
Maira juga sudah bertekad akan meneruskan pengobatannya supaya bisa sembuh dan bisa melindungi dan menjaga keluarganya. Cukup sudah selama ini ia merasa menjadi pribadi yang lemah, sekarang ia harus bangkit dan berdiri dengan tegak menjadi tameng untuk keluarganya.
Beberapa menit kemudian Maira dan Fardhan sudah sampai didepan rumahnya. Fardhan turun dan langsung mengeluarkan koper kecil milim Maira. Fardhan menggandeng tangan Maira saat akan masuk kedalam rumah.
Saat pintu telah terbuka, dilihatnya rumah seperti tidak ada penghuninya. Entah kemana dan sedang apa, tapi yang kini terlihat hanya sepi.
" ya sudah, kita langsung ke kamar saja " kata Fardhan sambil merangkul pundak Maira dengan tangan kirinya karena tangan kanannya masih memegang koper
Maira hanya mengikuti saran dari Fardhan, sejujurnya ia juga sudah merasa lelah saat ini. Ya, walau bagaimanapun juga kondisi Maira saat ini memang belum benar benar fit, hanya saja Maira pandai menyembunyikannya.
" istirahatlah, biar mas yanf membereskan pakaianmu " kata Fardhan
" tidak perlu mas, biar nanti aku yang bereskan. Sebaiknya mas juga istirahat " kata Maira tidak mau merepotkan suaminya
Akhirnya Fardhan menurut dengan ucapan istrinya. Keduanya kini berbaring diatas tempat tidur, tapi tidak memejamkan matanya. Keduanya larut dalam pemikirannya masing masing, entah apa yang mereka fikirkan saat ini. (author juga gk tahu yaπ gak mau kepo soalnyaπ)
Keduanya baru sadar dari lamunannya saat terdengar gema adzan maghrib berkumandang dengan syahdu. Baik Fardhan maupun Maira kini tengah bersiap untuk membersihkan diri, karena sejak kedatangannya tadi keduanyq belum membersihkan diri.
Setelah selesai dengan ritual membersihkan diri, Fardhan dan Maira shalat berjamaah didalam kamar.
*****
Setelah melaksanakan shalat maghrib, Nisa mengajak Azka berbicara. Ada hal yang ingin ia tanyakan pada suaminya itu.
" mas " panggil Nisa
" ya, ada apa ?" tanya Azkq
" aku mau tanya, kqmu jawab yang jujur ya " kata Nisa
" tanya apa sih ? serius amat kayaknya " kata Azka kini duduk berhadapan dengan Nisa diatas kasur dengan duduk bersila
" mas menyembunyikan sesuatu dariku ?" tanya Nisa
" maksudnya ?" tanya Azka mengernyitkan keningnya
" mas menyembu yikan sesuatu dariku, tapi aku tidak tahu tentang apa itu " jaeab Nisa
" mas tidak menyembunyikan apapun, beneran " kata Azka meyakinkan
" aku mau mas jujur padaku, ceritakan semua masalah yang menjadi beban fikiranmu. Berbagilah denganku, aku bukan hanya istrimu tapi aku juga bisa jadi temanmu disaat kamu mengahadapi masalah mas. Qku akan dengan senang hati mendengarkannya, kalaupyn masalah serius kita akan cari solusi bersama bagaimana baiknya. " kata Nisa
Rupanya Nisa sudah mencurigai sikap Azka belakangan ini tanpa Azka sadari. Nisa mencoba mengerti dengan kondisi suaminya saat itu makanya ia tidak langsung bertanya. Tapi sekarang ia sudah tak bisa lagi membendung rasa penasaran yang selalu bergelayut manja menghiasi fikirannya.
" maafkan mas, tapi untuk saat ini mas tidak bisa menceritakannya padamu. Bukannya mas tidak mau berbagi denganmu, tapi mas hanya ingin menjaga amanah saja. Nanti jika saatnya memungkinkan, mas akan memberi tahumu. Tapi tidak untuk sekarang, mas minta maaf sayang " kata Azka
" perkara apa ?" tanya Nisa sambil menatap mata Azka dengan lekat
Azka hanya menggelengkan kepalanya saat ia ditanya dan ditatap dengan lekat oleh istrinya seperti itu.
" apa ini masih tentang Maira ?" tanya Nisa lagi
" ya " jawab Azka singkat
Nisa sudah tidak bisa berkata kata lagi sekarang, ia hanya bisa bedoa semoga keluarganya diberikan kesehatan dan dijauhkan dari segala mara bahaya. Jika sudah menyangkut masalah Maira, Nisa menjadi sangat khawatir mengingat kondisi Maira setelah meninggalnya mama. Sepertinya kondisinya memang sedang kurang baik baik saja saat itu hingga tadi sore saat Maira dan Fardhan pamit kembali ke rumahnya, ia melohat kondisinya memang benar benar sedang kurang fit.
*****
Sedangkan di tempat lain Kirana sedang merencanakan sesuatu yang tentunya akan menyenangkan hatinya tanpa berfikir sebab yang akan ia terima nantinya.
π" aku mau kalian lakukan eksekusi sesegera mungkin " perintah Kirana pada orang suruhannya
π" siap bos, kami juga sedang menyusun rencana. Tapi apa bos ada saran untuk kami ?" tanya orang suruhan
π" siap bos " jawab orang suruhan
Usai menelfon Kirana menyimpan kembali ponselnya lalu tertawa puas dengan apa yang telah ia rencanakan.
*****
Sedangkan Maira sedang terdiam sambil memikirkan saran dari Azka dan Zahra yang menyuruhnya untuk berterus terang pada Fardhan tentang penyakitnya. Tapi sisi egois Maira lagi lagi mengambil alih pemikirannya yang tidak mau merepotkan orang lain. Tapi disisi lain ia juga ingin memberi tahukan kondisinya karena ia memang membutuhkan penanganan lebih lanjut agar bisa tenang melakukan pengobatan, tidak kucing kucingan seperti sekarang.
Ditengah kesibukannya bergelut dengan berbagai pemikiran, dering ponselnya membuatnya tersadar kembali.
π " hallo, assalamualaikum bang " ucap Maira ketika mengangkat sambungan telfon
π " waalaikumsalaam. Kamu sedang apa Mai ?" tanya Azka
π " lagi duduk aja bang, sambil menimbang nimbang antara jujur apa enggak nya sama mas Fardhan " jawab Maira lesu
π " fikirkan baik baik Mai. Abang mau kamu segera mendapatkan penanganan, dengan begitu kamu akan segera sembuh " kara Azka
π " tapi bagaimana kalau Mai gak bisa sembuh bang ? Jujur saja Mai pesimis untuk melakukan pengobatan apapun " kata Maira
π " jangan berfikir begitu Mai, kita masih punya harapan ! sekecil apapun harapan itu kita akan usahakan, bagaimanapun hasilnya nanti yang penting kita usaha dulu " kata Azka meyakinkan
π " entahlah bang, Mai hanya takut saja " kata Maira lirih
π " dengarkan abang ! Kamu harus sembuh Mai, kamu lihat papa. Bagaimana jadinya kalau kamu menyerah begitu saja, apa kamu tidak akan membuat hati papa hancur ? fikirkan Mai ! lagi pula kita punya planning yang memang harus kita selesaikan demi kebaikan bersama. Makanya kamu harus optimis agar kamu bisa sembuh. Berterus teranglah dengan Fardhan walau bagaimanapun juga dia suamimu, dia lebih berhak dari abang dan papa saat ini " kata Azka
π " ya, nanti akan Mai fikirkan lagi " jawab Maira
π " jangan hanya difikirkan saja, tapi segera laksanakan agar kita bisa lebih cepat melangkah kedepannya. kamu faham kan maksud abang ?" kata Azka
π " ya, Mai faham " jawab Maira
π " ya sudah, abang tutup dulu telfonnya ya. Abang mau beresin dulu kerjaan, biar bisa langsung istirahat. Kamu juga nanti setelah shalat langsung istirahat ya ! ingat kondisimu sekarang, jangan terlalu berfikir yang berat karena itu hanya akan membuat kondisimu menurun. Abang tutup ya, assalamualaikum " ucap Fardhan
π" waalaikumsalaam " jawab Maira pelan
" telfon dari siapa sayang ? kayaknya serius banget ?" tanya Fardhan membuat Maira terperanjat kaget karena Fardhan keluar dari kamar mandi tanpa menimbulkan suara
" dari abang " jawab Maira
" oh, aku kira siapa " kata Fardhan
" mas " panggil Maira
" ya, apa sayang ?" tanya Fardhan
" aku mau bicara sesuatu.... "
.
.
.
.
.
TBC
Happy readingπ