji untuk bertemu dan membahas tentang Karina yang kini sudah diamankan. Sekaligus mereka telah berencana akan bertemu langsung dengan Karina.


Shandy mengantarkan Fardhan dan Azka ke lokasi tempat Kirana diamankan. Lokasinya cukup jauh, hingga menempuh satu jam perjalanan jika tifak macet. Dan beruntungnya hari ini jalanan sedikit lengang, jadi tidak membutuhkan waktu lama mereka sampai di tempat.


" cih, kalian mengurungnya ditempat yang bersih. Sedangkan dia mengurung Maira diruangan yanh kotor penuh debu " kesal Azka


" sabar bang, kita jangan sejahat itu juga kali bang ! Kita masih punya hati nurani, beda dengan dia. Kalau kita nurutin apa yang dia lakukan, lalu apa bedanya dia dengan kita ? " kata Fardhan


" Ini ruangnnya. Aku akan menunggu saja disini " kata Shandy yang berdiri disamping pintu masuk kamar tempat Kirana dikurung


Fardhan dan Azka masuk kedalam ruangan yang cukup luas dan bersih. Didalamnya terdapat seorang wanita yang tengah duduk termenung memeluk kedua lututnya dengan wajah yang ditelungkupkan diantara kedua lututnya.


" akhirnya tertangkap juga " Fardhan menyeringai tipis


" apa maumu ?" tanya Kirana penuh emosi


" mauku ? kau tanya apa mauku ? kalau boleh jujur aku ingin sekali melenyapkanmu dari dunia ini. Tapi sayangnya aku tak sekejam itu, aku masih punya hati nurani " jawab Fardhan


" alah, hati nurani kau bilang. Jika kau punya hati nurani lantas kenapa kau menjebloskan ayahku kedalam penjara hah ?" tanya Kirana setengah berteriak


" kalau itu beda perkara nona Kirana ! ayahmu sudah terlalu banyak merugikan perusahaan orang lain, dan termasuk perusahaanku " kata Fardhan dengan santai


" hm, kau sungguh berubah ! Semenjak mengenal wanita sialan itu kau jadi berubah padaku, aku yidak mengenalmu lagi sekarang !" kata Kirana


" ya, aku memang berubah. Dulu aku yang begitu bodoh bisa jatuh hati pada seorang wanita yang tak punya pendirian, selalu memandang harta. Bahkan rela meninggalkan aku demi lelaki yang lebih kaya dibading aku. Tapi sekarang semua berubah. Aku menemukan kekasih sejatiku, yang selalu mendukungku disetiap waktu. Dia yang bahkan rela mengorbankan nyawanya demi aku suaminya. Dia yang kau sebut wanita sialan itu adalah ISTRIKU, istriku. Dia lebih baik dari dirimu yang slalu memandang semua dari materi, kalian bagaikan langit dan bumi " kata Fardhan dengan menekankan kata ISTRI


" apa maksudmu melakukan itu pada akikku ?" tanya Azka dengan raut wajah datar


" heh, masih tanya maksud ! kalian memang bodoh. Tentu saja aku mau membalaskan sakit hatiku karena ayahku dijebloskan kedalam penjara oleh dia. Dan aku juga akan merasa senang jika berhasil membuatnya jatuh bangkrut, hahaha " ucap Kirana dengan menggebu gebu dan tertawa layaknya orang yang kehilangan akalnya


" dia sudah gila Dhan " ucap Azka


" iya, aku memang gila ! aku gila karena dia, dia yang membuatku gila seperti ini " emosi Kirana sambil menunjuk nunjuk Fardhan


" orang gila sepertimu harusnya dimasukkan ke rumah sakit jiwa, bahkan harus ditempatkan di ruang isolasi " kata Azka membuat Kirana makin meradang


" disini bukan hanya aku yang gila, tapi kalian juga gila " teriak Kirana


" sudahlah Dhan, sebaiknya hubungi saja pihak rumah sakit jiwa untuk mengurusnya. hanya buang buang waktu saja kalau kita mengurusnya, lebih baik kita mengurus hal yang lebih berguna " kata Azka


" Shan, telfon pihak rumah sakit jiwa. Dia sudah gila, dan minta supaya pihak rumah sakit untuk menempatkannya diruangan khusus. Aku tidak mau mendengar jika nanti disana dia menyakiti orang lain " kata Fardhan pada Shandy


" siiip " jawab Shandy


Shandy pun langsung melaksanakan perintah Fardhan, Setelah itu kemudian ketiganya pergi meninggalkan tempat dan kembali ke kantor. Azka langsung pergi meeting dengan kliennya, sedangkan Fardhan ia masih harus menyelesaikan banyak berkas yang masih menumpuk dimeja kerjanya.


*****


Sedangkan saat ini Maira masih berdiam diri di rumah, ia mulai bisa berjalan keluar kamar walaupun harus pelan. Luka dikakinya masih belum terlalu kering, jadi ia harus berhati hati takutnya nanti ia jatuh atau menginjak sesuatu yang bisa menyebabkan kakinya tambah luka.


Akhirnya dengan penuh perjuangan Maira sampai di ruang keluarga. Meskipun di kamarnya ada tv, tapi Maira lebih nyaman untuk nonton di ruang keluarga saja. Menurutnya itu lebih asik, dan ia juga bisa meminta bi Titin untuk menemaninya. Tapi jika di kamar, bi Titin selalu tidak mau menemaninya dengan alasan tidak sopan.


" bi, tolong buatkan juice alpukat ya " kata Maira


" siap neng, nanti bibi sekalian bawakan makanan juga " kata bi Titin


" bibi tahu aja yang Mai pengen " kata Maira tersenyum


Bi Titin pun langsung ke dapur untuk membuatkan juice untuk Maira dan menyiapkan beberapa camilan untuk menemani saat nonton.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊


Sorry, kemarin kemarin Rose gk sempet up soalnya Rose lagi dapat musibah.


Tapi Alhamdulillah sekarang Rose bisa kembali lagi up