Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
36


papa, mang Udin, Azka , Fardhan dam sopir papa sudah sampai di rumah. Rupanya mama, Nisa dan Maira sudah mulai membuat nasi liwetnya, sedangkan Nisa membantu mama membuat sambal sambil menggoreng beberapa lauk yang tadi dibeli oleh Maira dan bibi. Sedangkan Maira sendiri ia sudah ada di halaman belakang membakar ayam sendirian.


" assalamualaikum " ucap papa, Fardhan dan Azka saat masuk ke dalam rumah


" waalaikumsalaam " jawab mama dan Nisa


" kok cuman berdua sih ma ?" tanya papa


" iya, kita disini cuman berdua. si bibi lagi shalat dulu, kalau anak perempuan papa lagi bakar ayam di belakang sendiri !" jawab mama


" wah, ini sambalnya pasti enak nih apalagi pake lalapan beuh, mantul !" kata papa


" iya pa, ini yang buat Nisa loh !" kata mama


" wah, gak salah ! mama sama anak anak papa emang pada pinter masak !" puji papa


" ah papa bisa aja !" kata mama merasa malu


" maaf pa, ma, kak, abang, Fardhan permisi ke kamar dulu ya !" kata Fardhan


" iya, abang juga mau ganti baju !" kata Azka


Azka dan Fardhan pergi ke kamar masing masing untuk mengganti pakaian lalu keluar kembali bergabung dengan yang lainnya yang kini sudah berkumpul di halaman belakang.


" waah, rupanya sudah siap semua !" kata Azka


" iya, bikin laper ya kan bang ?" kata Fardhan


" kamu bener banget, perut abang udah keroncongan nih !" kata Azka sambil mengusap perutnya yang sudah mulai berbunyi


" ayo makan bareng !" ajak papa


" iya ayo, semua sudah kumpul kan !" kata Azka


keluarga papa Salman makan bersama di halaman belakang, tudak ketinggalan juga sopir, mang Udin juga istrinya. Sungguh nikmat terasa makan bersama dengan keluarga yang selalu hangat dan selalu saling berbagi seperti sekarang.


Fabiayyi alaa i rabbikumaa tukadzdzibaan


" maka nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan ?"


ayat tersebut memang sangatlah benar, nikmat Tuhan mana lagi yang akan kita dustakan ? nikmat sehat yang selalu kita dapat tak pernah kita sadari kecuali saat kita sakit barulah kita sadar, nikmat kebersamaan yang tercipta seperti saat ini yang sangat sangat mahal sekali harganya. Jarang sekali keluarga papa Salman bisa berkumpul seperti ini. ah sungguh sangatlah indah, keluarga yang harmonis, dan pantas menjadi contoh.


Setelah selesai makan bersama, bibi membereskan bekas makan bersama tadi di bantu oleh Maira dan mama. sedangkan Nisa langsung di ajak istirahat oleh Azka, maklumlah bumil harus banyak istirahat dan jangan terlalu lelah. Fardhan, papa dan mang Udin masih mengobrol bersama di teras belakang sambil minum kopi.


" mang, kalau dari sini ke air terjun jauh gak ?" tanya Fardhan


" air terjun anu mana den ?" tanya mang Udin


" gak tahu tuh, kemarin kemarin Maira ngajakin saya ke air terjun. katanya seru tapi jauh dari jalan !" jawab Fardhan


" wah, disini mah banyak air terjun den ! kalau disini mah air terjun teh di sebut curug den !" kata Fardhan


" curug ?" tanya Fardhan


" iya nak, curug itu artinya air terjun !" jawab papa


" iya den, yang mamang tahu itu ada curug cigorobog, curug pasir wangi, curug sabuk sama ada lah beberapa lagi mah. Mamang tidak terlalu hapal namanya !" kata mang Udin


" wah, banyak juga ya mang ! seru kayaknya kalau datang ke tempatnya !" kata Fardhan


" jelas atuh den, kalau tidak bagus mah neng Maira gak bakalan nekat pergi ke curug atuh !" kata mang Udin


" wah, biar jelas mah tanya sama bapak aja den !" kata mang udin


" gimana pa ?" yanya Fardhan


" dulu itu Maira papa ajak kesini, nginep beberapa hari disini. Papa juga awalnya tidak tahu kalau Maira punya teman yang bisa dibilang cukup dekat dwngannya, namanya kalau tidak salah Desti dan Hari. saat berlibur itu kebetulah Hari dan Desti akan pergi ke salah satu air terjun, eh tau taunya mereka ngasih tabu Maira kalau mereka mau pergi ke air terjun, ya Maira langsung mau ikutlah. awalnya dia minta izin sama papa kalau dia mau pergi sama teman temannya ke air terjun, tapi papa larang karena papa takut dia kenapa napa. eh, tahunya dia malah kabur lewat pintu belakang dan pulang pulang pas udah sore. awalnya papa dan mama marah, tapi abangmu itu membelanya. Maira memang mempunyai jiwa petualang, maka dari itu dia selalu tertarik dengan alam walau se ekstrim apapun medannya dia pasti akan pergi. Papa harap kamu bisa memahami Maira, dia itu hatinya lembut, tidak bisa di paksa jadi tidak bisa kalau di kasih keras !" kata papa


" oh gitu ya pa ! insya Allah Fardhan akan mengerti Maira, papa doakan saja !" kata Fardhan


" eh udah makin larut aja ni ! mending kita istirahat sekarang !" kata papa


papa, Fardhan dan mang Udin kembali masuk kedalam rumah untuk istirahat. Fardhan melihat istrinya kini tengah duduk di depan meja rias, sedang mengoleskan krim perawayan wajah. Selama ini Maira selalu tampil natural tanpa make up berlebih, ia hanya menggunakan pelembab dan lipcream saja.


" sudah selesai nhobrolnya mas ?" tanya Maira


" sudah sayang ! kita tidur yuk, aku ngantuk nih !" ajak Fardhan


" ayo mas !" kata Maira sambil melangkahkan kakinya menuju ranjang dan berbaring di samping Fardhan


Fardhan dan Maira berdoa bersama lalu setelah itu Fardhan benar benar tertidur, tapi tidak dengan Maira. Awalnya Maira tidur, tapi tidak lama karena ia merasakan perutnya sakit. Maira membuka kembali matanya sambil meringis menahan sakit. Sebelah tangannya mencoba menekan perutnya untuk mengurangi rasa sakit, tapi usahanya itu tidak membuahkan hasil.


Awalnya Maira ingin membangunkan Fardhan, tapi ia melihat suamimya tertidur begitu pulas jadi tidak tega membangunkannya. akhirnya Maira keluar dari kamar dan pergi ke dapur mengambil air hangat. Keringat dingin keluar dari kening Maira, sungguh saat ini ia merasakan sakit sekali di perutnya. Setelah meminum setengah gelas air hangat Maira membawa segelas air hangat lagi ke kamar, tadinya ia akan meminum obat yang selalu di bawa kemana mana olehnya. Tapi kebetulan sekali obat yang selalu ada di dalam tas nya itu tidak ia bawa, ia lupa.


Terpaksa Maira membangunkan Fardhan untuk memintanya membeli obat atau mencari klinik terdekat.


" mas, bangun mas !" kata Maira pelan


" mas, bangun, tolongin aku mas !" kata Maira lagi sambil mendesis menahan sakit


" ada apa sayang ?" tanya Fardhan masih menutup matanya


" mas, tolong beliin obat lambung mas ! aku gak kuat mas sakit !" kata Maira lagi


" kamu sakit ? ya ampun, kita ke klinik aja ya !" ajak Fardhan langsung membuka matanya saat mendengar Maira sakit


" enggak mas, lebih baik mas beliin obat aja ya !" kata Maira


" tidak tidak, lebih baik kita ke klinik aja biar langsung di tangani dokter !" kata Fardhan


Fardhan langsung bangun dan mengambil kunci mobil, ponsel juga dompetnya. Setelah itu ia memapah Maira keluar dari kamar.


.


.


.


.


.


TBC


Happy rading...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


terima kasiih๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป


#