Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
112


Tepat pukul setengah tiga perlahan Maira mulai kembali sadar. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang tertangkap masuk kedalam netranya. Ia masih belum bisa mengingat apa yang telah terjadi padanya. Yang ada dipandangannya kini hanya ruangan berwarna putih dengan bau obat obatan yang menyengat di indra penciuman.


Perlahan ia mengedarkan pandangannya dan terpaku sejenak pada sebuah tiang stanless yang diatasnya menggantung sebuah botol infus yang hampir habis. Ia kembali mengedarkan pandangannya dan menatap seaeorang yang sangat ia kenali tengah tidur dengan posisi duduk sambil memegangi sebelah tangannya.


Tak ingin membangunkan Fardhan, Maira bergerak perlahan, ia merasa tenggorokannya kering. Berhasil, ia berhasil melepas genggaman tangan Fardhan dari tangannya. Maira mencoba meraih gelas yang ada di atas nakas dan berhasil, walau tangannya sedikir gemetar.


prakk


Saat ia akan menyimpan gelas itu, tanpa sengaja ia menjatuhkannya, dan suara nyaring itu langsung membuat Fardhan bangun dari tidurnya. Kesadaran Fardhan masih belum terkumpul sepenuhnya, ia melihat pecahan gelas di lantai berserakan. Tapi sesaat kemudian ia tersadar dan melihat pada sang istri yang tadinya masih terbaring belum sadarkan diri, kini ia telah membuka matanya dengan sempurna.


" kamu sudah sadar sayang " seru Fardhan


" maaf membangunkanmu mas " kata Maira dengan suara lemahnya


" tidak apa, maaf aku yang tertidur. Harusnya kamu membangunkanku jika ingin apa apa, aku takut kamu terluka " kata Fardhan lalu memencet tombol untuk memanggil dokter.


Saat dokter datang memeriksa Maira, Fardhan menunggu diluar ruangan. Rencananya ia ingin memberi tahu Azka perihal kondisi Maira yang sudah sadar. Tapi Niat itu ia urungkan kembali setelah melihat jam di ponselnya.


" huft, kalau aku kabari sekarang pasti mengganggu istirahat mereka. Ah, biarlah nanti saja pagi pagi aku kabari mereka atau setelah shalat shubuh " gumam Fardhan


Setelah dokter keluar dan memberi tahukan kondisi Maira yang mulai membaik membuat Fardhan bahagia.


" sayang, mas mau tanya " kata Fardhan


" tanya apa mas ? " tanya Maira


" kenapa kamu menyembunyikan penyakitmu dariku selama ini ? kenapa tidak membaginya denganku ?" tanya Fardhan pelan


" maafkan aku mas, aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir dengan kondisiku yang seperti ini " jawab Maira perlahan sambil tertunduk


" tapi setidaknya kamu memberi tahu aku atau abang sedari awal ! agar kita bisa segera mengambil tindakan untuk mengobatimu secepat dan sebaik mungkin " kata Fardhan


" maaf " hanya kata itu yang bisa ia ucapkan kembali tanpa berani menatap wajah Fardhan


" baiklah, sekarang aku mau kamu menjalani pengobatan secara intensif di Jerman secepatnya. Bagaimana ? " tanya Fardhan setelah menghela nafas kasar


" maaf mas, aku tidak bisa " ucap Maira dengan pasti penuh dengan keyakinan


" kenapa ?" tanya Fardhan


" berobat kesana butuh biaya yang besar mas, lagi pula belum bisa menjamin kesembuhanku. Aku sudah pasrah mas dengan semuanya, aku sudah lelah " jawab Maira yang nyatanya sudah menyerah dengan takdirnya


" tapi aku sudah lelah menjalani pengobatan ini mas, aku sudah tidak sanggup lagi " kata Maira pasrah


" kamu harus kuat, harus semangat ! aku yakin kamu bisa sembuh kembali, kamu bisa sehat lagi seperti dulu. Kamu harus meyakinkan hatimu dulu jika ingin sembuh. Jangan fikirkan apa apa lagi, tenangkan fikiranmu dan fokus dengan pengobatan " kata Fardhan


" aku dan abang sudah sepakat untuk membawamu ke Jerman setelah kondisimu membaik, aku akan menemanimu disana " kata Fardhan


" tapi biayanya pastia kan sangat mahal mas. Lagi pula bagaimana dengan perusahaan kalau mas menemaniku disana ?" tanya Maira


" perusahaan akan di handle oleh Shandy, nanti akan di bantu oleh Arfan dan abang juga. Kamu tidak perlu memikirkan apapun, mas akan urus semua secepatnya gar kita bisa segera berangkat dan kamu bisa mendapatkan pengobatan segera " jawab Fardhan


" terserah mas saja. Mai tidak mau merepotkan kalian semua " kata Maira


" tidak merwpotkan Mai, disini aku sebagai suamimu dan ada abangmu juga dan keluarga yang lainnya. Kita semua menginginkan kesembuhanmu, jangan bilang merepotkan karena ini memang kewajibanku untuk membawamu berobat " kata Fardhan


" terima kasih mas " ucap Maira tulus


Sebenarnya Maira tidak ingin pergi ke Jerman, ia tidak ingin pergi jauh lagi dari keluarganya. Tapi kembali lagi ia harus segera bangkit untuk melindungi keluarganya dari ancaman bahaya. Maira pun kembali semangat dan ia harus segera sembuh jika ingin melindungi keluarganya.


biaya untuk berobat ke Jerman itu tidak main main, pasti biayanya akan sangat besar. Tapi sekeras apapun aku membantah, mas Fardhan tidak bisa untuk dibantah. eh, tapi aku kan punya beberapa barang yang bisa aku jual kembali. Atau kalau kepepet akan aku jual saja saham di kafe utama saja supaya bisa meringankan beban mas Fardhan.


fikir Maira


Ya, itu cara yang akan dilakukan Maira. Ia akan menjual beberapa barang yang ia miliki seperti antam yang ia kumpulkan semenjak ia bekerja sebelum bertemu dan menikah dengan Fardhan.


Maira mulai berinvestasi dengan antam semenjak dulu, dan kini bisa berguna. Jika di hitung hitung lumayanlah untuk menambah biaya pengobatan disana atau untuk biaya sehari hari selama tinggal disana. Lagi pula tabungan pribadi hasil usahanya masih ada, apalagi jika ditambahkan dengan uang bulanan yang selalu mengalir kedalam rekening yang dulu dibuatkan oleh papanya. Karena itu adalah hak Maira dari sang papa dan Azka pu mendapatkan yang sama hanya saja nominalnya yang berbeda.


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊