
Sesampainya di kamar Aisyah, Maira berusaha untuk melupakan masalah yang sedang ia hadapi dan beetingkah sebahagia mungkin di depan orang orang.
tok.. tok.. tok..
" masuk " sahut Aisyah dari dalam
" assalamualaikum " ucap Maira sambil membuka pintu
" waalaikumsalaam. Mai, akhirnya kamu datang juga ! eh, kamu sendiri ?" tanya Aisyah celingukan mencari seseorang
" iya, aku sendiri Syah. Mas Fardhan lagi dinas ke kalimantan, kalqu abang sama kak Nisa katanya nanti nyusul kesini " jawab Maira
" oh, gitu ya ! aku kirain kalian datangnya bareng " kata Aisyah
" gak apa lah, yang penting datang ! oh iya, selamat ya sebentar lagi kamu bakal jadi istri. Semoga rumah tanggamu m3njadi rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah " kata Maira sambil memeluk Aisyah
" iya, terima kasih ya doanya " jawab Aisyah membalas pelukan Maira
" eh, ngomong ngomong kamu cantik banget loh ! aku sampai pangling lihat kamu " kata Maira
" masa sih Mai ? " kata Aisyah
" beneran Syah. Kamu itu makin cantik tahu ih ! Beruntung deh Arfan bisa nikahin kamu, udah baik, cantik, lemah lembut, perhatian, banyak duitnya juga lagi " goda Maira sambil tertawa
" ah, kamu Mai bisa aja ! kamu juga beruntung bisa di nikahin sama kak Fardhan tahu Mai " kata Aisyah membuat Maira terdiam
Maira terdiam setelah mendengar Aisyah menyebut nama Fardhan. Ia jadi ingat kembali dengan hubungannya yang kurang baik saat ini dengan Fardhan.
" Mai, kenapa ?" tanya Aisyah
" enggak kok Syah, cuman inget mas Fardhan aja yang lagi ke Kalimantan " jawab Maira sekenanya
" ya elah Mai, udah kayak pengantin baru aja ! udah biasa ini ditinggal pergi dinas, bahkan bukan hanya keluar kota atau ke luar pulau tapi ke luar negeri juga sering kan ? "kata Aisyah
" iya juga sih " kata Maira kemudian tersenyum
Andai kamu tahu Syah, apa yang sedang aku alami. Apa kamu juga akan merasa sakit hati dan marah juga saat tahu yang saat ini terjadi antara aku dan mas Fardhan. Mas Fardhan memang baik, tapi tidak dengan keluarga mas Fardhan saat ini. Bahkan dengan terang terangan nenek menunjukkan rasa tidak sukanya padaku. Andai kamu tahu semua itu Syah. Ingin rasanya aku bercerita padamu, tapi aku tidak mau membebani orang lain dengan kisah hidupku yang selalu membuatku bingung.
" tuh kan malah ngelamun lagi ! mikirin apa sih ?" tanya Aisyah
" gak mikirin apa apa kok ! cuman nanti kalau kamu sudah menikah pasti kita bakal jarang ketemu deh Syah ! " keluh Maira
" kamu tenang aja Mai, mas Arfan tidak mengekang aku kok. Malah dia support aku buat terus menjalankan usaha kita Mai, dia dukung penuh loh " kata Aisyah
" benar begitu Syah ?" tanya Maira sumringah
" iya Mai " jawab Aisyah
" syukurlah kalau begitu " kata Maira merasa lega
Obrolan keduanya terhenti saat Azka dan Nisa langsung masuk kedalam kamar untuk menghampiri. Suasana di dalam kamar Aisyah smenjadi ramai seketika karena kehadiran Silmi. Beberapa saat kemudian, rombongan pengantin pria sudah sampai. Setelah acara sambutan dan serah terima, kini tiba waktu untuk mengucap ijab qabul.
Aisyah masih duduk di dalam kamar ditemani Maira dan kak Nisa, sedangkan Azka diminta untuk menjadi saksi oleh ayah Aisyah.
" Mai, Fardhan gak ikut ?" tanya Kak Nisa
" biasa kak, lagi dinas di luar " jawab Maira sambil tersenyum
" oh, pantesan aja kakak gak lihat dia dari tadi " kata Nisa
" iya kak, berangkatnya tadi barengan sama aku " kata Maira
Nisa hanya ber oh ria saja mendengar jawaban dari Maira. Tak lama kemudian Azka datang untuk memberitahukan kalau Aisyah diminta untuk keluar.
" gimana bang ?" tanya Maira
" alhamdulillah lancar banget kayak jalan tol ! si Arfan kayaknya udah ngebet banget deh mau nikah sama kamu Syah, sampai ada yang ajak dia ngomong juga gak noleh " goda Azka
" abang bisa aja " kata Aisyah
" sudah sudah, mas jangan di godain dong ! sekarang kita keluar ya " kata Nisa lalu menuntun Aisyah
Aisyah digandeng oleh Nisa dan Maira, dia masih tertunduk malu malu rupanya. Setelah sampai di depan pak penghulu, Aisyah duduk disamping Arfan.
" coba diligat dulu nak Arfan apa benar ini istrimu ?" goda pak penghulu
" maasya Allah " ucap Arfan
" benar ini nak ?" goda pak penghulu
" iya pak, benar " jawab Arfan sambil tersenyum
Rangkaian qcarq pun terus berlanjut sampai selesai. Kali ini hanya ijab qabul sqja, untuk resepsinya masih bulan depan. Setelah selesai dengan para tamu, Arfan dan Aisyah pun di persilahkan untuk istirahat.
Maira dan Azka pulang beriringan, mobil uang di kendarai Azka melaju di depan sedangkan mobil Maira di belakangnya. Maira dan Azka berpisah, Azka dan Nisa langsung pulang ke rumahnya sedangkan Maira langsung pergi ke kafe pertamanya.
Sesampainya di kafe, Maira langsung masuk kedalam ruangannya. Ia tidak memeriksa laporan pembukuan atau apapun, ia langsung berbaring di kasur empuk yang ada di ruangan itu. Saat ini Maira butuh tempat untuk merenung, menyendiri untuk menjernihkan fikirannya dan menenangkan perasaannya. Akhirnya Maira tertidur diatas kasur dan mulai berlayar ke alam mimpinya.
Maira bangun saat Syifa salah satu karyawan kafe datang mengetuk pintu, untuk memberitahukan ada tamu yang ingin bertemu.
" maaf mengganggu kak, di bawah ada tamu yang mau bertemu sama pemilik kafe katanya " kata Syifa
" siapa ?" tanya Maira
" Syifa gak tahu kak, baru pertama lihat juga. Dia laki laki kak " jawab Syifa
" ya sudah, biar saya saja yang menemuinya ke bawah " kata Maira lalu merapikan kerudungnya
" dia duduk di meja no. 12 kak, dipojok kanan " kata Syifa
" baiklah, terima kasih ya " kata Maira
Maira dan Syifa keluar dari ruangan bersama dan langsung turun ke lantai bawah kafe.
" itu kak " tunjuk Syifa pada seorang laki laki yang menghadap ke luar
" terima kasih ya, kamu boleh kembali " kata Maira
" iya kak " jawqb Syifa
Syifa kembali ke belakang, dan Maira langsung berjalan mendekati laki laki itu.
" maaf, permisi ada yang bisa kami bantu ?" tanya Maira
" eh, iya... Maira ?" kata laki laki itu bengong
" maaf, anda kenal saya ?" tanya Maira sambil mengingat ngingat
" iya, ini aku Maira ! Aku Rizal " jawab laki laki itu
" Rizal ? Rizal mana ?" tanya Maira
" aih, kamu pasti lupa sama aku ! aku teman kamu dulu saat di SMP " jawabnya
" Rizal, teman SMP ?" gumam Maira
" oh, Rizal Putra Sanjaya ya ?" tanya Maira setelah mengingatnya
" iya, ini aku ! kamu apa kabar Mai ?" tanya Rizal mengulurkan tangannya
" alhamdulillah baik " jaeab Maira mengatupkan tangannya
" oh, maaf " kata Rizal menarik kembali tangannya
Maira mengajak Rizal duduk di kursi. Rizal adalah teman Maira saat di SMP, dia salah satu laki laki yang juga mengejar ngejar Maira saati itu. Bahkan sampai sekarang pun dia masih mengharapkan Maira menjadi miliknya, walaupun Maira tidak pernah menanggapinya karena takut disangka memberi harapan.
.
.
.
.
.
TBC