Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
98


Siang sudah beranjak sore, semua keluarga masih berbincang diruang tamu yang tampak lengang tanpa barang apapun. Hanya karpet besar yang membentang menghalangi dinginnya lantai. Zahra bangkit untuk menuju dapur untuk mengambil makan.


" Mai, kita makan dulu ya " kata Zahra sambil membawa nampan


" Mai, kamu di kamar mandi ?" tanya Zahra


Masih tidak ada suara juga, hanya gemercik air mengalir yang terdengar. Lima belas menit menunggu membuat Zahra menggedor pintu kamar mandi namun masih belum ada sahutan juga dari dalam membuat rasa khawatirnya tidak terbendung lagi.


" Mai, buka pintunya Mai " teriak Zahra


" Mai, buka Mai " teriak Zahra lagi


Tapi lagi dan lagi Zahra tidak mendengar suara sahutan dari dalam, yang ia dengar hanya suara gemercik air yang terus mengalir. Zahra langsung berlari keluar kamar dan berteriak memanggil Azka.


" abang, tolong bang " teriak Zahra


Teriakan Zahra membuat orang orang yang berkumpul di ruang tamu menoleh dan langsung berdiri seketika. Azka langsung berlari menuju arah sumber suara diikuti oleh Fardhan di belakangnya.


" kenapa ?" panik Azka


" ada apa ?" tanya Fardhan


" Mai gak keluar keluar dari kamar mandi, aku panggil gak ngerespon. aku takut bang " panik Zahra sambil berderai air mata


Tanpa banyak bicara, Azka dan Fardhan bergegas masuk dan benar saja apa yang dikatakan oleh Zahra. Azka dan Fardhan pun terpaksa mendobrak pintu kamar mandi, dilihatnya memang air mengalir dari keran. Sedangkan disisi lain Maira terbaring dengan wajah yang pucat dan tubuh dingin.


" Mai, bangun Mai " kata Fardhan sambil memangku kepala Maira


" kita ke rumah sakit sekarang " kata Azka langsung menyambar kunci mobil


Azka langsung menyiapkan mobil, sedangkan Zahra dan Nisa sedang mengganti baju Maira yang sudah basah kuyup. Setelah selesai dipakaikan baju dan hijab instant, Maira langsung dibawa Fardhan keluar kamar. Banyak yang bertanya dengan apa yang terjadi pada Maira tapi tidak di jawab oleh Azka maupun Fardhan.


Azka mengambil alih kemudi, sedangkan Fardhan memangku tubuh Maira di belakang yang telah diberikan selimut oleh Nisa.


" Maira kenapa Nis ?" tanya papa


" kita juga gak tahu pa, tapi Mai pingsan dikamar mandi " jawab Nisa


" ya Allah, semoga anakku baik baik saja " ucapa papa dengan lirih


" kita berdo'a saja pa, semoga Mai baik baik saja " kata Nisa


" kak, Zahra susul ke rumah sakit dulu ya. Kakak sama om disini saja nanti aku kasih kabar " kata Zahra


Zahra pun pergi menyusul Azka dan Fardhan ditemani oleh Ghaisan. Sepanjang perjalanan Zahra merasa resah dengan kondisi Maira. Sedangkan mobil yang dibawa Azka sudah sampai di rumah sakit dan langsung membawa Maira kedalam ruang UGD agar segera ditangani.


Pintu ruangan terbuka, menampakkan seorang dokter muda penuh kharisma keluar dari ruangan.


" Dok, bagaimana dengan istri saya ? " tanya Fardhan


" sebaiknya kita melakukan pemeriksaan lebih lanjut, yang saya takutkan ada penyakit lain yang diderita istri anda " jawab dokter


" lakukan yang terbaik dok ! " kata Fardhan


Azka bingung, bagaimana kalau Fardhan tahu tentang penyakit Maira ? sedangkan Maira sendiri tidak mau yang lain tahu tentang penyakitnya. Lama berfikir keras, akhirnya Azka akan menemui dokter yang baru saja memeriksa Maira.


" Dhan, abang kesana dulu ya ! kamu tunggu disini, sekalian abang mau beli minum dulu " kata Azka


" iya bang " jawab Fardhan


Azka pun bergegas pergi menyusul dokter tadi. Sedangkan Fardhan fikirannya hanya fokus pada Maira saja, jadi tidak memperhatikan langkah Azka.


" maaf dok, saya kakak dari pasien atas nama Maira yang baru saja anda periksa. Maaf sebelumnya, bisa kita bicara lebih lanjut ?" tanya Azka


" baiklah, kita ke ruangan saya saja " jawab dokter


Azka pun berjalan beriringan dengan dokter menuju ruangan.


" silahkan duduk " kata dokter


" terima kasih dok " jawab Azka lalu duduk berhadapan dengan dokter


" baiklah, nanti akan saya konfirmasi ke dokter Evandy dulu " kata dokter


" baik dok, terima kasih " kata Azka


Setelah itu Azka pergi ke kantin untuk membeli minuman dan kembali menemui Azka yang masih berada di luar ruang UGD.


" minum dulu Dhan " kata Azka memberika satu botol minum


" terima kasih bang " kata Fardhan


" Hai Dhan, lagi apa disini ?" tanya Evan


Ya, saat Evan akan pergi ke kantin untuk membeli minum ia melihat Azka dan Fardhan tengah duduk berdua.


" hai Van, aku lagi nunggu Maira diperiksa " jawab Fardhan


" lah, kenapa ?" tanya Evan


" Maira ditemukan pingsan didalam kamar mandi " jawab Azka


" coba aku lihat dulu deh " kata Evan


Beberapa menit Evan didalam ruang UGD, akhirnya Evan keluar menemui Azka dan Fardhan


" bagaimana ?" tanya Fardhan


" dia itu terlalu stres, dan asam lambungnya juga naik. Aku sarankan agar malam ini Maira dirawat saja, nanti kita pantau terus perkembangannya. Kalau semua baik baik saja, besok Maira sudah boleh pulang " jawab Evan


" baiklah, sebaiknya memang begitu " kata Fardhan


" Van, boleh kita bicara sebentar ?" tanya Azka


" boleh, kita ke ruanganku saja " jawab Evan


" Dhan, abang mau bicara dulu sebentar sama Evan. Kamu tunggu disini saja, sebentar lagi Zahra dan Ghaisan sampai " kata Azka


" iya bang " jawab Fardhan


Azka melangkah pergi ke ruangan Evan, sedangkan Evan sudah lebih dulu tiba di ruangannya.


" bagaimana dengan penyakit Maira ?" tanya Azka langsung


" dia drop, terlalu lelah dan terlalu stres. untung saja tidak terlalu fatal, kalau fatal itu bisa menambah buruk kondisi penyakitnya " jawab Evan


" ya, dia selalu menyalahkan dirinya atas kematian mama. Dia merasa sangat bersalah, bahakan obatnya saja tidak diminum " kata Azka


" nanti akan ku berikan saja lewat suntikan, semoga dia lekas membaik " kata Evan


Ya, Evan tahu dengan kondisi Maira tadi. Ia juga tahu betapa terpukulnya Maira saat mengetahui kenyataan kalau mamanya telah tiada. Hanya saja ia tidak bisa berbuat lebih, apalagi ia harus segera kembali ke rumah sakit.


Evan juga mengerti dengan ketakutan Azka, apalagi setelah kehilangan mamanya dan sekarang Maira dalam kondiai yang tidak baik seperti itu membuatnya takut kehilangan lagi. Bukannya tidak mau berfikir positif, tapi kenyataannya penyakit kanker itu bisa mwrenggut nyawa seseorang kapan saja.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yupz


Thank you🙏🏻