
Maira dibawa langsung ke ruang IGD, Fardhan dan bi Titin tidak diizinkan untuk masuk. Keduanya hanya bisa menunggu di depan pintu ruangan.
" bi, bagaimana ini bisa terjadi ?" tanya Fardhan
" bibi juga gak tahu den, tadi pas mau masak denger suara yang jatuh. Pas bibi cari ternyata neng Maira udah gitu, tapi tadi masih sadar kok !" kata bi Titin
" ya Allah, cobaan apa lagi ini ?" kata Fardhan sambil mengusap kasar wajahnya
" tadi pas masih sadar bilang 'jangan kasih tahu abang ' katanya den ! bibi gak ngerti " kata bi Titin
" aku tahu bi, apa maksudnya ! ada lagi yang dia ucapkan bi ? " kata Fardhan
" habis itu cuman bilang 'sakit' den, lalu pingsan deh " kata bi Titin
Fardhan menundukkan kepalanya, ia sungguh sangat sangat menyesal telah menuduh Maira berkhianat. Mungkin dengan terjadinya hal ini pun ia juga ikut punya bagian menjadi salah satu sebabnya.Setengah jam kemudian dokter yang memeruksa Maira pun keluar. Fardhan dan bi Titin langsung bertanya pada dokter tersebut
" bagaimana keadaan istri saya dok ?" tanya Fardhan cemas
" istri anda sakit typus, ditambah lagi kondisi lambungnya sedang tidak baik, tekanan darahnya juga rendah. Untuk luka di keningnya kami jahi dengan empat jahitan, karena sobeknya lumayan agak panjang dan melebar. Untuk sekarang istri anda masih belum sadar, tapi sudah bisa di jenguk asal tidak mengganggu pasien saja " jelas dokter
" tapi tidak terjadi apa apa kan dengan kepalanya dok ?" tanya Fardhan khawatir
" untuk itu nanti kita lakukan CT Scan saat pasien sudah sadar, saya permisi " kata dokter
" baik dok, terima kasih " kata Fardhan
Setelah dokter pergi, bi Titin dan Fardhan masuk kedalam untuk melihat kondisi Maira. Sebelah keningnya dibalut perban, ada juga beberapa memar di wajahnya akibat benturan yang keras saat tergulimg dari tangga dan di tangannya terpasang selang infus.
" den, sebenarnya ketika aden berangkat ke Cina neng Maira jadi kurang bersemangat. Mungkin merasa kesepian, nafsu makannya juga berkurang sekali den. Bibi perhatiin paling banyak makan cuman tiga suap, itu pun jarang. Setelah aden pulang juga masih sama, pas bibi beresin meja makan makanannya utuh den hanya air minum saja yang banyak berkurang. Sebelum berangkat ke Sumedang katanya neng Maira mau makan bubur, dia minta bibi beliin. Udah bibi beliin tapi tahunya itu bubur masih aja utuh segitu, udah gitu wajahnya si neng juga jadi agak tirus, pucat lagi " kata bi Titin
" jadi Maira jarang makan bi ?" tanya Fardhan
" iya den. paling banyak makan dua kali cuman sarapan sama makan malam doang, itu pun hanya dua suap. Seringnya cuman sarapan doang den " kata bi Titin
" kenapa bibi gak tegur dia saat saya masih belum pulang. Terus kenapa bibi baru bilangnya sekarang bi ?" tanya Fardhan
" kan aden gak nanya sama bibi. Lagian bibi juga lihat sepertinya aden menghindar dari si neng " jawab bi Titin
" iya bi, tapi lain kali kalau kejadian seperti itu lagi bibi tegur aja dia atau kasih tahu saya " kata Fardhan
" iya den, bibi minta maaf " kata bi Titin
" tidak perlu minta maaf bi, ini memang sudah takdirnya saja begini " kata Fardhan lagi
Tak lama, beberapa suster datang ke dalam ruangan untuk memindahkan Maira ke ruang rawat yang sebelumnya telah di pesan oleh Fardhan. Fardhan dan bi Titin mengikuti suster yang membawa Maira. Setelah sampai di ruangan, Fardhan menyuruh bi Titin untuk pulang ke rumah. Akhirnya bi Titin pulang ke rumah setelah membujuk Fardhan agar besok siang ia diperbolehkan untuk menjaga Maira.
Bi Titin sampai di rumah saat pukul tujuh lebih lima belas, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya untuk memasak karena baik bi Titin sendiri, mang Jajang maupun security belum pada makan.
" kamu kemana tadi ? aku cariin tapi gak ketemu !" kata mang Jajang
" habis nganterin den Fardhan bawa neng Maira ke rumah sakit " jawab bi Titin
" neng Maira sakit ?" tanya mang Jajang
" iya, dia juga jatuh dari tangga tadi " kata bi Titin
" innalillahi, terus bagaimana kondisinya sekarang kok kamu pulang ?" tanya mang Jajang
" aku disuruh pulang, besok siang kesana lagi. Si neng masih belum sadar, dia kena sakit typus, lambungnya bermasalah, tekanan darahnya juga rendah kata dokter. Kita bantu doa saja semoga si neng cepat sadar dan sembuh " kata bi Titin
" ya ampun, eta meni banyak gitu penyakitnya !" kata mang Jajang
" iya, sepertinya yang kita bicarakan waktu itu benar. Neng Maira lagi ada masalah sama si aden, moodnya juga jadi berubah apalagi pola makannya. Kasihan aku sama si neng, kayaknya tersiksa banget !" kata bi Titin
" iya, kita doakan saja yang terbaik buat keduanya !" kata mang Jajang
Mang Jajang pamit ke belakang untuk istirahat sebentar sebelum makan malam, sedangkan bi Titin langsung memasak di dapur. Sedangkan di rumah sakit, Fardhan duduk disamping ranjang Maira. Ia menatap wajah istrinya memang benar apa yang dikatakan bi Titin, wajahnya tirus dan sangat pucat. Ia jadi makin merasa bersalah pada Maira, ia tidak memperhatikan Maira belakangan ini karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
" maafkan aku Mai, aku terlalu banyak bersalah padamu ! aku sudah mendiamkanmu dan membiarkanmu merasa kesepian, aku juga sudah men judge mu berkhianat. Pedahal itu tidak benar ! aku terlalu mengedepankan ego dan emosiku, tanpa tahu kondisi dan hal apa yang sedang kamu alami selama ini. Maafkan aku sayang, sungguh aku bukanlah suami yang baik bagimu ! maafkan aku. Bangunlah sayang, kita perlu bicara ! aku akan meminta maaf padamu untuk semua tuduhanku padamu, aku mohon bangunlah ! kalau kamu mau kamu bisa marahi aku, caci maki aku sesuka hatimu kalau perlu pukul saja aku !" isak Fardhan sambil menciumi tangan Maira
Bagaimana tidak menangis, itu semua terjadi juga karena kebodohanmu Dhan ! seenaknya saja menuduh istri berkhianat hanya dengan bermodalkan sebuah fhoto yang kenyataannya berbeda dengan yang terjadi, kamu terlalu bodoh kenapa tidak mencari kebenarannya dulu sebelum kamu marah ? Akhirnya sudah terbukti Mai tidak bersalah, dan sekarang kamu merasa menyesal dengan kelakuanmu itu. Ah dasar lelaki !
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading...
Jangan lupa tinggalkan jejak yups..
Terima kasiih🙏🏻🙏🏻