Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
128


" periksa data OB itu ! temukan dan introgasi dia segera " perintah Fardhan


" siap " Shandy sambil menganggukkan kepalanya


Fardhan sudah menanyakan pada montir yang ada di bengkel tentang siapa yang membawa mobil sang istri ke tempat ini. Montir itu mengatakan kalau ia menerima mobil itu dari seorang laki laki berpostur tubuh tinggi tegap, berkulit putih. Pria itu juga menyuruhnya mengantar mobil ke perusahaan Fardhan dan pembayaran atas nama Fardhan juga. Hal ini membuat Fardhan berfikir keras siapa pria yang dikatakan tadi ? bukankah yang masuk kedalam mobil Maira tadi adalah perempuan ?


" mas beneran yakin yang bawa mobil ini kesibi laki laki ?" tanya Shandy meyakinkan


" bener pak, kalau gak percaya teman saya aja juga lihat kok " kata si montir 1


" iya bener pak, yang datang bawa mobil ini kesini pria. Memangnya ada apa pak ?" tanya si montir 2


" sebenarnya mobil ini biasa dipakai istri saya. Tapi istri saya menghilang, tadi dari kantor membawa wanita hamil tapi tak tahunya mobil yang dia bawa malah sampai kesini " terang Fardhan


" begini saja mas, ini kartu nama saya. Nanti mas segera hubungi saya kalau pria itu datang lagi kemari " kata Shandy


" oh iya, satu lagi ! mobilnya saya bawa ya mas " kata Fardhan


" oh iya pak, kebetulan juga tadi kita periksa mobilnya gaka ada kendala apapun kok. Jadi silahkan bapak bawa saja " jawab montir 1


" iya pak, maaf ini untuk mas ya " kata Fardhan sambil memberikan lima lembar uang seratus ribuan ditangan si montir


" gak perlu pak, lagi pula mobilnya cuman kami periksa doang. Jadi gak usah bayar " kata si montir merasa tidak enak


" tidak mas, ini buat mas saja karena sudah jagain mobil istri saya " kata Fardhan


" tapi pak.. " kata si montir


" saya tidak menerima penolakan mas " sela Fardhan


Usai berpamitan, Fardhan membawa mobil Maira dan Shandy membawa mobil yang tadi dikendarainya. Fardhan melihat tas Maira diatas kursi dan mencoba membukanya, ternyata isinya masih lengkap. Ponsel, dompet masih utuh semua beserta isinya. Jika ini modus perampokan maka semua barang barang milik Maira akan raib, tapi ini masib utuh semua. Jadi ini motifnya penculikan, tapi pertanyaannya siapa yang menculik Maira ?


Hingga Fardhan teringat pada masalah yang masih belum terselesaikan bersama dengan Azka. Fardhan segera menghubungi Azka dan memintanya untuk datang ke kantornya segera. Entah mengapa firasat Fardhan mengatakan jika masalah ini berkaitan dengan dendam Kirana.


Fardhan kembali mengendarai mobil menuju perusahaannya. Fardhan tergesa masuk kedalam ruangannya tanpa menghiraukan sapaan dari karyawannya. Karyawan pun saling melirik satu sama lain saling bertanya 'ada apa dengan si bos !', tapi mereka semua mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.


Fardhan masuk kedalam ruangan kerjanya bersama Shandy untuk menunggu kedatangan Azka. Tak lama kemudian Azka sampai didalam ruangan Fardhan


" ada apa Dhan ?" tanya Azka langsung


" Mai hilang bang" jawab Fardhan lesu


" hilang bagaimana maksudmu ?" tanya Azka


" tadi habis dari sini Mai menghilang bang ! Bahkan mobilnya ditemukan di salah satu bengkel, niatnya tadi Mai mau langsung kerumah abang. Tapi anak buah Shandy bilang mereka kehilangan jejak " jawab Azka Frustasi


" kitq hatus tenang, kita selidiki dulu semua dan jangan mencurigakan apalagi meninggalkan jejak. Kita harus bermain rapi, aku rasa ini semua ada hubungannya dwngan mantan kekasihmu itu " kata Fardhan


" tenanglah dulu, aku akan meminta Ghaisan untuk mencari informasi. Saat ini tenanglah dulu, uruslah kantor dengan benar seperti biasa. Setelah mendapatkan informasi nanti abang akan memberi tahumu " kata Azka


Tanpa sepengetahuan Azka dan Fardhan ternyata Shandy sudah bergerak lebih cepat dibanding bosnya. panik dan khawatir membuat Fardhan mendadak menjadi bodoh. Kenapa ia tidak meminta Shandy menyelidiki hal ini sebelum ia memberi tahu Azka ? ah dasar, kadang otak akan blank saat menghadapi masalah genting seperti ini. Tapi ladang juga bekerja dengan cepat.


Azka segera kembali ke kantornya untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini yang masih ada agenda bertemu dengan klien penting. Setelah Azka pergi, Fatdhan tidak bisa mengerjakan apapun. Ia hanya bisa diam sambil menggigit jarinya memikirkan Maira, kadang ia juga mondar mandir didalam ruangannya.


" tenanglah, aku sudah meminta orangku untuk mencari informasi tentang masalah ini " kata Shandy menenangkan


" bagaimana aku bisa tenang Shan ? Maira istriku diculik dan tidak tahu dimana rimbanya sekarang " sahut Fardhan


" tenangkan hatimu dulu ! kalau kau terus panik seperti ini kau malah akan memperkeruh keadaan, dan tidak akan menemukan solusinya. Jadi tenanglah " Shandy masih berusaha menenangkan Fardhan


Betapa besar kekhawatiran dan paniknya Fardhan terhadap Maira saat ini, Fardhan tidak lupa jika istrinya masih harus menjalani pengobatan dan saat ini kondisi Maira pun ia tidak tahu.


Sedangkan didalam gudang tua terbengkalai yang berdebu dengan banyak tumpukan kardus tak terpakai bersama dua buah kursi didalamnya. Seorang wanita tengah duduk dengan tangan dan kaki terikat, tak lupa juga mulutnya yang dilakban. Wanita itu mengerjapkan matanya menatap sekeliling merasa asing dengan tempatnya berada kini.


Tak bisa dipungkiri ada rasa takut dalam hatinya, ia tidak ingin ada ditempat seperti ini. Maira mulai meneteskan air matanya saat mengingat larangan dari suaminya sebelum ia pergi tadi.


' andai saja aku menurut pada perintahmu untuk pulang bersamamu nanti, mungkin kejadian ini yidak akan pernah terjadi mas. Maafkanaku yang selalu membangkang pada perintahmu mas '


batin Maira menangis pilu


Tapi menit berikutnya Maira mencoba mempelajari tempat ini, Maira mengedarkan pandangannya meneliti denfan jeli setiap inchi dari ruangan ini. Ruangan ini terdapat dua buah jendela, yang satu jendela kecil yang berukuran 60 × 40 dengan kaca yang telah kusam. dan jendela kedua lebih rendah dari jendela pertama, tapi jendela itu dipasangi sebuah ram kawat yang cukup tebal. Selain itu hanya ada sebuah pintu yang masih kokoh. Jika Maira ingin kabur dari tempat ini maka ia harus bisa melepaskan ikatan tali ditangan dan kakinya terlebih dahulu.


Maira kembali mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang bisa membantunya membuka tali yang mengikatnya. Hingga pandangan Maira sampai pada sebuah botol kaca bening yang tergeletak begitu saja.


Maira mencoba meraih botol yang tergeletak begitu saja diatas lantai hingga akhirnya


brukk


.


.


.


.


.


TBC


Happy reading😊